Kebun Sawit Teluk Panji : Sawit Sudah Penen, Produksi Rendah, Kurang Pemupukan dan Perawatan, Buah Kecil dan Sedikit.

Teluk Panji, 15/4/16, Ephorus Pdt. M. Pahala Hutabarat, S.Th, MM beserta Sekjen dan rombongan dari Kantor Pusat visitasi ke Teluk Panji. Kunjungan kerja pertama ke Unit Usaha Kebun guna membangun sinergisitas pelayanan di Bidang Usaha HKI. Rombongan ini juga turut Kadep Marturia Pdt. J. Simanjuntak, S.Th, MM, Kadep Keuangan Pdt. Dorman Pasaribu, S.Th, Kadep Diakonia Pdt. Adventus Nadapdap, S.Th, Direktur Dana Pensiun Pdt. MAE samosir, M.Th dan PEMRED Mutiha Bina Warga Pdt. Beresman Nahampun, S.Th.

Visitasi selama 3 hari itu (13 s/d 15 April 2016) melihat keliling keberadaan kebun, pengelolaan, keuangan dan evaluasi pelayanan di Kebun Teluk Panji. Pucuk Pimpinan mengundang seluruh pegawai dan pekerja untuk berkumpul untuk mengetahui pengelolaan dan penatalayanan yang sudah berlangsung selama ini. Dalam pertemuan yang dibuka dan dimoderasi Sekjen pdt. Dr. Batara Sihombing M.Th tersebut, demikian Epohorus    mengatakan, “Haroro nami tu son laho  paturehon kobun on, asa dipature kobun on hita, marhite angka produksi na denggan. Molo denggan kobun on, dengganma hita rohahononna. Sangat perlu manajemen yang baik, perawatan yang baik dan perhatian yang baik juga”.

Saat ini, tanaman sawit sudah masa penen, tapi produksi rendah karena kurangnya pemupukan dan perawatan sehingga buah kecil dan sedikit. Kurang bersih dari rumput, cabang tidak dipotong membuat pekerja tidak memanen. Jalan pikul, dan jalan besar rusak menghambat produktifistas.

Pada sesi tanya jawab, mandor panen Pak Simanjuntak mengatakan, “tenaga kerja panen minim, hanya 10 orang setidaknya perlu 25 orang. Selain itu, jalan pikul, caban

Photo bersama Pucuk Pimpinan dan Rombongan Kantor Pusat HKI dengan Pekerja dan keluarga di Kebun Teluk Panji. (14/4/16)

g tidak di tunas dan rumput yang tidak dibabat, sangat memperlambat pemanen dan juga dapat membuat malas. Akhirnya, rotasi panen sering terlambat. Buah menjadi busuk, bobot susut bahkan tidak laku lagi”.

Selanjutnya, mandor langsir Pak Siregar menuturkan, “mohon diperhatikan nasip kami. Gaji kami dinaikkan, karena gaji kami kecil, tidak ada beras, tidak masuk JAMSOSTEK. Tolong dibuat aturan dan peraturan kerja terkait manajemen dan juga tentang ketenagakerjaan. Sehingga para pekerja memiliki kepastian dan dapat bekerja simakin sungguh-sungguh.”

Pucuk pimpinan senang mendengar dan menampung segala keluhan dan harapan seluruh pekerja. Sekjen juga mengatakan, “Pucuk Pimpinan HKI akan membentuk team kerja, pengurus dan pengelola sehingga produksi meningkat. Kita perlu sama-sama memajukan dan apa yang kita rindukan bisa kita peroleh. Agar itu tercapai, kita mulailah dengan baik. Kami berjanji, tidak ada badan usaha HKI yang tidak mensejahterakan anggotanya. Asa denggan do ngolunta asa dibahen usaha on”. (MBW/BN)

 

Bagikan Postingan ini: