Pdt Ely Maruli Sihotang SmTh

Mangkangoluhon Tangiang, Mangulahon Poda ni Dainang

 Jepret.. jepret.. jepret. Took a fews photos (mengambil beberapa gambar). Seketika itu, terlukis senyuman di antara sela keriput wajahnya, serta sapaan yang hangat yang dilontarkannya kala ditemui di rumahnya di sudut Kota Siantar. Mantan Sekjen HKI, Pdt Ely Maruli Sihotang STh mulai menceritakan bagaimana kisahnya dalam dunia pelayanannya hingga ia kerap disebut pendeta inspiratif dan berani.

 Oleh: Rano Hutasoit/ Mutiha Bina Warga

Pdt Ely Maruli Sohotang yang akrab dipanggil Pdt Ely, lahir di Tumba Jae Tapteng Sumut tepatnya 67 tahun silam. Beliau telah banyak menghabiskan waktunya untuk melayani di HKI, bahkan pernah menjadi sekjen HKI pada tahun 1978-1984.

Jarak dari Kantor Pusat HKI ke rumah Pdt Ely hanya sekitar 7,8 kilometer atau dapat ditempuh dengan mobil sekitar 21 menit saja. Yah, kira-kira di kordinat 3°0’9″N   99°5’25″E. Setelah melewati Perumahan Karang Sari Permai (Kasper), jalan terus hingga beberapa kali masuk gang maka akan ditemukan rumah sangat sederhana tepatnya di pojok pemukiman warga. Posisi pintu yang terbuka seakan langsung menyambut.

Belum sempat menyapa, wanita paruh baya yang berada disamping Pdt Ely spontan menyisihkan pispot yang terletak di lantai. “Eh.. songon on ma amang. Ndang boi be mardalan amanta on. (Eh..Beginilah Situasinya. Bapak ini tidak dapat lagi berjalan,” jelas Saur boru Dolok Saribu sembari mencoba merapikan tempat tidur yang berada di ruang tamu itu.

Pdt Ely yang duduk di bangku rotan mencoba nimbrung dengan perbincangan siang itu. Tak mau mau menyerah, pendeta ini berusaha menggulurkan tangannya yang mulai kaku dan gemetar untuk memberi salam. Seperti sudah terbiasa untuk diwawancarai. Pdt Ely menjadi sosok yang selalu menginspirasi.

Ditanda amang dope tahe ise au. (Apakah bapak masih mengenal aku),” sapaan itu mengawali perbincangan siang itu. Meski tubuh tak lagi gesit, ingatan dan semangat masih segar dan tak terkalahkan. Kata demi kata yang terucap sulit terucap dengan jelas. Maklum saja usianya sudah mendekati ¾ abad.

“Do you want take picture. Apakah kamu mau mengambil foto),” ungkapnya mencoba segarkan linguistiknya. Kemampuan berbahasanya memang sudah ditekuni sejak duduk di SMA Budi Mulia Siantar hingga tamat tahun 1972 dari Fakultas Teologia HKBP Nomensen (STT HKBP Nomensen).

Sejak tahun 1973, Pdt Ely memulai pelayanan dengan vikar seperti di Sidikalang, Dolok Sanggul, Kisaran Asahan dan daerah Sianjur. Pdt Ely kemudian bertemu dengan seorang gadis cantik yang saat itu bekerja di Kolportase HKBP dan menjadi pendamping hidupnya, Sinur br Dolok Saribu. “Alani bagak do ibana (Sinur br Dolok Saribu) makana olo au da (Karena dia cantik makanya saya mau),” guraunya mengundang tawa dan mencoba memecah keheningan.

Pasangan yang diberkati Tuhan ini dikarunia 4 anak laki-laki dan 1 perempuan. Mereka Nantri Sihotang, Riston E Sihotang SSi (Pendeta HKI), Magdalena Sihotang SSi, Eric Sihotang ST, Fernando Sihotang SSos (Staff KN-LWF).

Menelusuri jejak pelayanan, Pdt Ely telah menghabiskan separuhnya perjalanan hidupnya untuk pelayanan gereja. Ditahbiskan pendeta HKI tahun 1974 dan pensiun tahun 2009 atau 35 Tahun melayani. Pernah melayani di HKI Tapian Nauli Sidikalang, pelayan di HKI Lawei Disky Aceh Tenggara, Sekjen HKI (1978-1984), Pengurus PA Zarfat HKI, pelayan di HKI Sei Agul Medan III, pelayan di HKI Simpang Padang Duri, kembali melayani ke HKI Sidikalang Kota, tahun 2000 menjadi pareses full timer di daerah Sibolga dan terakhir pensiun sebagai pelayan HKI tahun 2009.

Segudang prestasi dan terobosan telah dibangun khususnya dalam jaringan pelayanan. Bahkan kemampuan mumpuni berbahasa Inggris mengantarkannya mengikuti pertemuan atau pelatihan dengan lembaga gereja antar negara seperti beberapa kali ke India, Bali, Jerman, Singapura dan ke Jerusalem.

Kalau tidak pintar dan berani mana mungkin bisa membangun komunikasi atau kerjasama dengan lembaga gereja luar. Di zamannya, pendeta yang punya keahlian berkomunikasi dan berbahasa dengan negara luar memang tergolong langka dan itu yang dimiliki Pdt Ely.

“Saya harus akui kalau Pdt Ely itu pintar dan mempunyai kemampuan mumpuni. Kemudian berani mengambil kebijakan. Pdt Ely itu sekjen termuda di HKI. Tentu itu menjadi kekayaan tersendiri bagi amang Pdt Ely di pelayanan HKI,” aku Pdt M Saragi, saat diminta tanggapan tentang sosok Pdt Ely.

Sejenak Pdt Ely terlihat lebih serius saat melanjutkan cerita panggilan dirinya hingga menjadi seorang pendeta. “Marhite Tuhan, nungga dipasahat tu dainang, uju dibortian dope, siala nungga tung loja jala masihol dainang paimahon parbue ni bortianna. Jala disi dipagomos ikkon pandita do anak nai, jala dipargogi Tuhan do. (Panggilan Tuhan disampaikan melalui ibu, sejak aku di kandungan. Karena sangat lama ibu menanti mengandung dan menunggu kelahiranku. Sehingga ibu berpesan dan meneguhkan hatinya kalau anaknya harus menjadi seorang pendeta),” tutur Pdt Ely mengisahkan pengalaman hidup

Harapan daiang (ibu) yang mengharuskan anaknya menjadi seorang pendeta berbeda dengan sudut pandang damang (ayah). Damang berharap Pdt Ely melanjutkan profesinya sebagai guru. “Tuhan telah membimbing dan menetapkan aku menjadi seorang pendeta. Ini adalah panggilan Tuhan yang disampaikan melalui dainang,” tegas Pdt Ely sambil memegang tongkatnya.

Holan Jesus do hubaen donganku. Ai Ibana pasonangkon au. Ingkon sai tongtong tiur langkangku. Molo raphon Jesus i au lao. Molo raphon Jesus i au lao. Tano dohot laut sonang hubolus. Molo sai diiring Jesus au. Tu banuaginjang pe sai torus do boanon ni Tuhanku au. Do boanon ni Tuhanku au….

Dengan mata berbinar serta suara terbata serta penuh penghayatan, Pdt Ely menyanyikan BE 260 ‘Holan Jesus Do Hubaen’ BL 40. Beliau mengaku bahwa lagu gereja tersebut menjadi pedoman hidup Pdt Ely.

Banyak tantangan dan rintangan dalam melakukan pelayanan. Tapi yakinlah jika mengandalkan Tuhan maka semua akan dimudahkan. “Parjolo ma ta ulahon ulaon huria i, ulaon ni Tuhan i. Kita harus mengedepankan kegiatan gereja dan kerja-kerja buat kemulian Tuhan,” pesannya. (***)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *