Pesan dan Harapan di Tahun 2017

Pesan dan Harapan di Tahun 2017

Pdt. Dr. Batara Sihombing, M.Th, Sekretaris Jenderal HKI

 

  1. Marilah kita puji Tuhan Yang Mahapengasih yang telah mengatarkan kita ke tahun yang baru 2017. Demikianlah tahun demi tahun berganti tetapi Tuhan Yesus Kristus tetap setia menggembalakan hari-hari hidup kita sehingga tanpa terasa tahun demi tahun kita menuju akhir zaman. Bila kita masuk ke tahun yang baru itu berarti kita meninggalkan tahun yang lama. Yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Artinya, kita mengarahkan hidup kita ke depan. Hal ini sesuai dengan pengaharapan orang yang percaya bahwa kita menuju dan menantikan langit dan bumi yang baru atau Yerusalem yang baru tempat di mana orang percaya tinggal bersama Allah Bapa di sorga. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa sebagaimana kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa maka demikian juga kita akan meninggalkan dunia dengan tidak membawa apa-apa (1 Tim. 6:7). Mengapa? Kita memang tinggal di dunia tetapi kita tidak berasal dari dunia dan menetap di dunia. Kita akan pergi ke sorga karena Tuhan Yesus Kristus telah menyedikan tempat kita di sana (Yoh. 14:1-3).

 

  1. Apa yang kita kumpulkan di dunia ini akan tinggal di dunia. Itulah sebabnya Yesus Kristus mengajak warga HKI untuk mengumpulkan harta di sorga (Mat. 6:19-21). Bagaimana caranya? Dengan berbagi apa yang kita miliki dengan orang yang membutuhkan (Luk. 12:33-34). Kalau mengumpulkan harta di dunia maka kita dapat membuka nomor rekening di bank agar harta kita tersimpan di sana tetapi mengumpulkan harta di sorga kita diajak untuk memberi. Orang yang memberi tidak pernah rugi tetapi akan berkecukupan dan bahkan berkelebihan (2 Kor. 9:6-8). Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kis. 20:35). Tentu semua kita mau berbahagia dan salah satu cara mendapatkan kebahagiaan itu adalah dengan memberi. Kalau kita menyimpan harta di sorga maka hati kita juga berada di sorga karena di mana harta kita berada di situ juga hati kita berada (Mat. 6:21). Oleh karena tujuan hidup kita adalah sorga maka mari kita tempatkan hati kita di sorga dengan lebih rajin dan setia memberi. Tahun berganti dan zaman semakin tua, maka wajar kita mendekatkan diri ke sorga sebagai tujuan hidup kita. Secara khusus di awal tahun baru kita selalu merenung tentang apa yang telah kita capai di tahun yang sebelumnya. Marilah juga merenung telah berapa rajin dan setia kita di tahun sebelumnya mengumpulkan harta di sorga dan biarlah kita lebih rajin dan setia lagi mengumpukan harta sorgawi di tahun baru tahun 2017 ini.

 

  1. Tahun 2016 baru saja kita lewati. Tahun yang HKI canangkan sebagai tahun hidup sebagai keluarga Allah (Ef. 2:19-20). Tahun di mana kita diajak untuk hidup sederajat, akrab, dan saling mengasihi sebagai keluarga Allah. Bukan hidup sebagai sekedar keluarga Batak yang banyak tuntutan dan adatnya. Kita diajak agar selama hidup kita membangun keluarga kita sebagai keluarga Allah. Salah satu yang merupakan ciri khusus di Gereja Batak, dan yang tidak ditemui di Gereja lain di dunia ini, adalah kebiasaan setiap keluarga Kristen Batak mengadakan kebaktian keluarga pada akhir tahun (31 Desember) atau di awal tahun (1 Januari) tepat jam 00.00 WIB. Sebagai keluarga kita mau mengucap syukur kepada Tuhan yang telah menyertai kita di tahun yang lama dan kita berserah kepada Tuhan agar di tahun yang baru kita tetap Tuhan sertai. Kemudian setelah itu maka anak-anak berdoa bergiliran, menyalami orang tua, dan meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan di tahun sebelumnya. Pertanyaan sebagai keluarga adalah: apakah hanya anak-anak yang meminta maaf kepada orang tua dan orang tua tidak meminta maaf kepada anak-anak atas sesuatu yang salah yang mungkin dilakukan? Sebagai manusia yang sama-sama dibenarkan oleh Allah adalah baik bila orang tua menunjukkan contoh meminta maaf agar dengan itu hidup kesetaraan dan kejujuran sebagai manusia ditunjukkan dan boleh dicontoh oleh anak-anak.

 

  1. Secara khusus pada tahun 2017 ini HKI telah mencanangkan sebagai tahun Bapak. Artinya setiap unsur anggota keluarga mendapat perhatian untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih (1 Kor. 13:13). Maka kaum Bapak pada tahun 2017 ini menjadi topik atau perhatian agar kaum Bapak dapat memaksimalkan pelayanannya sebagai imam di tengah-tengah keluarga. Memang sebagai kepala keluarga peran kaum bapak untuk mengajak segenap anggota keluarga beribadah kepada Tuhan dan melakukan misi Tuhan sangat sentral. Tugas kepemimpinan itu telah diberikan oleh Tuhan. Maka mari digunakan dengan rendah hati, jujur, dan penuh kasih.

 

  1. Dengan kaitannya terhadap pengharapan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali maka HKI perlu aktif berharap dengan mengerjakan pekerjaan Tuhan dan bukan diam pasip dan sibuk dengan aktivitas duniawi saja. Visi HKI “Menjadi Huria Yang Kuat Iman, Missioner, Modern, dan Berdedikasi” perlu kita capai dan kerjakan dengan sungguh-sungguh. Salah satu dari butir dari visi HKI itu adalah menjadi Huria Yang Missioner. Artinya menjadi Gereja pelaku misi dan tidak hanya penerima misi. Menjadi Gereja yang melayani dan tidak hanya dilayani. Hal ini sejajar dengan tujuan berdirinya HKI yaitu untuk menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar Firman saja (Yak. 1:22). Yesus juga datang ke dunia ini untuk melayani dan bukan untuk dilayani (Mat. 20:28).

 

  1. Melihat visi menjadi Gereja Yang Missioner itulah maka Pucuk Pimpinan HKI mulai tahun 2016 telah mengutus para Vikar Pendeta bermissi di daerah zending di mana HKI belum berdiri dan di mana orang Batak berserak di perantauan mulai dari Sumatera sampai ke Papua. Para Vikar zending ini berangkat dengan iman tanpa dibekali ongkos dan alamat yang dituju. Mirip dengan pengutusan Tuhan Yesus Kristus terhadap murid-muridNya dahulu (Mat. 10:5-15). Dengan melewati kesendirian, penolakan, dan pergumulan maka para Vikar melayani dengan bimbingan Roh Kudus untuk bekerja di ladang Tuhan. Pengalaman pelayanan ini membuat panggilan mereka dibentuk dan dikuatkan menjadi pelayan Tuhan yang setia dan berpengalaman di wilayah zending. Pengalaman yang diharapkan dapat membentuk mereka untuk mengasihi jemaat bila mereka nanti menjadi Pendeta Resort sebab mereka telah mengalami sakitnya dan sulitnya membentuk jemaat. Dengan demikian mereka diharapkan menjadi Pendeta yang mempromosikan kasih kepada jemaat dan bukan mempromosikan hukum. Belum lewat setahun para Vikar ini berzending tetapi buah-buah pelayanan mereka telah nampak dengan berdirinya jemaat HKI persiapan di Sampit, Pangkalan Banteng, dan Balikpapan di Kalimantan serta satu lagi di Bogor. Kemudian pos-pos pelayanan HKI berupa umat yang beribadah telah berdiri di Semarang, Kendari di Sulawesi, Papua, dan di Sumatera bagian Selatan. Kita layak bersyukur kepada Tuhan yang setia memberkati misi HKI. Dan kita juga berterimakasih kepada warga yang telah mendukung pekerjaan Vikar di daerah zending.

 

  1. Sebagai Gereja Lutheran maka HKI pada tahun 2017 ini ikut memestakan 500 tahun (5017-2017) Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther. Bersama Gereja Lutheran lain di Indonesia dan di dunia maka HKI terpanggil untuk merenungkan nilai-nilai Reformasi yang dicanangkan oleh Luther dalam membaharui Gereja agar Gereja itu bertumbuh. Inilah tugas yang disebut Semper Reformanda yang artinya membaharui diri terus menerus agar Gereja itu kudus, murni, dan berkembang. Luther telah mendeklarasikan 5 sola (= hanya) dalam Reformasi: sola Kristus, sola anugerah, sola iman, sola kitab Suci, dan sola Deo Gloria. Di sana ditekankan bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah di dalam Kristus Yesus yang diterima dalam iman, disaksikan oleh Alkitab, dan untuk kemuliaan Allah. Artinya keselamatan yang mahal itu adalah anugerah. Itulah sebabnya salah satu topik perayaan puncak 500 tahun Reformasi Lutheran dan sidang Raya LWF tahun 2017 di Namibia adalah “salvation is not for sale” (keselamatan tidak diperjualbelikan). Bagaimana HKI menghidupi tema Reformasi itu? Bagaimana pemahaman jemaat ketika membaptis anaknya? Baptisan adalah peristiwa keselamatan di mana anak kita serahkan ke dalam keselamatan dan kerajaan Allah. Bila orang tua harus membayar beweys atau sertifikat baptisan bahkan ada Gereja yang mengharuskan orang tua membayar semua hutang dan iuran ke Gereja agar anaknya dibaptis, bukankah ini dipahami pembayaran agar anaknya dibaptis? Tuhan telah memberikan keselamatan itu dengan anugerah, tanpa membayar. Mengapa Gereja HKI mempraktekkannya dengan membayar? Inilah yang perlu kita baharui, kita reformasi, agar warga Gereja memahami bahwa sungguh keselamatan yang dari Tuhan itu tidak diperdagangkan.

 

  1. Di abad ke-21 ini dan di zaman globalisasi yang mempunyai banyak tantangan maka warga HKI perlu mempunyai iman yang kuat agar jangan hanyut oleh roh-roh zaman. Di sinilah perlu warga HKI setiap hari setia membaca dan merenungkan Firman Tuhan agar Firman itu tinggal di dalam hati kita (Ef. 3:17). Firman Tuhan memampukan kita untuk melawan beragam godaaan seperti konsumerisme, hedonisme, narkoba, sexisme, prestise, mamonisme, dsb. Apalagi di zaman ekonomi neo-liberalisme sekarang kita menyaksikan orang yang miskin semakin miskin, korupsi merajalela, lingkungan rusak dan pemanasan global, maka kita perlu tetap kuat dalam iman karena orang percaya hidup oleh imannya (Rom 1:17). Dalam iman kita menyuarakan apa yang benar, adil, jujur, yang semuanya sesuai dengan kehendak Tuhan. Di samping iman yang kuat maka kita perlu juga melengkapi diri dengan berbagai ilmu kecakapan agar kita tidak tersisih di zaman yang menyodorkan kompetisi sekarang ini. Terlebih kita telah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Marilah kita hidupi tahun 2017 ini dengan pertolongan Tuhan kita Yang Mahapengasih sebab kasih setia-Nya untuk selama-lamanya. Amin.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *