Huria Kristen Indonesia (HKI) dan United Evangelical Mission (UEM) Gelar Kegiatan Fokus Group Discussion (FGD) Interfaith (Lintas Iman)

Fokus Group Discussion (FGD) Interfaith

Menjelang 77 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan negara asing. Ternyata sampai saat ini negara Indonesia belum sepenuhnya merdeka terlebih kepada setiap warga negara dalam hidup menjalankan agama dan atau ibadahnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing sebagaimana yang dijamin dalam Pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD NRI 1945. Ternyata apa yang dikatakan oleh sang proklamator yaitu Presiden pertama RI, Soekarno: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa penjajah, namun perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. Ya, sampai saat ini, kehidupan berbangsa di Indonesia yang beragam masih belum sepenuhnya hidup sebagai satu bangsa dalam bernegara. Kelompok-kelompok intoleran dan diskriminatif di kebijakan publik masih cukup sering terjadi. Bahkan saat dunia sedang menghadapi ancaman Pandemi Covid-19 yang telah merenggut banyak nyawa. Hal ini tidak memberikan pelajaran beberapa pihak untuk kemudian dapat hidup saling berdampingan/ bertoleransi demi kemanusiaan yang lebih indah dan damai.

HKI Bandung Selatan yang telah berdiri, sejak tahun 1993 di Kabupaten Bandung, masih belum mendapatkan hak sebagai warga negara untuk menjalankan agama dan ibadahnya di Indonesia ini, khususnya di Kab. Bandung. Sejak 2012, kegiatan ibadah dihentikan sampai saat ini tahun 2022 dengan berbagai upaya untuk menjalin hubungan baik kepada warga sekitar. Namun, sampai saat ini masih ada kelompok yang tidak menerima keberadaan Gereja HKI di Kab. Bandung, tepatnya di Jl Siliwangi. No. 35. Rt. 008/ Rw. 025, Kel. Baleendah, Kec. Baleendah Kab. Bandung. Terakhir di tahun 2022, bahkan Pemerintah setempat melalui MUSPIKA saat memediasi terkesan hanya mengakomodir kehendak kelompok intoleran.

Gereja HKI Bandung Selatan

Sabtu, 02 Juli 2022, HKI Bandung Selatan bekerja sama dengan UEM, mengadakan Fokus Group Discussion (FGD) Interfaith (Lintas Iman) untuk mendiskusikan dan menceritakan berbagai pengalaman kehidupan beragama di Bandung Raya khususnya di Kab. Bandung. Kegiatan ini dilakukan bertujuan agar tempat yang kita diami ini benar-benar layak untuk seorang manusia dengan segala Hak Asasinya yang dapat dipenuhi termasuk hak beribadah sesuai kepercayaannya. Kegiatan ini adalah wadah bersama membangun komunikasi dan merekomendasikan pelajaran bersama dalam konteks hidup beragama dan berkeyakinan di Indonesia, khusunya Kab. Bandung Provinsi Jabar.

FGD dihadiri oleh berbagai lembaga dan kelompok lintas iman, Yaitu: Pemuda/I HKI Bandung Selatan, Persekutuan Perempuan HKI Bandung Selatan, Penatua HKI Bandung Selatan, Pucuk Pimpinan HKI (Ephorus HKI), HKBP, GKP, GKPS, PGI W. Jabar, Komisi HAK USKUP JABAR, PENGHAYAT BUDI-DAYA, PUAN AMAL HAYATI, ITENG, SALIM, Vanessa Katolik, SOFI, IPNU KAB. Bandung, FKUB Kab. Bandung, Kesbangpol Ka. Bandung, YLBHI Bandung, GMKI Cab. Bandung dan GMKI Kom. STT TELKOM, HMI Kab. Bandung. Kegiatan ini bermitra dengan Pimpinan Pondok Pesantren Bapenpori Cirebon dan JAKATARUB sebagai fasilitator.

Diskusi dibuka oleh Pdt. Rommel H. P. Pardede, Pendeta Jemaat HKI Bandung Selatan: “mari kita lihat kehidupan bermasyarakat khususnya dalam aspek beragama kita saat ini di tempat yang kita diami ini, khususnya Kab. Bandung dan umumnya Bandung Raya. Saya memiliki pemahaman bahwa keberagaman ini tentu dengan sepengetahuan dan izin Allah sang Pencipta. Semua ini bukan dijadikan kendala namun justru harus menjadi sesuatu yang berharga dan merupakan anugerah Allah. Seperti warna jika hanya warna hitam maka tidak ada keindahan, demikian emas jika menjadi kepunyaan yang biasa oleh semua orang maka akan tidak berharga. Namun, masih ada beberapa orang/ kelompok yang belum menerima kenyataan dari ALLAH ini. Sehingga masih belum mau menerima hidup bersama dalam keberagaman”.

Dialog kemudian dilanjutkan dengan berbagi pengalaman hidup beragama di Bandung Raya dari setiap utusan yang hadir dan berdiskusi dalam kelompok dengan menyampaikan kekhawatiran dan Harapan dalam toleransi beragama. Diskusi ini menghasilkan suatu kenyataan dan harapan sebagaimana contohnya yang disampaikan oleh Kelompok 3:  a.  saat ini organisasi radikalisme masih terjadi. b. Diskriminatif terhadap golongan tertentu dalam sektor publik. c. Diskriminasi dilingkungan sekolah, seperti misalnya Guru Agama Kristen tidak ada di tingkat SD ataupun SMP terlebih sekolah-sekolah yang dimiliki pemerintah, d. Mayoritas mengklaim kewenangan, dan manpower di mana hal ini kekuatan ada pada sekelompok orang dan kekuatan hukumpun terkalahkan.

 Kegiatan ini merekomendasikan beberapa hal: Membuat FGD seperti ini bekerjasama dengan pemangku jabatan/ Negara, Interfait Training Camp di Kab. Bandung, Menguatkan supporting dan aksi solidaritas untuk mendampingi korban aksi intoleransi dan mengundang pihak yang tidak menerima toleransi.

Ephorus HKI (Pdt. Firman Sibarani, M.Th) memberikan pengarahan pada akhir kegiatan dengan mengatakan sikap HKI bahwa HKI adalah sahabat bagi semua orang. HKI harus hadir menebar kebaikan bagi semua orang dan dunia ini tanpa memandang Ras, Suku dan Agamanya. HKI juga akan mempersiapkan pendetanya untuk mendukung dan aktif dalam kegiatan Lintas Iman. HKI juga akan berusaha menjadi pengawal dan penjamin kepada pemerintah agar dapat menjamin kebebasan dan keamanan bagi setiap warga negara menjalankan agama dan ibadahnya sesuai kepercayaan masing-masing. Pendeta Resort HKI Bandung (Pdt. Rio Pendi Nababan, M.Th) juga mengharapkan dan mengajak setiap orang yang hadir agar dapat menindaklanjuti hasil diskusi dalam satu aksi nyata yaitu mendampingi HKI Bandung Selatan untuk dapat beribadah.

Pewarta : Pdt. Rommel H. P. Pardede, S.Th
Penyunting : Yohanes Simatupang

About Yohanes Simatupang

Staff Biro Infokom

View all posts by Yohanes Simatupang →