Kebenaran dalam Kebijaksanaan

Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya. (Daniel 12:3)

Salah satu nilai yang diberikan oleh perkembangan teknologi internet adalah kebebasan. Inrtenet telah mejadi media baru bagi siapa saja untuk secara bebas mengatakan apa saja dan kepada siapa saja. Karena di media sosial kita bisa menyembunyikan identitas kita, membuat orang menjadi tidak sungkan untuk menyerang orang lain lewat kata-kata kita. Tidak hanya di pemerintahan atau masyarakat, bahkan dalam konteks persekutuan (gereja), hal tersebut tidak dapat dihindarkan. Orang-orang seolah tidak punya nilai-nilai moral yang baik, yang menjungjung tinggi keadilan dan kebenaran. Nilai-nilai tersebut menjadi tidak penting lagi, sebab nilai utama adalah popularitas dan kekayaan. Kebebasan di era revolusi 4.0 ini, menjadi sesuatu yang dapat mengancam kehidupan kita.

Daniel mendapatkan visi apokaliptik. Visi apokaliptik merupakan sejenis penglihatan yang menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang. Di masa datang, mana yang akan terberkati oleh Tuhan? Orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran dan menggadaikan kebenaran demi kepentingan pribadi ataukah orang-orang yang setia pada kebenaran Tuhan apapun risiko yang dihadapinya? Kata “Kebenaran”, dalam ayat 3, memakai kata Ibrani tsadeq, yang mengandung arti kelurusan atau persesuaian. Benar berarti lurus atau sesuai dengan jalan dan kehendak Allah.

Hidup Daniel sendiri telah mewujudkan pribadi yang benar dan menuntun sesamanya pada kebenaran Tuhan. Tidak sekalipun ia meninggalkan Tuhan, walau ia berada di pembuangan Babel. Tekanan sang penguasa tidak juga membuatnya gentar, bahkan karena kebenaran yang dengan setia dipegangnya menjadikan para penguasa bersimpati kepada Daniel. Para penguasa tersebut adalah Raja Nebukadnezar, Raja Belsyazar, Raja Darius, dan Raja Koresh.

Maka, hiduplah dalam kebanaran di tengah situasi banyaknya kebohongan dan pencitraan semata. Jangan pernah mengabaikan untuk hidup dalam kebenaran Tuhan. Tuhan ada di pihak kebenaran. Tidak hanya Tuhan, bahkan sesama pada akhirnya juga bersimpati pada mereka yang berpegang pada kebenaran, bukan pada mereka yang hidup dalam kebohongan. (RES)

Bagikan Postingan ini: