YESAYA 63 : 7 – 9, KHOTBAH KEBAKTIAN MINGGU TAHUN BARU TANGGAL 1 JANUARI 2017

 

MENYAKSIKAN KASIH SETIA TUHAN

Saudara-saudara yang kekasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus !

Pertama-tama kami dari Pucuk Pimpinan HKI bersama-sama dengan Kepala-kepala Departemen, Staff, Pegawai dan Keluarga Besar Kantor Pusat HKI menyampaikan “SELAMAT HARI NATAL 25 Desember 2016 dan SELAMAT TAHUN BARU 01 Januari 2017”, kepada Semua Pelayan dan Warga Jemaat HKI.

Sebagai manusia normal, kita setuju bahwa kesetiaan itu penting. Kita mencari pasangan hidup yang setia, teman yang setia, pegawai yang setia dan sebagainya. Namun bukankah kesetiaan itu penting selama hal itu menguntungkan kita ? Kita sering mengharapkan orang lain setia, tetapi kita sendiri belum tentu setia, khususnya jika hal itu tidak menguntungkan kita.

Masih segar diingatan kita tentang peristiwa kelahiran Tuhan Yesus Kristus sang Mesias, Anak Allah.  Kisah kejamnya manusia dan kasih setia Allah yang berwujud dalam inkarnasi Kristus. Raja Herodes yang berkuasa sangat marah, terancam dan akhirnya bertindak sangat kejam, melampaui nalar kemanusiaan. Merasa tidak setia atau ditipu para Majus, dan merasa takhtanya terancam oleh kelahiran sang Mesias, dengan enteng diperintahkannya tentara membantai semua anak di bawah umur dua tahun di Betlehem dan sekitarnya ( Matius 2 : 12, 16). Sejarah mencatat Raja Herodes adalah raja yang kejam bahkan brutal. Siapapun yang dia rasa mengancam kekuasaannya akan dihabisi.

Situasi ini mirip dengan apa yang dihadapi oleh nabi Yesaya ketika ia menubuatkan tentang janji setia Allah melalui akan datangnya Mesias. Bangsa Israel waktu itu sangat korup. Ritual ibadah dijalankan dengan motif yang manipulasi, hanya syarat semata, tanpa dibarengi ketaatan dalam hidup sehari-hari. Bahkan ketika terpojok, tidak segan mereka menduakan Tuhan. Terhadap bangsa tegar tengkuk ini, apakah kasih setia Allah itu akan gagal terwujud ? Allah malah menjanjikan tindakan nyata : Ia sendiri akan turun untuk menyelamatkan dan menebus mereka. Terpujilah Allah karena kasih setianya tidak pernah berkesudahan.

Demikian juga yang kita alami satu tahun penuh kita lalui, hari demi hari, bulan berganti bulan tahun 2016 sudah berlalu, banyak hal yang kita lalui. Penderitaan akibat kemiskinan, kebodohan, kelalaian, Korupsi, kerakusan, Pembunuhan, Narkoba, Pemerkosaan, Eksploitasi penjualan anak, penyakit yang mengancam kehidupan kita, mungkin usaha kita merugi sampai harus menutupnya, ada yang di PHK, ada yang belum mendapat pekerjaan, dan masih banyak hal yang tidak dapat kita uraikan satu persatu. Sama seperti umat Israel itu bertanya apakah kasih setia Tuhan itu gagal terwujud ? Semua ini boleh membuat kita tidak setia kepada Tuhan.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupannya orang beriman juga mengalami kesulitan, dan bahkan penderitaan. Kesulitan dan penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan diri sendiri, atau disebabkan oleh sesuatu di luar dirinya, yang kemudian juga menimbulkan banyak pertanyaan. Tidak jarang, ketika penderitaan hidup datang, apalagi bila dirasakan terlalu berat, orang beriman menjadi ragu-ragu akan kasih dan kesetiaan Tuhan. Di satu pihak, orang beriman menyakini kebesaran dan keagungan Tuhan, namun pada pihak lain, ia sebagai orang beriman seperti berada pada keadaan yang tidak memungkinkannya mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan.

Dibalik semuanya itu masih banyak hal yang mungkin jarang kita saksikan dalam kehidupan rohani kita, bahwa Tuhan itu sungguh luar biasa memelihara hidup kita, boleh memasuki tahun anugerah-Nya, tahun kasih setia Tuhan tahun 2017 ini, bukan karena kekuatan dan kemampuan kita, semuanya karena kasih setia Tuhan. Dengan membaca dan merenungkan firman Allah, kita akan tahu bahwa Allah selalu memperhatikan keadaan umat-Nya, dan pasti akan menolong dan menyelamatkannya. Perhatikanlah di dalam hidupmu bahwa :

  1. Tuhan Peduli

Mengapa Tuhan memerdulikan Israel dengan menghancurkan para musuhnya ? Karena Tuhan mengasihi mereka dan sesuai dengan ikatan perjanjian-Nya, Ia menjadi Juruselamat mereka. Walaupun Allah itu murka karena mereka memberontak dan mendurhaka terhadap Allah, kasih setia-Nya yang dulu mereka nikmati tidak pernah diangkat dari mereka. Oleh karena itu, mereka berani berseru kepada Tuhan serta memanggil Tuhan sebagai “Bapa” dan “Penebus” sehingga Tuhan segera menolong mereka.

Dinamika kehidupan anak-anak Tuhan mirip dengan jatuh bangunnya umat Israel. Kita begitu mudah melupakan anugerah Tuhan dan melakukan perbuatan yang mendukakan Tuhan. Kadang kala Allah terpaksa menghukum kita dengan membiarkan penderitaan menerpa kita. Tetapi puji syukur kepada Tuhan, kasih setia-Nya tidak pernah berubah, Dia perduli dan sangat peduli. Ia tetap mengasihi kita, menyertai kita, dan membela kita terhadap perlakuan tidak benar dari musuh-musuh kita.

Kasih Allah nyata melalui darah Kristus, darah yang membasuh dosa-dosa kita, memungkinkan kita mengalami pengampunan dan merasakan kembali kasih setiaNya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3 : 16).

  1. Tuhan Setia Dan Benar

Firman Allah mengatakan bahwa Israel adalah umat-Nya. Ini terbukti bahwa Allahlah yang mengangkat mereka, menyertai mereka, menuntun mereka dan menaruh Roh Kudus dalam hati mereka. Bahkan ketika mereka memberontak, Allah sendiri bertindak menyelamatkan dan menebus mereka dalam kasih setia dan belas kasihanNya. Nabi Yesaya menegaskan ulang kepada umat Allah bahwa mereka memperoleh keselamatan bukan karena perbuatan melainkan kasih setia Allah yang besar.

Meskipun bangsa Israel berulangkali melakukan dosa, berulangkali juga Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya kepada mereka. Dari sisi kemanusiaan, pasti hal ini sulit diterima. Tetapi Allah adalah Allah, Allah benar-benar Allah yang panjang sabar dan penuh kasih setia. Pengkhianatan demi pengkhianatan Dia alami dari umat yang dikasihi-Nya, tetapi tidak membuat-Nya berhenti untuk mengasihi. Terkadang dia murka dan memalingkan wajah-Nya, tetapi itu tidak berlangsung lama, karena kemudian Dia akan bersegera menyelamatkan mereka. Allah yang benar-benar luar biasa, Allah yang begitu cepat mengampuni perbuatan-perbuatan umat-Nya, Allah yang kasihnya tidak terukur oleh apapun.

  1. Tuhan Mengangkat Dan Menggendong

Penegasan Yesaya kepada umat tentang : “Semua karena kasih setia Allah” berlaku dalam kehidupan orang beriman sepanjang masa. Semua orang beriman mengetahui dan menyakini bahwa kasih Allah yang begitu besar kepada manusia adalah wujud kepedulian-Nya kepada manusia untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman dosa. Artinya Allah sendiri telah datang mengasihi kita. Ketika kita berontak kepada-Nya, Ia mau kita bertobat. Ia akan memulihkan dan menyelamatkan kita. Dia bukan duta atau utusan, melainkan diri-Nya sendiri. Kalau demikian, maukah saudara kembali kepada-Nya di awal tahun 2017 ini ?

Allah Israel adalah Allah yang berkarya di dalam sejarah, secara khusus dalam sejarah umat pilihan-Nya. Begitu banyak kasih karunia dan kebaikan Allah yang telah kita alami sepanjang tahun 2016. Sebagai umat yang berada di bawah penindasan berbagai pergumulan hidup, harkat kita telah di tinggikan dengan penyelamatan yang Allah lakukan. Di dalam anugerah-Nya yang besar, Allah yang penuh dengan kasih dan sayang itu telah menjadikan kita sebagai umat-Nya, kita diangkat dan digendong-Nya. Allah mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya dan selalu memelihara kita untuk tahun 2017 ini.

 Renungan

Bapak/Ibu/Saudara/Saudari, Warga Jemaat dan Parhalado yang Saya kasihi di dalam nama Kristus Yesus !

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan kita sepanjang tahun 2016 sebagai orang beriman juga mengalami banyak kesulitan, dan bahkan penderitaan. Kesulitan dan penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan diri sendiri, atau oleh sesuatu di luar dirinya, yang kemudian juga menimbulkan banyak pertanyaan. Tidak jarang, ketika penderitaan datang, apalagi bila dirasakan terlalu berat, orang beriman menjadi ragu-ragu akan kasih dan kesetiaan Tuhan. Di satu pihak, orang beriman menyakini akan kebesaran dan keagungan Tuhan, namun pada pihak lain, ia sebagai orang beriman, seperti berada pada keadaan tidak memungkinkannya mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan.

Dengan membaca dan merenungkan firman Allah, kita akan tahu bahwa Allah selalu memperhatikan keadaan umat-Nya, dan pasti akan menolong dan menyelamatkannya. Sejak semula kasih Allah tidak berubah dan tidak berkesudahan sampai selama-lamanya. Sekalipun banyak orang menolak dan ingin menghalanginya, Ia tetap dengan rencanaNya, yakni membawa, mengangkat dan menggendong manusia kembali kepadaNya. Melalui manusia Yesus Kristus, umat beriman akan dikuatkan dalam menjalani kehidupannya, sekalipun tidak selalu mudah.

Dengan segala kebajikan yang besar itu, Allah tentu berhak untuk berharap bahwa kita umat yang dipilih akan merespons dengan integritas dan kesetiaan kepada-Nya. Namun nyatanya, kita berlaku tidak setia dengan melawan kehendak-Nya, pada hal Dia sendiri telah turun tangan menyelamatkan kita. Akibatnya, era kasih karunia dan belas kasihan Allah berlalu sudah. Pemberontakan itu membuat Allah berbalik melawan kita. Jadi bukan Allah yang berubah kasih setia, melainkan umat-Nya sendiri yang demikian.

Betapa indah mengingat kebaikan Allah bagi umat-Nya. Niscaya tak akan putus-putusnya kita mengagumi kuasa-Nya yang begitu hebat itu. Namun alangkah baiknya bila ingatan itu muncul bukan ketika kita sedang ditegur Allah akibat dosa yang kita lakukan, lalu kita mengenang masa-masa indah berjalan bersama Tuhan Yesus. Ingat akan kemurahan dan kasih karunia Allah seharusnya mendorong kita untuk merespons dengan tetap setia beriman dan taat kepada-Nya, sebagaimana Tuhan juga setia memelihara dan menyertai kita.

Khotbah hari ini, Tahun Baru yang penuh sukacita dan pengharapan, sebuah selingan kegembiraan di tengah-tengah beratnya beban kehidupan, dan yang akan segera lenyap pula. Berita kesetiaan Allah, kiranya sungguh-sungguh akan menjadi pelita dalam kehidupan kita dan menjadi terang di setiap langkah perjalanan kita membawa kita ke dalam suatu sukacita dan kekuatan yang baru untuk menyongsong hari depan yang lebih baik dan indah.  Ingatlah saudaraku, tanpa pertolongan Kristus apakah yang dapat kita lakukan ? Tanpa keselamatan yang dianugerahkan-Nya setiap saat, mampukah kita hidup ? Allah yang full of love and Grace (Parholong jala Parasi Roha) memberikan kita kebebasan dan kesempatan untuk melakukan apa saja. Dia tidak menuntut banyak, hanya tanggungjawab dan kesetiaan kita kepada-Nya. Mampukah kita setia ?

Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia Tuhan, perbuatan Tuhan yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan Tuhan kepada kita”. Kiranya doa pengakuan Israel ini menjadi doa pengakuan kita juga untuk melangkah dengan pasti dan menapaki tahun rahmat Tuhan, di tahun 2017 ini. Amin.

 Pematangsiantar, 01 Januari 2017, Ephorus HKI : Pdt. M. Pahala Hutabarat, S.Th, MM

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *