Keadilan

RENUNGAN

Selasa, 16 April 2019

Amos 5:24 Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran  seperti sungai yang selalu mengalir.

 

Ditengah kondisi depresi ekonomi dunia yang luar biasa akibat perang dunia, pada tahun 1930- an, banyak orang yang hidup miskin dan nyaris kelaparan. Tersebutlah seorang nenek tua, yang karena kondisi tersebut, terpaksa mencuri sepotong roti dari sebuah toko dengan dalih cucu perempuannya sedang sakit dan kelaparan, sementara suaminya telah meninggalkannya. Nenek tua itupun dibawa ke pengadilan. Di pengadilan, sang hakim pun mengalami situasi yang dilematis. Namun hukum harus tetap ditegakkan. Sang hakim memutuskan nenek itu bersalah dan menghukumnya dengan membayar denda 10 dolar. Jika sang nenek tidak bisa membayar maka ia akan dihukum penjara selama 10 hari. Mendengar putusan hakim tersebut, sang nenek tertunduk lesu dan menangis. Akhirnya sang hakim turun mendekat kepada sang nenek dan melepas toga hakimnya sambil mengeluarkan uang 10 dolar dan berkata “saya juga mendenda setiap orang dalam ruangan ini untuk membayar 50 sen karena hidup di kota ini dan membiarkan seorang nenek ini dan cucunya kelaparan dan tidak memberikan pertolongan.”

Kisah tersebut hanyalah legenda. Namun sangat baik untuk diambil hikmatnya mengenai rasa “keadilan.” Nabi Amos yang menyerukan keadilan yang bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir sebetulnya hendak menegur kalangan elit jamannya yang abai terhadap keadilan sosial dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi dengan tindakan-tindakan yang korup dan amoral.

Saudaraku, setiap orang mempunyai porsi dan kesempatannya untuk mewujudkan keadilan bagi sesama. Hal yang paling penting adalah mendengarkan hati nurani yang kita yakini dalam penyertaan Roh Kudus Tuhan. Dengarkanlah hati nuranimu senantiasa agar lebih jernih melihat sesama di sekitar kita yang menantikan keadilan. (RES)

 

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar senantiasa mendengar-Mu melalui hati nurani kami sehingga tidak abai menolong mereka yang menantikan keadilan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *