Jadikan Setiap Momen Berarti

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. –Matius 24:42

Baca: Matius 24:36-44

Kedua jarum jam saku yang tersimpan di arsip perpustakaan Universitas North Carolina menyimpan kisah menyedihkan. Jarum-jarum jam itu berhenti pada pukul 8:19:56, yaitu tepat saat pemiliknya, Elisha Mitchell, jatuh tergelincir dan tewas di air terjun Pegunungan Appalachian, pada pagi hari tanggal 27 Juni 1857.

Mitchell adalah profesor universitas tersebut yang sedang mengumpulkan data untuk membuktikan pernyataannya (yang ternyata benar) bahwa puncak yang dipijaknya saat itu adalah yang tertinggi di sebelah timur Mississippi. Puncak itu sekarang dikenal sebagai Mount Mitchell. Makamnya terletak di puncak gunung itu, tak jauh dari tempat ia terjatuh.

Saat mendaki puncak gunung tersebut beberapa waktu lalu, saya merenungkan kisah Mitchell dan kefanaan saya sendiri. Saya terpikir, betapa sedikitnya waktu yang kita miliki. Lalu saya merenungkan kata-kata Yesus kepada murid-murid-Nya di Bukit Zaitun mengenai kedatangan-Nya kembali: “Sebab itu hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat. 24:44).

Ucapan Tuhan Yesus dengan jelas menyatakan bahwa tak seorang pun mengetahui kapan Dia akan datang kembali dan menegakkan kerajaan-Nya yang kekal. Tak seorang pun tahu kapan Dia akan memanggil kita untuk meninggalkan dunia ini untuk datang kepada-Nya. Namun, Dia meminta kita bersiap-siap dan “berjaga-jaga” (ay. 42).

Tik . . . tok . . . tik . . . tok . . . Jam kehidupan kita masih berdetak—tetapi untuk berapa lama lagi? Marilah kita menjalani setiap momen dengan mengasihi Juruselamat kita yang pemurah, sembari menanti dan melayani-Nya.

Oleh: James Banks

Renungkan dan Doakan
Apa yang Anda lakukan untuk menyiapkan diri menyambut-Nya? Apa yang paling Anda rindukan dari kedatangan-Nya?

Tuhan Yesus, Juruselamatku yang penuh kasih, tolonglah aku agar siap bertemu dengan-Mu kapan saja. Hari ini, mampukanlah diriku melayani-Mu dan menyiapkan diri untuk kedatangan-Mu kembali.
Amin….
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, GBU….

WAWASAN
Injil Matius, yang ditulis terutama bagi orang-orang Yahudi, disusun menurut lima bagian besar pengajaran Yesus (pasal 5–7, 10, 13, 18–20, 24–25). Perikop hari ini termasuk bagian terakhir, yang dikenal sebagai Pengajaran di Bukit Zaitun sesuai dengan lokasinya. Itulah pesan yang paling bersifat eskatologis (berkaitan dengan akhir zaman) dari kelima pengajaran dalam Injil Matius. Fakta kecil yang menarik menunjukkan bahwa itulah satu-satunya momen ketika Andreas, saudara Simon Petrus, diikutkan dalam “kelompok terdekat” murid Yesus yang terdiri dari Petrus, Yakobus, dan Yohanes (lihat Markus 13:3). Hal itu ironis karena Andreas merupakan salah seorang dari dua murid yang pertama-tama mengikut Kristus (Yohanes 1:40-41). Namun, biasanya ia tidak ikut bersama ketiga murid tersebut dalam waktu-waktu pribadi bersama-Nya, seperti ketika Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Markus 5:37), pada waktu Yesus dimuliakan (9:2-13), dan saat Yesus berdoa di Getsemani (14:33). Andreas hanya ikut saat Kristus mengajar mereka di Bukit Zaitun. –Bill Crowder

Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti.

BIRO INFOKOM HKI

About Yohanes Simatupang

Staff Biro Infokom

View all posts by Yohanes Simatupang →