UL. NI APOSTEL 11 : 1 – 18

Pertobatan Yang Memimpin Kepada Hidup

Konteks nats ini berakar dari janji Allah kepada Abraham. Allah berfirman:”Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (Kej 12:3). Kata kunci dalam nats kita ialah “seluruh keluarga di muka bumi”. Sejak permulaan,  janji Allah tidak hanya kepada orang Yahudi saja, akan tetapi kepada “semua keluarga di muka bumi”.  Akan tetapi, orang Yahudi tidak dapat mengerti janji Allah ini yang mengikutsertakan orang non Yahudi di dalam janji Allah kepada Abraham itu.

Ironisnya, Petrus (yang pada waktu itu belum memiliki pengertian yang sempurna tentang janji ini) berkhotbah pada waktu Hari Pentakosta dengan mengutip nubuatan nabi Yoel yang mengatakan:”..bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia” (Yoel 2:28b). Allah juga  berjanji: ”Dan barangsiapa yang berseru kepada TUHAN akan diselamatkan” (Yoel 2:32a). Kata kunci pertama ialah  “semua manusia”. Kata kunci kedua ialah “barang siapa” .  Petrus saat mengkhotbahkan Firman Tuhan ini, dia sepenuhnya masih menujukan khotbahnya kepada Gereja Yahudi saja. Akan tetapi, secara dramatis, Allah menginspirasikan  satu penglihatan  membuka hati Petrus menerima orang-orang non Yahudi ke dalam gereja (Kis 10:1-33).

Lebih lanjut diinformasikan bahwa Petrus yang masih tetap hanya untuk  gereja Kristen Yahudi saja dari pemberitaan Kornelis seorang non Yahudi (yang mereka sebut kafir) yang rajin beribadah. Diceritakan penglihatan Petrus di atas atap rumah di mana Tuhan menyuruh dia menyembelih dan memakan daging binatang yang dilarang oleh hukum agama Yahudi. Petrus menjawab:”Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan tidak tahir” (10:14). Tetapi Tuhan menjawb:” Apa yang dinayatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram” (1015).

Penglihatan ini diikuti oleh perintah Tuhan untuk menemui tiga orang, termasuk Kornelius. Petrus  mengatakan: “Engkau sendiri mengetahui, bahwa sangat bertentangan dengan hukum bagi seorang Yahudi melakukan hubungan dengan atau menemui orang di luar Yahudi, akan tetapi, Tuhan telah mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan memanggil siapapun tidak kudus atau tidak suci” (10:28). Pada saat Petrus masih berbicara kepada orang-orang kafir  (non Yahudi) ini, turunlah Roh Kudus ke  atas semua orang kafir ini dan mereka menerima pemberian Roh Kudus. Oleh sebab itu, Petrus memerintahkan mereka suapaya dibabtiskan (10:44-48).

Di sini kita melihat bahwa transsisi kepemimpinan dari Petrus kepada Paulus sedang terjadi. Trnasisi ini menggambarkan transisi dari Gereja Yahudi kepada Gereja Yahudi – non Yahudi. Petrus sebelumnya adalah Rasul yang paling menonjol dalam bagian pertama kitab Kisah rasul ini, akan tetapi pertobatan Saulus dalam Kisah Para Rasul 9 menandakan permulaan dari era baru. Kisah Para Rasul 10 memberitahukan kepada kita penglihatan Petrus yang membuka hatinya mengikutsertakan orang-orang non Yahudi ke dalam Gereja, dan orang-orang non Yahudi menerima Roh Kudus dan dibabtiskan. Kisah Para Rasul 11 (nats kita ini) mengatakan pembelaan Petrus atas hubungannya dengan orang-orang non Yahudi di Jemaat Yerusalem. Dan, apabila kita terus membaca Kisah Para Rasul 12 menceritakan Petrus yang dipenjarakan oleh Raja Herodes dan dilepaskan oleh malaikat Tuhan. Mulai dari Kisah Para Rasul 13 Saulus atau Paulus, penginjil besar kepada orang-oran non Yahudi (kafir), memegang tampuk kepemimpinan di antara para Rasul, dan hanya satu kali lagi kita dengan tentang Petrus (15:7-11).

 

PENJELASAN NATS.

1-3: ENGKAU MAKAN BERSAMA-SAMA DENGAN ORANG YANG TIDAK BERSUNAT” `      “Rasul-rasul dan saudara-saudara (adelphoi-saudara-saudara) di Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah” (ay. 1).  Gereja didirikan di Yerusalem pada hari Pentakosta, dan Yerusalem menjadi pusat kegiatan pemimpin-pemimpin Gereja pertama. Dalam Kisah Para Rasul 15 diberitakan bahwa para pemimpin gereja ini akan melakukan sidang untuk membicarakan isu keiikutsertaan orang-orang  non Yahudi di dalam gereja.  Gereja Yerusalem pada masa itu tetap menjadi gereja yang menyediakan para pimpinan gereja untuk melayani di gereja yang lebih besar dan luas.

Dalam Kisah Para Rasul 10 Allah meyakinkan Petrus untuk membuka hatinya, dan membuka pintu-pintu  gereja untuk orang-orang non Yahudi (kafir). Sekarang, Petrus harus meyakinkan pimpinan-pimpinan gereja bahwa dia telah melakukan hal yang baik.

“Ketka Petrus tiba di Yerusalem” (ay. 2a). Petrus sudah dari Kaisarea, pinggir pantai Laut Tengah, sekitar 50 mil atau 80 km Barat Laut Yerusalem (ay.1). Dia menemui Kornelius di sana dan membabtiskan dia dan orang-orang non Yahudi yang lain (10:44-45). Sekarang, dia pergi ke Yerusalem mengikuti pertemuan para pimpinan Gereja.

“orang-orang dari golongan yang bersunat  berselisih pendapat dengan dia”,(ay.2b). Apa yang dimaksud oleh Lukas dengan “orang-orang bersunat saudara-saudara (adelphoi). Jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan “Para Rasul dan saudara-saudara” adalah orang-orang bersunat yang telah percaya.  Beberapa ahli berpendapat bahwa sebutan “saudara-saudara” di sini ditujukan kepada satu kelompok dari Jemaat itu yang kepadanya Petrus melaporkan pekerjaannya. Ahli lain berpendapat bahwa Lukas menggunakan sebutan  “saudara-saudara” ini adalah memaksudkan satu kelompok konservatif yang menjamin bahwa orang-orang non Yahudi (kafir) diterima di gereja setelah lebih dahulu menerima aturan-aturan kepercayaan Yahudi.  “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka” (ay.3).  Ada dua serangan dalam pernyataan ini.  Pertama, menemui seorang yang tidak bersunat.  Hal ini diakui oleh Petrus pada saat dia menemui Kornelius, “engkau sendiri mengetahui, bahwa sangat bertentangan dengan hukum bagi seorang Yahudi melakukan hubungan dengan atau menemui orang di luar yahudi” (10:28a). Kedua, makan bersama dengan orang yang tidak bersunat. Makan bersama dalam satu meja dengan orang lain adalah suatu cara untuk menunjukkan penghargaan dan penerimaan  kita kepada  mereka. Yahudi yang taat tidak akan pernah menyatakan penghargaan atau penerimaan kepada orang non Yahudi (kafir). Orang Yahudi sangat loyal terhadap sesamanya, dan selalu siap sedia menunjukkan belas kasihan, akan tetapi bagi orang non Yahudi,  mereka hanya  merasa bermusuhan dan kebencian. Lebih dari situ, bagaimana orang Yahudi meneliti makanan yang mereka makan, apakah sudah sesuai atau tidak dengan hukum mereka jika mereka makan bersama dengan orang non Yahudi.  Dengan perkataan laim, bagi mereka makanan orang non Yahudi tidak tahir.

Sikap orang Yahudi ini menunjukkan kepada kita bahwa mereka mengamati orang yang tidak bersunat  secara berlebihan, adalah menjadi masalah bagi mereka sendiri.  Orang-orang Yahudi yang taat beragama ini, telah mengidentifikasi dirinya terpisah dari orang-orang yang tidak bersunat dan telah mematuhi hukum-hukum makanan Yahudi sepanjang hidup mereka.  Mereka juga rajin beribadah kepada Tuhan, dan mereka mempercayai bahwa mereka telah melakukan kehendak Tuhan.  Mereka mengutip nats-nats firman Tuhan untuk mempertahankan keyakinan mereka. Semua budaya mereka mendukung kepada keyakinan mereka ini.  Mereka berfikir bahwa tidak ada alasan yang cukup untuk merubuhkan “pemisah” yang sudah terbiasa ini, bahkan mereka berpendapat ada banyak alasan untuk tidak melakukannya.

Sangat menarik bagi kita bahwa “saudara-saudara bersunat ini” tidak mengangkat isu babtisan bagi orang-orang non Yahud atau kafir. Mereka lebih mementingkan pelaksanaan nilai-nilai tradisi Yahudi yang mempertahankan perbedaan mereka dari orang-orang non Yahudi dan meneliti hukum-hukum makanan Yahudi dari pada arti babtisan Kristen.

 

PENJELASAN PETRUS (4-14).

“Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya: “Aku sedang berdoa…dst (ay` 4-15). Petrus tidak melakukan pembelaan di hadapan saudra-saudaranya yang bersunat atas apa yang telah dia kerjakan. Tuhan telah menciptakan suatu situasi yang membawa perubahan kepada Petrus berhubungan dengan orang non Yahudi (kafir). Petrus meyakini bahwa saudara-saudaranya yang bersunat akan ikut berubah, apabila telah mendengar bahwa Tuhan menerima orang-orang non Yahudi (kafir) dan menugaskan Petrus untuk melakukan hal yang sama.

Ayat 4-14 ini adalah ceritera aslinya dari 10:1-33 yang diceritakan kembali dengan beberapa variasi. Dalam ceritera aslinya tidak disinggung enam orang saudara (ay.12). Saudara yang enam ini adalah sebagai saksi terhadap hal-hal yang sedang dilaporkan oleh Petrus kepada orang-orang bersunat di Yerusalem. Jadi dengan dia menjadi tujuh orang. Menurut William Baclay, “dalam hukum Mesir, yang juga orang Yahudi kenal, tujuh orang saksi sudah cukup untuk membuktikan suatu kasus”. Demikian juga Kornelius, dalam ceritera aslinya, tidak memberi komentar atas keselamatannya dan keselamatan orang-orang non Yahudi (kafir) yang bersama dengan dia (ay.14; bnd 10:30-33).

 

  1. AKU TIDAK DAPAT MENCEGAH ALLAH (15-17).

“Dan ketika aku mulai berbicara, turnlah Rohkudus atas mereka..dan seterusnya (15-17).

Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka (15). Pemberian Roh Kudus adalah pekerjaan Allah, bukan pekerjaan Petrus. Pemberian Roh Kudus ini adalah pertanda yang sangat jelas bahwa Allah menerima orang-orang non Yahudi (kafir).

“Sama seperti dahulu ke atas kita” (ay.15b). Roh Kudus memenuhi orang-orang kafir ini sama seperti Roh Kudus memenuhi para Rasul pada hari Pentakosta (Kis 2:4).

“Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membabtis dengan air, tetapi kamu akan dibabtis dengan Roh Kudus” (ay.16). Ini adalah petunjuk kepada janji Yesus di dalam Kisah Para Rasul 1:5. Janji Yesus ini dipenuhi pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), akan tetapi Allah telah memperluas janji itu kepada Kornelius dan kepada orang-orang non Yahudi yang bersama dengan dia  dalam Kisah Para Rasul 10 (ay.15).

Adalah juga sangat menolong mengingat bahwa Yesus, sebelum kematian-Nya, mengatakan:“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatkan kepadamu” (Yohanes 14:26). Inilah yang terjadi pada Petrus pada saat dia menerima penglihatan dari Allah. “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (ay.17). Inilah kunci kepada argumentasi Petrus. Allah telah memberkati Kornelius bersama semua orang non Yahudi (kafir) yang bersama-sama dengan dia seperti Allah telah memberkati Petrus dan Rasul-rasul pada hari Pentakosta dengan pemberian Roh Kudus. Allah menjadikannya sangat jelas bahwa Dia mencintai orang-orang non Yahudi (kafir) dengan cinta yang sama yang telah Dia nyatakan kepada orang Yahudi Kristen. Menolak menerima orang-orang non Yahudi (kafir) adalah menghalangi Allah dan melawan kehendak-Nya. Petrus tidak dapat melakukan itu, dan implikasinya, “saudara-saudara yang bersunat di Yerusalem juga tidak dapat melakukannya. Aktor utama dalam pertobatan Kornelius dan orang-orang non Yahudi (kafir) yang bersama-sama dengan dia adalah Allah sendiri.

 

  1. MEREKA MENJADI TENANG DAN MEMULIAKAN ALLAH (ay.18).

“Ketika mereka mendengar hal ini, mereka menjadi tenang lalu memuliakan Allah, katanya:”Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”(ay. 18).

“Ketika mereka mendengar hal ini, mereka menjadi tenang lalu memuliakan Allah (ay18). Respon pertama dari “orang-orang percaya yang bersunat” ini adalah diam untuk merenungkan berita baru yang sangat berarti yang baru mereka dengarkan. Setelah itu, sikap diam mereka cepat berubah menjadi mengangkat pujian bagi Allah, dengan mengatakan:“Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup”(ay.18). Perhatikanlah kata-kata :” Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga!”. Kita melihat adanya keraguan dalam diri mereka. Bukanlah hal yang luar biasa jika mereka ragu. Sekarang, dengan cara drastis, Allah telah menghapus tuntutan memisahkan diri dari orang-orang non Yahudi (kafir) yang telah terjadi berabad-abad. Allah telah membuka kunci pintu yang mengunci orang-orang non Yahudi (kafir) melalui sejarah orang Yahudi. Yang paling penting, dalam penglihatan Petrus ini dan penerimaan orang-orang non Yahudi (kafir) masuk Gereja ialah bahwa Allah telah menyediakan jalan mengabarkan Injil “sampai ke ujung bumi” (1:8). Isu ini akan diangkat lagi dalam perdebatan terkahir pada konfrensi atau sidang rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem (pasal 15).

 

III. RENUNGAN.

Tema dari nats khotbah ini seperti dutuliskan di atas adalah “Pertobatan Yang Memimpin Kepada Hidup” atau “Hamubaon ni roha asa mangolu” yang dikutip dari ayat 18 akhir.

  1. Rumusan ini adalah firman Tuhan, maka berlaku kepada semua orang di bumi tanpa kecuali. Untuk tujuan inilah Allah senantiasa bekerja dengan memilih dan mengutus Gereja di bumi ini.
  2. Gereja diutus untuk pergi mengabarkan Injil, mengajar dan membabtis setiap orang, tanpa mebedakan warna kulit, budaya, bahsa, kewarganegaraan, dan sebagainya, di bumi ini. Mengapa? Karena melalui Injil yang diberitakanlah Roh Kudus bekerja memberikan anugerah-Nya dalam diri setiap orang yang mendengarkan firman Tuhan, seperti Kornelius dan kawan-kawannya dalam nats kita ini.
  3. Gereja di dalam melaksanakan tugasnya ini, menghadapi banyak tantangan dan hambatan. Tantangan utama kita lihat dalam nats ini justru datang dari diri orang-orang yang ditugaskan itu (Gereja Kisten-Yahudi). Gereja Kristen-Yahudi ini tidak bertindak sebagai hamba yang melayani Tuhan dan melayani sesamanya. Warga Jemaat ini bertindak layaknya penguasa atas anugerah Allah yang menginginkan keselamatan setiap orang. Mereka, walaupun sudah menjadi Kristen, akan tetapi masih terikat dan patuh pada hukum-hukum dan adat-istiadat mereka yang mengidentifikasi dirinya lebih sempurna, berbeda dan terpisah dari orang lain. Ibadah dan firman Tuhan yang mereka kutip selalu diarahkan untuk mempertahankan “keterpisahan” mereka dari bangsa-bangsa lain.
  4. Allah, didorong oleh cinta kasih-Nya yang mengherankan, secara dramatis dan gradual, menuntun Jemaat muda ini untuk membuka diri terhadap bangsa lain dan membuka pintu Gereja bagi mereka. Mula-mula dari diri Petrus melalui penglihatan dan kemudian, melalui kesaksiannya kepada Jemaat Yerusalem, hati warga Jemaat ini juga menjadi terbuka, dan memuji Tuhan dengan mengucapkan tema kita ini :”Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup. Amin.

(Pdt. Dr. Burju Purba).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *