Buku Kenangan 90 tahun HKI

Kata Pengantar

Perayaan Ulang Tahun maupun Jubeleum bagi gereja HKI sudah menjadi kebiasaan. Di samping perayaan setiap tahun yang dinamai dengan Pesta Olop-olop, perayaan genap puluhan tahun sudah dibiasakan sejak gereja ini berusia 40 tahun. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar dan patut dilakukan sebagai pengejawantahan rasa syukurnya kepada Tuhan yang dirasakan begitu besar dalam mengiring keberadaan gereja ini.

Gereja ini lahir (istilah biasa dipergunakan untuk menyatakan keberadaan) dengan kondisi yang terbilang unik. Kenapa tidak? Biasanya, setiap permulaan keberadaan persekutuan umat Kristiani yang menamakan satu nama denominasi baru, seharusnya diprakarsai dan dibina oleh seorang hamba Tuhan, yaitu pendeta. Pendeta yang lebih mengetahui bagaimana gereja akan berada, terpanggil, berkomitmen, bagaimana ajaran, aliran, struktur pengorganisasian, dan lain-lain yang berhubungan dengan keberadaan satu denominasi gereja. Lain halnya dengan mendirikan satu jemaat lokal yang dapat dilakukan oleh siapapun umat percaya kepada Yesus Kristus. Tidak demikian dengan berdirinya HKI, yang ketika lahirnya bernama HChB.

Gereja ini diprakarsai, dibentuk dan didirikan oleh seorang tokoh yang berprofesi sebagai kepala kampung, pembela perkara, tetapi pernah belajar di sekolah guru di mana dia menerima pelajaran tentang gereja. Beliau, yang bernama Frederick Panggabean yang bergelar Sutan Malu pernah belajar di Sekolah Guru Sipoholon yang didirikan dan dikelola oleh misionaris Jerman. Kemungkinan sekali bahwa sekolah ini tidak hanya mengoperasikan bidang theologia, tetapi juga bidang-bidang lain yang berhubungan dengan pelajaran umum. Asumsi ini terangkat mengingat bahwa Frederick Panggabean setelah menamatkan sekolah dari Sekolah Guru Sipoholon, beliau ditugaskan sebagai guru sekolah. Kemudian beliau pernah diangkat Belanda menjadi pimpinan di perkebunan tingkat lokal. Kemudian diangkat sebagai pelaksana tugas kepala negeri di tingkat lokal, kemudian kembali menjadi guru sekolah, dan terakhir sebagai anggota tim pengacara orang Belanda. Ketika termasuk menjadi anggota tim pengacara orang Belanda ini, beliau mencoba merebut anggota perwakilan rakyat di Siantar (setingkat DPRD sekarang dijaman Belanda).

Jabatan-jabatan yang pernah diembannya tidak menyiratkan bahwa beliau pernah memimpin jemaat, apalagi mendirikan jemaat lokal yang baru. Namun, semua profesi yang pernah diembannya, seolah mendewasakan beliau untuk mengerti kondisi masyarakat Batak (secara khusus) dan kondisi pemerintahan kolonialis Belanda (secara umum). Sebab, siapakah rakyat Batak waktu itu yang mau dan mampu berkomunikasi dengan kolonialis Belanda, kecuali mereka yang diangkat Belanda sendiri sebagai kaki tangannya?

Frederick Panggabean ternyata mampu berkomunikasi dengan pimpinan Gereja Zending Batak yang adalah berkebangsaan Jerman, dan juga dengan pimpinan pemerintahan kolonialis Belanda sampai tingkat teratas di negeri ini kala itu. Siapakah Frederick Panggabean? Pemberontakkah dia ke RMG yang melahirkan dan membesarkan gereja di tanah Batak? Apakah dia membenci misionaris atau orang Jerman? Betulkah tuduhan sementara pihak pada masa itu, bahwa Frederick Panggabean melahirkan aliran “bidat” atau sekte pengacau di gereja Batak?

Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban untuk pertanyaan ini menjadi keunikan berdirinya HKI dan keberadaannya dari masa ke masa di tengah “bangsa Batak” dahulu dan masyarakat bangsa Indonesia sekarang ini.

Sejarah yang dituliskan dalam Buku Kenangan ini sedikit banyak dapat memberi informasi yang lebih luas bagi pembaca, dan khususnya bagi pembaca warga HKI dapat membangun komitmen lebih kuat untuk melayani Tuhan dengan keunikan yang ditaruh Tuhan dalam HKI.

Editor berterimakasih kepada semua penulis dalam Buku Ini. Sulit menggali sejarah yang bahan bacaan dan bahan informasi yang sangat terbatas. Seandainya Buku ini ditulis ketika HKI berjubeleum 50 tahun di tahun 1977, kemungkinan besar masih banyak pelaku sejarah HKI yang dapat diwawancarai, dan mungkin masih banyak bukti sejarah sejak awal pendirian gereja ini yang masih tersisa. Tapi kini setelah usia 90 tahun, dengan keterbatasan sumber informasi, pastilah hipotesa-hipotesa dan teori kemungkinan memainkan peran yang dapat membantu.

Editor juga berterimakasih kepada Panitia Jubeleum 90 tahun HKI yang memasukkan penulisan Buku Kenangan ini dalam rangkaian kegiatan perayaan Jubeleum. Semoga perayaan 90 tahun HKI dapat meningkatkan semangat juang kemandirian HKI yang lebih besar bagi seluruh warga HKI, dan semakin meningkatkan cinta HKI dan Cinta Negara Indonesia yang bersatu utuh mencapai masyarakat yang adil, makmur dan luhur.

Akhirnya, terimaksih kepada Pucuk Pimpinan HKI, Majelis Pusat, Praeses, Pendeta, dan semua pelayan HKI yang melayani di tingkat Jemaat, Resort, Daerah dan Pusat, dan tidak ketinggalan para kolega yang melayani di daerah zending. Tuhan memakai kalian semua menjadi alat di tanganNya demi perwujudan keselamatan yang telah dikaryakanNya bagi alam semesta. Terpujian Tuhan Yesus Raja Gereja.

Editor.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *