Sejarah Kependetaan di HKI (HChB) oleh Pdt. TJ. Sitorus

Saudara – saudara pendeta HKI yang terhormat !

Pucuk Pimpinan kita HKI meminta kepada saya untuk menyusun serta menguraikan sejarah perkembangan  pada jabatan ke-pendetaan di dalam HKI sejak dari Huria Christen Batak (H.Ch.B) dahulu, untuk disampaikan pada rapat pendeta saat ini.

Maka di sini saya coba dan mulai mengumpulkan bahan-bahan/ catatan-catatan yang ada pada saya, serta dari pengalaman saya sendiri selama bekerja melayani di dalam Gereja kita Huria Kristen Indonesia.

Dalam saya menguraikan hal ke-pendetaan di dalam HKI, yang banyak menyangkut pengangkatan-pengangkatan pendeta. Tetapi saya kira perlu juga saya terangkan serba ringkas beberapa keterangan datangnya Missi/ Zending di tanah Batak, dan kemudian lahirnya gereja-gereja yang berdiri sendiri di kalangan orang-orang Batak di perantauan dan berdirinya Huria Kristen Indonesia (HChB) yang kita cintai, yang didalamnya kita telah menyerahkan diri kita untuk melayani.

  1. Tahun 1842 : Gereja Baptis mengutus dua orang Missionaris ke tanah Batak yaitu : tuan Burton dan tuan Wardt, tetapi tidak berhasil, mungkin karena kurang mengenal budaya-sosial orang Batak. Hubungan dengan pengutusnya kurang lancar, sebab hubungan komunikasi yang putus-putus.
  2. Tahun 1834 : (10 tahun kemudian), dua orang missionaris terbunuh di Sisangkak Lobupinang (kira-kira 18 km dari Tarutung area Sibolga), yaitu utusan badan Missi Amerika (Boston) bernama Munson dan Lyman, yang mati terbunuh pada tanggal 26 Juni 1834.
  3. Missi dari negeri Belanda : diutus dari Betawi (Jakarta sekarang) yaitu : tuan Jungkuhn, dan waktu tiulah pemerintah Belanda mengutus tuan Van Der Tuuk, untuk menyelidiki dan mempelajari bahasa dan tulisan Batak, sekitar tahun 1835.
  4. Juga tuan Van Asselt, utusan Missi negeri Belanda yang diutus tahun 1857.
  5. Reinsche Zending di Jerman mengutus pendeta Heini dan Klamor ke Kalimantan dan Zending Genootschap dari negeri Belanda, sudah memulai missinya di Sipirok.
  6. Karena pekerjaaan Heini dan Klamer di Kalimantan tidak mendapat sambutan, mereka diusir dari tempat itu dan pergi ke Betawi. Dari betawi ada kata sepakat dengan Mission Belanda, maka mereka berangkat ke Sumatera (Sipirok)
  7. Tanggal 7 Oktober  1861 : pekerjaan Zending Genootschap (Belanda) ditimbang-terimakan kepada Reinsche Zending (Jerman).
  8. Reinsche Zending mengutus Ludwig Nommensen ke Tanah Batak pada tahun 14 Mei 1862. Sampai di Padang, dari sana ke Sipirok, sekalipun ada maksudnya untuk memulai pekerjaannya di Ranbe-Barus, tetapi tidak diijinkan, dia berjalan kaki dari Barus ke Tanah Batak.

Akhir tahun 1863 sampai di Sipirok, berangkat dari Sipirok ke Tarutung dan sampai di Tarutung tanggal 11 Nopember 1863, setelah lebih dahulu ada kata sepakat dengan tuan Heini dan Tuan Klamer di Sipirok. Nommensen kembali lagi dari Tarutung ke Sipirok, baru pada tanggal 7 mei 1864 sampai lagi di Tarutung untuk memulai missi penginjilannya. Setelah Reinsche Mission Gezelschapmengutus beberapa orang pendeta dari Jerman, sebagai pendeta zending mereka langsung bertanggung jawab dalam usaha missinya/ pekerjaannya ke R.M.G. baru sekitar tahun 1881 mereka bergabung di dalam pimpinan Ephorus Dr.I.L.Nommensen, makin pesatlah perkembangan Kerajaan Allah di Tanah Batak dan hampir segala pendeta-pendeta Jerman tersebut, benar-benar menyerahkan diri kepadaTuhan untuk menyebarkan Injil Kristus, supaya seluruh orang Batak menjadi warga kerajaan Allah.

Mereka melatih di tiap-tiap tempat untuk menjadi penatua pada jemaat yang baru berdiri dan mengadakan  kursus-kursus menjadi guru Panalong, yang nantinya menjadi guru huria dan pendeta.

Mendirikan sekolah seminari, pertama di Parausorat Sipirok, kemudian di Pansurnapitu dan terakhir ke Sipoholon yang menjadi tempat per-samaian pelayan yang menjadi Guru Huria dan Pendeta.

Setelah Dr.I.L.Nommensen mangkat di Sigumpar, maka beliau digantikan oleh :

  1. Dr.J.Warneck  (tahun 1918 – 1932)
  2. Dr.P.Landgrepe (tahun 1932 – 1936)
  3. Dr.W.F.Verwiebe (tahun 1936 – 1940)

Pada waktu Dr.J.warneck, disitulah mulai pengasuhan R. Zending makin seperti cara-cara memerintah, maka disitu pulalah timbulnya gerakan-gerakan orang Batak yang telah buka mata meminta Gereja supaya berdiri sendiri tahun 1924.

Dalam tahun 1925, makin  pesat pemikiran orang-orang terkemuka dari suku Batak di perantauan memikirkan perlunya Gereja Batak harus berdiri sendiri.

Hal ini telah disetujui raja-raja orang Kristen di Tanah Batak dan pendeta-pendeta Zending Batak Pribumi (pendeta Batak).

Sebutan pada waktu Dr.J.Warneck pun telah sangat berbeda. Kalau pendeta orang Jerman (orang Barat) disebutlah tuan pendeta, dan kalau orang Batak disebutlah pandita, suatu sebutan yang sangat berbeda walau sama-sama pria.

Tetapi gerakan ini tidak memenuhi sasarannya dan akhirnya tidak terus hidup. Oleh sebab itu, timbullah gerakan yang berkelompok-kelompok di perantauan sekitar tahun 1927. HChB di Pantoan Pematangsiantar, Mission Batak di Medan, HKB (123) yang menjadi HKI sekarang di Medan sekitar tahun 1928, PKB di Jakarta tahun 1927, BPG tahun 19929 di Palembang setelah HChB berdiri sejak 1 Mei 1927, pelayanan sakramen suci kurang dipikirkan, karena jabatan pendeta belum ada pada waktu itu. Sampai pada tahun 1932 belum ada yang menjadi pendeta di HChB, makanya kerap kali Guru Huria yang memberikan Permandian-suci na hinipu kepada anak-anak.

Tahun 1931     : pemandian suci diadakan di Huta Gurgur oleh jemaat itu sendiri, dilaksanakan oleh Guru Huria karena masih belum ada Pendeta HChB. Pemerintah Belanda mendenda F.17.

Tahun 1932     : dicari seorang Pendeta Batak (Pdt. Willy Sinaga), beliaulah yang membaptiskan anak-anak HChB dari seluruh jemaat ke jemaat Juma Saba Simpang II. Pendeta ini tidak sampai lama bertahan dalam HChB, karena gaji tertentu belum ada dari gereja. Pada waktu itu peraturan (Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga) HChB belum rumpung karena belum ada pengakuan dari arti gereja.

Nafkah pendeta hanya dari pemberian hamauliateon dari anggota-anggota jemaat. Mulai tahun 1929 setelah terbentuknya Pucuk Pimpinan yang permanen dan penyusunan AD/ ART Huria Kristen Batak (Zending) Genootschap HChB.

Sekitar tahun  1932 itu juga HChB Hutabarat Sosunggulon memanggil Pdt. Kenan Hutabarat yang pada waktu itu sudah melayani Mission Batak di Medan, karena pada HChB tidak ada lagi pendeta yang melayani sakramen. Sejak berdirinya HChB di pantoan 1 amei 1927, berdiri pulalah beberapa jemaat HChB di beberapa tempat, seperti : di Dolok Merangir, Sinangap Baris, Juma Saba Simpang II, Lumban Tonga-tonga, Hutagurgur, Lumban Siagian, Tornagodang, Aek Nauli, Pulo Bayu, Pardomuan Tanah Jawa, Marihat Baris, ada sekitar 20 jemaat yang berdiri sampai pada pertengahan tahun 1932, tetapi pendeta yang menetap belum ada di HChB. Lain halnya dengan HKI/ Huria Kristen Batak 123 di Medan, yang pada waktu itu belum lagi mengadakan hubungan ke Pantoan. Mereka di sana telah mengangkat dan menabalkan Pdt. Gayus Simorangkir menjadi Pendeta, sekalipun beliau masih tetap bekerja di Escomto Bank, karena HKI Medan sekarang baru resmi menjadi satu kesatuan dengan HChB yang berpusat di Pantoan Pematangsiantar mulai tanggal 15 Mei 1932 beserta jemaat Kisaran.

Setelah tersusun AD/ ART – HChB, mulailah bergiat untuk meminta pengakuan dari pemerintah Hindian Belanda, yang seperti telah kita ketahui, baru pada tahun 1933 pengakuan itu diberikan dengan Beslit No. 29 tanggal 27 Mei 1933; Rechtpersoon dan Beslit yang dapat menjalankan sakramen, No. 17 tanggal 6 Juli 1933.

Sesudah Rechtpersoon diterima, maka sekitar tahun 1933 itu juga Voorzitter HChB, beliau adalah keluaran Seminari Sipoholon. Inilah permulaan jabatan Pendeta yang menetap pada HChB yang melayani sakramen. Pada waktu itu kerap kali dia sampai empat jemaat yang berdekatan dikumpulkan untuk menerima pembaptisan anak-anak, oleh karena sudah beberapa tahun umur anak-anak belum  dibaptiskan.   Sehubungan dengan sangat perlunya pelayanan bagi HChB, maka pada tahun 1933 dibukalah seminari HChB di Sosorlodang, Hutanagodang Porsea yang dipimpin oleh seorang peranakan Jahudi-Suriname bernama tuan H.Everst, yang pada mulanya terdiri dari dua bagian, yaitu :

  1. Sekolah Pemimpin Guru (SPG) lamanya pendidikan empat tahun, yang menjadi Guru Huria dan sekolah yang serupa dengan sekolah Guru Zending di Sipoholon, sekaligus menerima tiga kelas, masing-masing 40 siswa tiap-tiap kelas.
  2. Kelas II, yang diambil dari orang-orang yang sudah tamat dari sekolah – sekolah perawat, sekolah tukang dan mulo kelas II yang telah menduduki 2 tahun lewat dari Vervolgschool.
  3. Untuk kelas I, yaitu siswa yang telah tamat dari Vervolgschool.
  4. Kelas persiapan, yang telah pernah menduduki kelas V Vervolgschool. Kesemuanya ini, diuji lebih dahulu di dua tempat, di Simpang Dua dan Lumbang Siagian (Tarutung).
  5. Sekolah Theologia (Sekolah Pendeta), yaitu siswa yang tamat dari mulo atau sederajat.

Tetapi hanya karena siswa untuk ini hanya 8 orang saja dan tuan Everst sewaktu pergi ke Jawa, belum satu tahun berjalan sekolah itu, tuan Everst meninggal dunia, sekolah Theologia ditutup maka mereka ini digabungkan ke kelas III SPG.

Karena perselisihan antara bapak F.P.Sutan Malu dengan bapak Aristarkus Hutabarat, HChB pecah dua, akibatnya SPG juga pecah pada awal tahun 1935; sebagian dibuka/ dipindah ke Pantoan yang dinamai Bybel Institunt Onderwys (BOI), keduanya sama-sama menamatkan guru. Tamatan dari sekolah ini, sudah hampir 150 orang yang diangkat menjadi  guru pada permulaannya di HChB.

Tetapi setelah pemerintah Jepang yang disusul dengan pemerintah kemerdekaan R.I. guru – guru tersebut kebanyakan pindah menjadi guru pemerintah, tidak berapa orang lagi yang masih bertahan guru di HChB (HKI), bahkan telah banyak yang tidak lagi menjadi anggota HKI.

Penceramah sendiri, Pdt. D. Panjaitan, Pdt. E. Sinaga, Pdt. M.D. Tampubolon, Drs. M.B.Tampubolon, Gr. E. Siregar dan lain-lain, adalah siswa-siswa yang tamat dari sekolah tersebut di atas.

Pada tahun 1934, ditabalkan 4 orang dari guru jemaat menjadi Pendeta, yaitu :

Pdt. Pipin Simanjuntak, Ernist Panggabean, Willem Sihombing dan Christian Lumbantobing. Mereka inilah yang melayani HChB seluruhnya yang pada waktu itu sudah berjumlah 90 jemaat, tetapi semua pendeta ini sudah meninggalkan HChB setelah Indonesia Merdeka.

Dengan bertambahnya jemaat sampai dengan tahun 1939, pendeta HChB makin bertambah pula ditabalkan dari antara guru – guru jemaat dan Evangelist yang tertua, setelah menerima kursus untuk jabatan itu dari Pucuk Pimpina di Pantoan.

Dari tahun 1940 untuk pengangkatan pendeta, makin disempurnakan, karena segalah yang dipilih menjadi pendeta harus menjalani kursus pendeta tersebut 6 bulan.

  1. Pada tahun 1940, menamatkan/ menabalkan 6 orang pendeta yang dipimpin Ds. R.S. Tjokrosusilo.
  2. Pada tahun 1942, mulai mengadakan sekolah pendeta 2 tahun, ditabalkan tahun 1944 sebanyak 14 orang pendeta, termasuk penceramah (Pdt.T.J.Sitorus), juga dipimpin oleh Ds. R.S. Tjikrosusilo.

Sekitar tahun 1944, terjadi lagi perselisihan dalam tubuh HKI (Pucuk Pimpinan) dan pada akhir tahun 1946, mengadakan Synode Kesatuan antara Tapanuli-Sumatera Timur-Aceh, yaitu Synode HChB yang ke-19 di Patane Porsea, serta memperluas nama menjadi HKI pada tanggal 16-17 Nopember 1946.

Kantor Pusat HKI di tetapkan di jalan Marihat No. 109 Pematangsiantar. Pada Synode yang ke-19 lah digariskan agar HKI berdaya upaya mencari hubungan dengan gereja-gereja tetangga di dalam dan luar negeri.

Pada masa itu jugalah untuk mendirikan Kantor Pusat dan rumah Ketua Pucuk Pimpinan HKI, walaupun darurat (9×6 meter) rumah dan kantor.

  • Sekolah Pendeta dibuka lagi pada tahun 1952 dan menamatkan/ menabalkan 11 orang pendeta, langsung dipimpin ketua PP-HKI Pdt. T.J. Sitorus, dibantu oleh Pendeta Gereja tetangga.

Demikianlah HKI berturut-turut mengadakan sekolah pendeta melihat kebutuhannya untuk melayani di Gereja, yaitu :

  1. Yang ditabalkan tahun 1961, sebanyak 20 orang pendeta.
  2. Yang ditabalkan tahun 1967, sebanyak 17 orang pendeta.

Pertanyaan : kenapa HChB (HKI) harus membuka sekolah pendeta, sedang seminari Sipoholon ada tempat persamaian pelayanan kerajaan Tuhan?.

Memang kita telah mengetahui bahwa hubungan gereja HChB (HKI) pada waktu itu masih belum ada dengan gereja tetangga, terlebih-lebih dengan HKBP, kerana pengaruh itulah merembes kepada gereja tetangga lainnya, maka anak-anak HKI tidak diterima masuk menjadi mahasiswa ke STT Jakarta dan Fak.Theologia HKBP Nommensen di Pematangsiantar.

Di bawah ini, nama-nama yang mengikuti sekolah pendeta HKI, sejak dari I s/d VI.

  1. Kursus pendeta tahun 1940 :
  2. Pdt. E. Sinaga. 2. Pdt. J. Tambunan. 3. Pdt. M.H. Manullang. 4. Pdt. H. Panjaitan. 5. Pdt. Raja Ngelak Karokaro. 6. Pdt. M. Sianturi.
  3. Sekolah pendeta tahun 1944 :
  4. Pdt. T.J. Sitorus, 2. Pdt. F. Simanjuntak, 3. Pdt. G. Lumbantoruan, 4. Pdt. I. Hutabarat. 5. Pdt. A. Panggabean. 6. Pdt. M. Simanjuntak. 7. Pdt. M. Simatupang. 8. Pdt. D. Panjaitan. 9. Pdt. O. Manurung. 10. Pdt. P. Manurung. 11. Pdt. H. Silaban. 12. Pdt. C. Simanjuntak. 13. Pdt. B. Pangaribuan. 14. Pdt. L. Hutapea.
  • Sekolah pendeta tahun 1954
  1. Pdt. M.D. Tampubolon. 2. Pdt. K. Panjaitan. 3. Pdt. J. Nahampun. 4. Pdt. W. Gultom. 5. Pdt. C. Gultom. 6 Pdt. W. Simanjuntak. 7. Pdt. M. Hutapea. 8. Pdt. E.Pasaribu. 9. Pdt. O. Situmorang. 10. Pdt. W. Sihombing. 11. Pdt. A. Simaremare.
  2. Sekolah pendeta tahun 1961
  3. Pdt.W. Lumbantobing. 2. Pdt. M.R. Lumbandolok. 3. Pdt. E. Sitompul. 4. Pdt. E. Harianja. 5. Pdt. M. Sinaga. 6. Pdt. B. Hutabarat. 7. Pdt. H. Tambunan. 8. Pdt. G. Silitonga. 9. Pdt. K. Simanjuntak. 10. Pdt. Th. Tampubolon. 11. Pdt.M.J. Manalu. 12. Pdt. L. Simangunsong. 13. Pdt. H. Sirait. 14. Pdt. H. Lumbantobing. 15. Pdt. A.H. Pasaribu. 16. Pdt. T.L. Hutabarat. 17. Pdt. R.H. Panjaitan. 18. Pdt. P. Hutasoit. 19. Pdt. A. Gultom. 20. Pdt. M.H. Tampubolon.
  4. Sekolah pendeta tahun 1967.

Pdt. A.G. Sipahutar. 2. Pdt. A.B. Sormin. 3. Pdt. B. Hutasoit. 4. Pdt. B. Silaban. 5. Pdt. D.T. Sihombing. 6. Pdt. J. Nababan. 7. Pdt. J. Sirait. 8. Pdt. H. Manalu. 9 Pdt. K. Tampubolon. 10. Pdt. Ch. Sianturi. 11. Pdt. M.J. Aritonang. 12. Pdt. M. Manalu. 13. Pdt. M. Sihombing. 14. Pdt. M.C. Sianturi. 15. Pdt. P.M. Sihombing. 16. Pdt. T.J. Sirait. 17. Pdt. W. Sipahutar.

Berkat kemurahan hati dari gereja Gereformeerd, atas petunjuk dari Ds. Korvinus di Medan, mulai pada tahun 1950, HKI telah dapat mengirim siswa ke Sekolah Theologia Menengah di Jogjakarta, Yaitu :

  1. K. Panggabaean sempat ditabalkan menjadi pendeta, tetapi kira-kira 1 tahun, sudah pergi meninggalkan HKI.
  2. Kemudian pada tahun 1951 : 1. Pdt. L. Manurung. 2. Pdt. M. Hutauruk. 3. Pdt. L. Sinaga. 4. Sdr.B. Purba. 5. Sdr. M. Pasaribu.

Hanya Pdt. L. Manurung, Ketua PP-HKI sekarang dan Pdt. M. Hutauruk yang ditabalkan pada HKI sedang Pdt. L. Sinaga Ephorus GPKB sekarang pergi ke GPKB, karena tertinggal 1 tahun, dibelanjai GPKB, selainnya tidak sanggup mengikuti sekolah.

Ada lagi seorang siswa yang sempat masuk Sekolah Theologia Menengah Jogja yaitu Sdr. D. Sitorus, yang baru 1 tahun jatuh sakit dan meninggal dunia.

Setelah HKI dengan segala daya-upayanya yang bertahun-tahun sejak tahun 1949 s/d 1960an, mencari hubungan kerja sama dengan gereja-gereja tetangga dalam dan luar negeri dan perasaan sungguh sedih dan pahit seperti pengemis; maka HKI tidak jemu-jemunya untuk mencari hubungan dengan badan-badan gereja; antara lain : DGI yang terbentuk tahun 1950, dewan gereja Lutheran sedunia dan dewan gereja-gereja sedunia.

Atas pengertian yang mendalam serta cinta kasih dari Tuhan yang empunya gerja itu, setelah mendengar uraian-uraian dari Pucuk Pimpinan tentang hal berdirinya HKI, maka pada tahun 1964, HKI telah diundang untuk menghadiri konsultasi gereja Lutheran se-Asia di Karachi-India.

Pada tahun 1950, HKI juga ikut serta dalam menghadiri pembentukan DGI di Jakarta sebagai peninjau walaupun tidak diundang.

Baru pada Sidang Raya DGI pada tahun 1967 di Makassar (Ujung Pandang), HKI resmi menjadi gereja Anggota Dewan Gereja Indonesia Wilayah Sumatera, sekarang Dewan gereja Wilayah Sumut/ Aceh.

Maka sejak tahun 1966, dari HKI sudah dapat diterima menjadi siswa Fakultas Theologia HKBP Nomensen di Pematangsiantar.

Siswa pertama dari HKI, yaitu sdr. Maruli Sihombing anak dari Alm.Pdt.W.Sihombing dari Sibuntuon Lintongnihuta; tetapi sayang, anak ini tidak sanggup mmengikuti karena disetiap tingkat diikuti 2 tahun dan pada tahun yang ke V terpaksa meninggalkan kuliah.

Maka sejak tahun 1966, dari HKI sudah dapat diterima menjadi siswa Fakultas Theologia HKBP Nomensen di Pematangsiantar. Siswa pertama dari HKI, yaitu saudara Maruli Sihombing anak dari Alm. Pdt. W. Sihombing dari sibuntuan Lintongnihuta; tetapi sayang, anak ini tidak sanggup mengikuti karena disetiap tingkat diikuti 2 tahun dan pada tahun yang ke V terpaksa meninggalkan kuliah.

Demikian selanjutnya telah terbuka pintu untuk HKI memasuki semua Fakultas Theologia, dan yang telah lulus dari Fak. Theologia sampai pada wakti ini, yaitu : 1. Pdt. M. Simamora, M.Th, 2. Pdt. M.P. Siregar, S.Th, 3. Pdt. E. Sihotang, Sm.Th, 4. Pdt. H.B. Simangunsong, 5. Pdt. M. Simorangkir, Sm.Th, 6. Pdt. R. Simanjuntak, Sm.Th, 7. Pdt. C. Siahaan, Sm.Th, 8. Pdt. L. Sitorus, S.Th, 9. Pdt. MAE. Samosir STh. 10. Pdt. R. Panjaitan STh. 11. Pdt. M. Siahaan Sm.Th 12. Cand. Pdt. M. Sirait Sm.Th. 13. Cand. Pdt. T. Siahaan, Sm.Th.

Masih ada lagi menyusul dari mahasiswa yang masih kuliah pada STT –HKBP dan STT di Jawa. Sehubungan dengan kurangnya tenaga pelayanan/ pendeta pada masa kini di HKI, maka mulai tahun 1979, telah diadakan sekolah pendeta HKI yang ke VI dan diikuti oleh 20 orang siswa. Tetapi selain dari nama-nama yang telah diuraikan itu, masih banyak lagi pendeta yang telah sempat bekerja/ melayani dan masih aktif melayani di gereja HKI, yaitu pendeta – pendeta yang langsung diangkat pada waktu perpecahan HChB tahun 1935; perpecahan tahun 1944 dan pengangkatan pada perpecahan HKI tahun 1961-1963, serta yang diangkat yang masih tinggal dii HChB (GKB), sebelum pulih bersatu pada tahun 1976 di dalam HKI yang semuanya menjadi pendeta HKI.

Perlu juga diingat, bahwa seorangpun yang menjadi pendeta yang langsung diangkat HKI yang berkantor pusat di jalan Marihat 111 Pematangsiantar, tidak pernah lagi ada sebelum menjalani sekolah Pendeta/ STT mulai dari tahun 1946, karena sangat perlu menjaga dan meningkatkan ke-pendetaan itu sebagaimana yang seharusnya.

Di dalam tiap-tiap perpecahan itulah HChB (HKI) bahagian-bahagian yang membangkang mengangkat pendeta, supaya menurut pendapatnya makin banyak yang menjadi pendukungnya.

Jadi dalam gereja kita selama ini dapat diakui, banyak menjalankan main politik-politikan dalam gereja, hal ini bisa terjadi, mungkin karena banyak dari anggota HKI/ HChB yang pernah menjadi Anggota Partai Politik Merdeka sejak dari Pemerintahan Belanda dulu.

Syukurlah kita ucapkan kepada Tuhan karena di HKI makin bertambah banyak orangnya yang mengerti antara gereja dan dasarnya, dengan organisasi-organisasi dan Partai politik.

Pendeta-pendeta seharusnya juga mengerti, bahwa penyerahan dirinya menjadi pelayan, janganlah menjalankan pekerjaan/ pelayanannya dengan main politik-politikan. Marilah kita senantiasa menyerahkan diri di dalam doa kepada Tuhan yang empunya gereja, supaya kita dibimbing untuk menjalankan tugas panggilan kita.

Semoga Tuhan memberkati semua pendeta HKI, agar dapat berbakti dan berbukti yang baik didalam ugas pelayanannya.

Terima kasih.

Pematangsiantar, Februari 1981

Pdt.T.J.Sitorus

Pensiunan Ketua PP – HKI/Penasehat

 

 

Tambahan :

Di dalam penanggulangan nafkah (gaji) pendeta-pendeta, mulai dari HChB, yakni sejak adanya pendeta, belum ada yang langsung central yang menanggung gaji pendeta. Tetapi walaupun demikian gaji pendeta sudah diatas guru-guru Huria; sebab waktu sebelum perang, Beweys permandian suci 10 cent (Satu lembar), hamauliateon rata-rata 50 cent; Beweys sidi 25 cent, Hamauliateon rata-rata 100 cent (F.1.) sedang dari perkawinan 300 cent (F.3) uang tikting F.5,50 satu kali satu tahun, pesta sentral, 10% dari pendapatan huria, untuk sentraal.

Hampir rata-rata satu resort HChB, 25 s/d 30 jemaat (satu pendeta Resort)msampai pada tahun 1924 (sebelum jepang) 25% dari pendapatan pendeta, disetor kepada kantor pusat. Jadi boleh diperhitungkan, bahwa belanja seorang pendeta, paling sedikit F.20. (dua puluh rupiah setiap bulannya).

Mulai dari pemerintah Jepang, semuanya sudah tidak terkendalikan lagi karena kurs uang yang tidak menentu, dan hidup rakyat merana, akibatnya semua kebutuhan-kebutuhan pekerja adalah kebijaksanaan dari tiap-tiap resort/jemaat untuk memenuhi kehidupan sehari-hari.

Dari tahun 1956 menurut synode, sudah ditentukan tanggungan dari tiap-tiap jemaat dengan mata uang, waktu itu ada lumayan sedikit, tetapi tidak bertahan sampai satu tahun karena inflasi uang.

Jadi pada synode 1960 yang bertahan sampai sekarang, tiap-tiap anggota (rumah tangga) memberikan 2 kaleng padi. Inipun kurang disadari oleh gereja, terlebih-lebih jemaat yang anggotanya banyak, makanya sampai sekarang gaji pendeta belum mendapat diberikan dari kantor pusat HKI.

Dapat diakui, bahwa pendeta resort yang agak besar jumlah anggotanyalah yang nafkahnya ada lumayan, sedang yang sedikit serta minus pencahariannya yang agak mengeluh karena kurangnya perbelanjaan.

Maka untuk memperbaiki hidup para pendeta, marilah kita sama-sama memikirkan jalan yang sebaik-baiknya secara Central, sesuai dengan peraturan/putusan synode, agar belanja pendeta dapat merata dan teratur.

Pdt.T.J.Sitorus

 

Disalin ulang dari Makalah Pdt. TJ. Sitorus oleh Dep. Umum HKI, 20/2/2018

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *