Kefanaan dan Kerendahan Hati

Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (Yakobus 4:14)

Baca: Yakobus 4:7-17

Cendekiawan kuno Hieronimus (Jerome) dan Tertulianus pernah bercerita bagaimana dalam dunia Romawi kuno, setelah seorang jenderal meraih kemenangan yang gilang-gemilang, ia akan diarak di atas kereta berkilauan sepanjang jalan-jalan protokol ibu kota, sejak fajar hingga matahari terbenam. Orang banyak bersorak-sorai mengelukannya. Jenderal tersebut bersimbah puja-puji, menikmati kehormatan terbesar dalam hidupnya. Akan tetapi, konon ada seorang pelayan yang selalu berdiri di belakang sang jenderal, dengan sepanjang hari berbisik di telinganya, Memento mori (“Ingatlah kamu akan mati”). Di tengah semua pujian itu, sang jenderal sangat membutuhkan kerendahan hati dengan mengingat bahwa dirinya manusia fana.

Yakobus menulis kepada komunitas yang digerogoti nafsu kesombongan dan sikap mandiri yang berlebihan. Untuk menegur arogansi mereka, Yakobus mengucapkan kata-kata yang menusuk: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak. 4:6). Yang perlu mereka lakukan: “Rendahkanlah diri [mereka] di hadapan Tuhan” (ay. 10). Bagaimana mereka memiliki sikap rendah hati ini? Seperti para jenderal Romawi, mereka perlu mengingat bahwa mereka akan mati. Yakobus menegaskan, “Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. . . . Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (ay. 14 ). Menyadari kerapuhan diri itu membuat mereka bebas untuk hidup di bawah kehendak Tuhan yang teguh, daripada dengan usaha mereka sendiri yang sia-sia (ay. 15).

Jika kita lupa masa hidup kita terbatas, kita bisa jatuh pada kesombongan. Namun, ketika dengan rendah hati kita menyadari kefanaan kita, kita dapat melihat setiap momen dan helaan napas kita sebagai anugerah. Memento mori.

Oleh: Winn Collier

Renungkan dan Doakan
Apa yang menyentuh Anda dari kisah para jenderal Romawi dan ungkapan Memento Mori? Mengapa Anda perlu mengingat kefaanaan Anda?

Allah Bapa, aku sering berpikir hidupku ada di tanganku. Terkadang aku bersikap seolah-olah akan hidup selamanya. Jadikan aku rendah hati. Tolong aku untuk menemukan hidup hanya di dalam-Mu.
Amin…..
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu

WAWASAN
Sejumlah orang dalam Perjanjian Baru memiliki nama Yakobus, termasuk anak Zebedeus/saudara Yohanes (Matius 4:21; Kisah Para Rasul 12:2) dan anak Alfeus (Matius 10:3). Yakobus yang menulis kitab Yakobus adalah anak Maria, saudara tiri Yesus (13:55). Meski di awal pelayanan Yesus Yakobus tidak percaya kepada-Nya, tetapi setelah ia melihat Kristus yang bangkit (1 Korintus 15:7), ia berubah menjadi percaya. Di Kisah Para Rasul 1:14, Yakobus diduga hadir di ruang atas setelah kenaikan Yesus ke surga, dan di kemudian hari menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem (12:17; 15:13). –Bill Crowder

“Mari memberikan dampak yang lebih berarti bagi sesama dan lingkungan”

BIRO INFOKOM HKI

Bagikan Postingan ini: