ULOS BATAK: Ditinjau dari perspektif Etno-Religi

(Oleh: Pdt. Dr. H.R. Panjaitan)

Pengantar

Banyak perbincangan tentang Ulos Batak ini di tengah masyarakat Batak akhir-akhir ini, tetapi (mungkin) baru kali ini ada pertemuan formal yang membicarakannya. Terimakasih kepada pihak DPC FPPI Pematang Siantar yang meyelenggarakan pertemuan ini, sehingga ada forum yang secara formal membicarakan topik ini, dan (mungkin) sedikit banyak dapat menjadi refrensi bagi perbincangan tetangan Ulos Batak.

Saya mencoba memberikan pemahaman apa yang saya dapatkan mengenai ulos ini, meskipun waktu yang diberikan ke saya hanya 2 hari.

Topik perbincangan adalah mengenai Ulos ditinjau dari persfektif Etno-Riligi. Apa yang saya sampaikan di sini adalah melulu merupakan hasil olah dan penelitian saya untuk melengkapi kebutuhan referensi saya pribadi. Karena itu, meskipun saya sebagai anggota masyarakat Batak dan sebagai pelayan gereja, saya tidak berhak untuk mewakili kedua unsut itu, kecuali hanya sebatas sumbang saran dari kedua unsur itu.

Sekilas Mengenai Nenek Moyang Orang Batak

Tidak banyak indikator yang dapat menjelaskan realitas masyarakat Batak sekarang ini yang diwarisi dari masyarakat Batak kuno yang diperkirakan sudah ada sejak sekitar 3600 tahun yang lalu atau lebih. Fakta yang ada haruslah kita olah sesuai dengan logika berpikir, sedapat mungkin dihubungkan dengan konteks pada jaman perjaman, sehingga kesimpulan kita dapat mendekati pemahaman keasliannya.

Pernah saya baca buku koleksi tulisan tentang Batak di Perpustakaan VEM di Jerman. Kemudian juga saya baca dokumen “collection SMR” (Collection Sutan Martua Raja) yang dihimpun oleh alm.Let.Kol. Mangaraja Onggang Parlindungan, Tahun 1964. Collection ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh 4 orang selama 90 tahun yaitu dari tahun  1851 s.d 1941. Mereka bernama: Willem Iskandar (Mandailing); Guru Batak (Padang Sidimpuan); Sutan Martua Raja (Pematang Siantar) Resident Poortman (Sipirok). Kedua sumber ini menuliskan bahwa kira-kira 3600 tahun yang lalu (mungkin sejaman dengan masa keluaran bangsa Israel dari perbudakan di Mesir), sekumpulan masyarakat dari India bagian Timur Laut eksodus meninggalkan daerahnya akibat bencana alam yang sering terjadi. Bencana dimaksud mungkin banjir es dari pegunungan Himalaya atau pengaruh semakin meluasnya gurun Gobi di Tiongkok. Kondisi ini sering mengancam kehidupan masyarakat. Mereka eksodus dengan menyusuri sungai, akhirnya tiba di muara sungai di laut Andaman (nama India, Himalaya dan Andaman adalah nama-nama yang kita ketahui kemudian hari).

Setiba di muara sungai di Laut Andaman, sebagian anggota kelompok meneruskan perjalanan ke sebelah Barat, dan akhirnya tiba di pulau Madagaskar. Yang lain mengarungi Laut Andaman, akhirnya tiba di Myanmar sekarang. Sebagian anggota kelompok tinggal di wilayah darat yang baru itu, dan menyusuri sungai masuk pedalaman Myanmar dan mereka tiba di wilayah yang sekarang ini dikenal dengan nama: Karen. Merekalah kemudian menjadi suku Karen. Beberapa abad tinggal berkomunitas di Karen, kemudian di antara mereka sendiri terjadi perebutan kekuasaan. Kelompok yang kalah kemudian terusir dari wilayah mereka. Mereka kembali ke laut dan kemudian mencari pemukiman yang baru.

Gelombang pertama yang keluar dari Karen menjelajahi pulau-pulau di sebelah Barat Sumatera mulai dari Nias sampai Mentawai dan Enggano. Gelombang kedua berlayar ke sebelah Selatan yang kemudian tiba di Sulawesi/Toraja dan lainnya meneruskan pengarungan laut hingga ada yang tiba di Filipina yaitu Pulau Lawan dan Pulau Luzon. Hingga kini, mereka yang tiba di Filipina menamakan suku mereka Bataq Locano. Gelombang ketiga ada yang tiba di muara  sungai Simpang Aceh-Singkil. Mereka terus menjelajah ke sungai Simpang Kiri dan tiba di Kotacane tempat mereka berdiam secara menetap. Merekalah suku Gayo dan Alas yang tidak pernah mengakui sebagai orang Aceh. Kelompok yang lain ada tiba di muara Sungai Sibundong di Sorkam Tapanuli Tengah. Rombongan ini menjelajahi hingga ke pedalaman dan tiba di Humbang dan terus ke tepian Danau Toba di lereng gunung Pusuk Buhit. Mereka membangun kampung tempat tinggal permanen yang dinamai dengan Sianjur Sagala Limbong Mulana. Dalam perkembangan selanjutnya, Sianjur Sagala Limbong Mulana yang menjadi pusat kerajaan dan pusat penyembahan, ditaklukkan kelompok lain dari antara mereka. Sianjur Sagala Limbong Mulana akhirnya diganti nama menjadi Tara Bunga.

Baik yang tiba di Gayo dan Alas, maupun yang tiba di Pusuk Buhit, sejarah menggolongkan mereka sebagai Proto Melayu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *