Kemerdekaan Dan Partnership

Kemerdekaan Dan Partnership
Pdt. Dr. Batara Sihombing, Sekretaris Jenderal HKI (18/8/2016)

Merdeka.

Memang manusia diciptakan untuk merdeka. Tidak ditindas atau diperbudak. Hidup di taman Eden yang penuh damai sejahtera itu Adam juga diberi kebebasan untuk memilih, hidup atau mati. Maka Tuhan befirman, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17). Sekarang tergantung manusia, mau hidup atau mati. Sangat disayangkan, manusia memilih kematian dengan memakan buah yang terlarang. Ketika Hawa memakan buah terlarang itu dia juga tidak dipaksa atau dihinoptis, hanya digoda oleh ular. Kalau dia mau, dia dapat menolak dan lari dari iblis yang datang dalam bentuk ular itu. Tetapi dia memilih memakan buah itu (Kej. 3:1-7). Kebebasan atau kemerdekaan memang harus dihidupi dengan bertanggungjawab. Bila dilakukan dengan tidak benar maka akhirnya jatuh ke dalam perbudakan. Setelah kejatuhan ke dalam dosa maka manusia diperbudak iblis di dalam kegelapan!

Tetapi Tuhan mengutus AnakNya Yang Tunggal untuk menebus manusia yang diperbudak dosa itu (Yoh. 3:16). Dengan darah Tuhan Yesus yang tercurah di bukit Golgata maka mereka yang percaya ditebus dan diselamatkan (Yoh 3:38). Manusia merdeka kembali. Kristus telah memerdekakan. Karena itu jangan mau lagi diperhamba atau diperbudak (Gal 5:1). Sesungguhnya, sebagai orang yang telah merdeka mari kita menghilangkan segala bentuk perbudakan.

Dalam terang kemerdekaan yang dari Kristus inilah kita diajak memahami kemerdekaan bangsa kita Indonesia yang merayakan kemerdekaannya yang ke-71 pada tahun 2016 ini. Seiring dengan itu maka dalam Pembukaan UUD 45 disebutkan bahwa kemerdekaan yang kita perjuangkan dan kita miliki adalah “atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa”. Terlihat jelas bahwa kita rakyat Indonesia mengakui pekerjaan dan karya Allah dalam membebaskan kita dari perbudakan Belanda dan Jepang. Tetapi perlu juga disadari bahwa kemerdekaan itu juga hasil dari perjuangan. Bukan datang dari langit. Artinya, ora et labora, bekerja dan berdoa.
Setelah kita merdeka dari penjajahan selama 71 tahun, bagaimana kemerdekaan itu kita nikmati? Tak dapat disangkal, memang kita telah merdeka secara politik tetapi secara dari sudut ekonomi, pendidikan, kesehatan, dsb. kita masih menderita atau diperbudak.

Oleh sebab itu juga harus diperjuangkan, maka mari kita kikis segala bentuk perbudakan yang membuat kita miskin, bodoh, sakit, dsb. Sebagaimana para pendahulu kita dulu harus berperang melawan penjajah, maka kita sekarang harus memerangi kemiskinan, kebodohan, kesakitan, dsb. Dengan pertolongan Tuhan kita yang Mahapengasih dan Mahapemurah itu. Oleh karena itu jalan Tuhan kita itu adalah jalan yang benar, adil, dan jujur maka itulah senjata kita melawan segala bentuk perbudakan agar kita merdeka!

Bagikan Postingan ini: