Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.

Baca: 1 Yohanes 4:10-21

Seorang dosen selalu mengakhiri kelas virtualnya dengan berkata, “Sampai jumpa” atau “Selamat menikmati akhir pekan.” Beberapa mahasiswa membalasnya dengan, “Terima kasih. Anda juga!” Namun, suatu hari seorang mahasiswa menyahuti, “Aku mengasihimu.” Meski terkejut, sang dosen membalas, “Aku mengasihimu juga!” Sore itu, semua mahasiswa di kelasnya sepakat menciptakan “rantai kasih sayang” pada pertemuan berikutnya. Mereka ingin mengapresiasi sang dosen yang sebenarnya lebih suka bertatap muka tetapi masih bersedia mengajar secara virtual. Beberapa hari kemudian, selesai mengajar, ketika dosen itu berkata, “Sampai jumpa,” satu per satu mahasiswanya menjawab, “Aku mengasihimu.” Berbulan-bulan mereka melakukan kebiasaan tersebut. Sang dosen berkata bahwa kebiasaan itu menciptakan ikatan yang kuat antara dirinya dan para murid, sehingga sekarang ia merasa mereka adalah “satu keluarga”.
Dalam 1 Yohanes 4:10-21, sebagai anggota keluarga Allah, kita mempunyai sejumlah alasan untuk mengucapkan, “Aku mengasihi-Mu” kepada Allah. Allah “telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (ay. 10). Dia mengaruniakan Roh-Nya untuk tinggal di dalam kita (ay. 13, 15). Kasih-Nya selalu dapat diandalkan (ay. 16), dan kita tidak perlu takut terhadap penghakiman (ay. 17). Allah memampukan kita untuk mengasihi Dia dan sesama “karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (ay. 19).
Saat Anda bersekutu dengan saudara-saudari seiman, ambillah kesempatan untuk menceritakan alasan Anda mengasihi Allah. Menciptakan rantai “Aku mengasihi-Mu” untuk Allah akan memuliakan-Nya sekaligus mempererat persekutuan Anda dengan umat-Nya.

Oleh: Anne Cetas

Renungkan dan Doakan
Mengapa Anda mengasihi Allah? Bagaimana Anda dapat menunjukkan kasih-Nya kepada sesama?
Ya Bapa, aku bersyukur dapat mengenal kasih-Mu dan menjadi salah seorang anggota keluarga-Mu. Mampukan aku menempuh cara-cara kreatif untuk mengekspresikan kasih-Mu itu.
Amin……

Selamat pagi selamat beraktifitas tetap semangat, Gbu

WAWASAN
Menurut para ahli, Surat 1 Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes, penulis kitab Injil keempat dalam Perjanjian Baru. Sekitar sepuluh tahun setelah menulis Injil itu, sang rasul menulis surat ini untuk mengajar orang percaya agar mereka “hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yohanes 2:6), yaitu dengan mewujudkan kasih dalam tindakan. Mirip dengan Yohanes 3:16-17, sang rasul mengingatkan kita bahwa Allah “telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia . . . sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yohanes 4:9-10). Korban “pendamaian” menggambarkan apa yang telah Yesus lakukan di atas kayu salib untuk “menghapus dosa dan menyucikan orang berdosa (penebusan), dan meredakan murka Allah terhadap orang berdosa (pendamaian)” (NIV Zondervan Study Bible). –K.T. Sim

Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti

Bagikan Postingan ini: