Matius 3:13-17, Minggu I Setelah Epipanias 8 Januari 2017

Minggu I Setelah Epipanias, 8 Januari 2017

Matius 3:13-17

 

KepadaNyalah Aku Berkenan

 

Apakah Yohanes Pembaptis mengenal Yesus atau tidak ? Ay 14: “Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang kepadaku?’”. Dilihat dari ay 14 ini, kelihatannya ia mengenal Yesus. Tetapi Yoh 1:31-34 mengatakan bahwa ia tidak mengenal Yesus.

Dalam Yoh 1:31-34 – “Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.’ Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya. Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihatNya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.’”.

Pengharmonisan: Kata-kata ‘tidak mengenalNya’ dalam Yoh 1:31-34 harus diartikan ‘tidak pernah bertemu’, atau ‘tidak mengenalNya melalui pernyataan ilahi’. Ia baru mengenal Yesus melalui pernyataan ilahi pada saat Yesus dibaptis, dimana Roh Kudus turun dalam bentuk burung merpati, dan ada suara Bapa dari surga, yang menyatakan Yesus sebagai AnakNya yang dikasihiNya (Mat 3:16-17).

Mula-mula Yohanes keberatan untuk membaptis Yesus (ay 14). Alasannya cukup logis, yaitu karena Yesus jauh lebih besar dari dirinya (bdk. Mat 3:11). Tetapi setelah Yesus menjelaskan, Yohanes tunduk (ay 15). Contoh lain yang mirip dengan hal ini adalah: Yoh 13:8-dst dimana Petrus tidak mau Yesus membiarkan Yesus membasuh kakinya. Tetapi setelah Yesus menjelaskan, akhirnya ia mau membiarkan Yesus membasuh kakinya. Ananias dalam Kis 9:10-17 yang mula-mula keberatan untuk melayani Saulus / Paulus, tetapi setelah Tuhan menjelaskan, akhirnya ia tunduk.

Kadang-kadang kita keberatan untuk mentaati Tuhan karena kita kurang mengerti. Tetapi kalau sudah diberi penjelasan, kita seharusnya tunduk. Misalnya: dalam persoalan persembahan persepuluhan (Im 27:30  Mal 3:8-11). Banyak orang keberatan memberi perpuluhan karena takut hidupnya tidak cukup. Setelah diberi penjelasan bahwa Tuhan pasti akan mencukupi kalau kita mentaatiNya (Mat 6:25-34) maka mereka harus taat! Tetapi kenyataannya, ada banyak orang yang setelah dijelaskanpun tetap menolak untuk memberikan persembahan persepuluhan.

Dalam persoalan Sabat (Kel 20:8  34:21). Banyak orang tidak mempedulikan larangan bekerja dan mempekerjakan orang pada hari Sabat. Dan sekalipun sudah dijelaskan alasannya, mereka tetap berkeras untuk bekerja / mempekerjakan orang pada hari Sabat, dll.

 

Orang yang dibaptis (Yesus).

Yesus menganggap baptisan/sakramen itu penting. Hal ini terlihat dari maunya Ia menempuh jarak jauh, yaitu dari Galilea ke Yordan, untuk itu (ay 13). Penerapan: Apakah saudara menganggap Baptisan (dan juga Perjamuan Kudus) itu penting? Atau saudara sering menunda / mengabaikan pelaksanaannya? Ini bisa saudara lakukan bagi diri saudara sendiri ataupun bagi anak saudara (baptisan anak / bayi). Yesus menempuh jarak jauh untuk mentaati kehendak BapaNya. Maukah saudara berkorban untuk mentaati Tuhan? Ada banyak orang yang hanya mau mentaati Tuhan selama ketaatan itu tidak menuntut pengorbanan. Ini bukan ketaatan!

Yesus dicegah (oleh Yohanes Pembaptis) pada waktu mau dibaptis (ay 14). Tetapi Ia tahu apa yang benar dan Ia tidak membiarkan diriNya dicegah (ay 15). Juga pada waktu Ia mau pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati di sana, Ia dicegah oleh Petrus, tetapi Ia tidak membiarkan Petrus mencegahNya (Mat 16:21-23). Memang kalau kita mau mentaati Tuhan, selalu ada halangan. Setan sering memakai orang-orang disekitar kita, bahkan orang-orang yang rohani sekalipun, untuk menghalangi kita mentaati Tuhan. Tetapi kalau kita betul-betul yakin akan kehendak Tuhan, kita tidak boleh membiarkan diri kita dicegah.

Yesus tidak mengaku dosa pada saat dibaptis. Orang-orang lain dibaptis sambil mengaku dosa (Mat 3:6), tetapi Yesus tidak mengaku dosa karena Ia memang tidak berdosa. Kalau Ia berdosa, Ia tidak bisa menjadi Penebus / Juruselamat kita.

 

Baptisan.

Tujuan: Baptisan Yohanes tujuannya adalah pertobatan dan pengampunan dosa. Tetapi pada waktu Yesus dibaptis, tujuannya berbeda. Tujuannya adalah: Menggenapkan ‘seluruh kebenaran’. Ay 15: “Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya”.

Perhatikan kata ‘seluruh’. Ini menunjukkan bahwa kita harus taat pada semua perintah Allah, tidak boleh pilih-pilih. Banyak orang menyamakan perintah-perintah Allah dengan makan di restoran Padang, dimana kita boleh mengambil mana yang kita sukai dan mengembalikan yang tidak kita sukai. Ini jelas salah. Kita harus mentaati seluruh perintah Allah.

Penyamaan diri dengan manusia yang berdosa (bdk. Fil 2:5-7). Ini menunjukkan kerendahan hati Tuhan Yesus. Menggenapi janji Allah kepada Yohanes Pembaptis (Yoh 1:31-34).

Ay 16 berkata ‘Ia melihat Roh Allah’. Kata ‘Ia’ di sini tidak seharusnya dimulai dengan huruf besar karena kata ini menunjuk kepada Yohanes Pembaptis, bukan kepada Yesus! Melalui pernyataan ilahi tentang diri Yesus ini, Yohanes lebih dikuatkan dalam iman dan bisa melayani Tuhan dengan lebih baik. Penerapan: Apakah saudara juga ingin melihat mujijat supaya bisa percaya kepada Kristus? Ingatlah kata-kata Yesus kepada Thomas dalam Yoh 20:29 – “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

Cara baptisan. Banyak orang menganggap ay 16 sebagai dasar baptisan selam. Disamping itu orang-orang yang mengharuskan baptisan selam mengatakan bahwa kata Yunani BAPTO / BAPTIZO artinya adalah ‘merendam’ / ‘mencelupkan’. Kata bahasa Yunani BAPTO / BAPTIZO tidak selalu berarti ‘mencelupkan’ / ‘merendam’ seperti dalam: Mrk 7:4 – “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci (BAPTISMOUS) cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga”.

Luk 11:38 – “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci (EBAPTISTHE) tanganNya sebelum makan”. Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.

Ibr 9:10 – “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan (BAPTISMOIS), hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan”. Kalau kita memperhatikan kontex dari Ibr 9 itu, maka pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21. Karena itu jelas bahwa di sini kata ‘baptis’ tidak diartikan selam / celup, tetapi percik.

1Kor 10:2 – “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis (EBAPTISANTO) dalam awan dan dalam laut”. Dua hal yang harus diperhatikan: Orang Israel berjalan di tempat kering (Kel 14:22). Yang terendam air adalah orang Mesir! Awan tidak ada di atas mereka, tetapi di belakang mereka (Kel 14:19-20). Juga awan itu tujuannya untuk memimpin / melindungi Israel; itu bukan awan untuk memberi hujan. Kalau toh awan itu memberi hujan, itu lebih cocok dengan baptisan percik, bukan selam. Jadi jelas bahwa orang Israel tidak direndam / diselam dalam awan dan dalam laut!

Kata-kata ‘keluar dari air’ tidak harus berarti bahwa Yesus diren­dam dalam air lalu keluar dari air. Kata-kata itu bisa berarti bahwa Yesus berdiri di sungai (hanya kakiNya yang terendam), lalu keluar dari air / sungai. Sekarang mari bandingkan peristiwa ini dengan baptisan sida-sida dalam Kis 8:26-40. Apakah ini adalah baptisan selam? Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari bagian ini:  Kis 8:36 – ‘ada air’. Yunani: TI HUDOR (a certain water / some water). Jadi ini menunjuk pada sedikit air, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam. Kis 8:38-39 berkata ‘turun ke dalam air … keluar dari air’. Apakah ini menunjuk pada baptisan selam? Seperti pada baptisan Yesus, istilah ini mempunyai 2 kemungkinan arti, yaitu: sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air. Sida-sida itu turun ke dalam air yang hanya sampai pada lutut atau mata kakinya, lalu keluar dari air.

Untuk mengetahui yang mana yang benar dari 2 kemungkinan ini, bacalah Kis 8:38-39 itu sekali lagi. Perhatikan bahwa di situ dikatakan: “dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, …”.  Kalau istilah ‘turun ke dalam air’ dan ‘keluar dari air’ diartikan sebagai baptisan selam, itu menunjukkan bahwa Filipus, sebagai orang yang membaptis, juga ikut diselam! Ini jelas tidak mungkin. Jadi dari 2 kemungkinan di atas, yang benar adalah kemungkinan kedua. Ini juga cocok dengan kata di atas yang menunjukkan bahwa air di situ cuma sedikit, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

Jadi jelas bahwa Mat 3:16 tidak bisa dijadikan dasar bahwa cara membaptis yang benar adalah dengan menggunakan bapti­san selam. Disamping itu ada banyak contoh dalam Alkitab dimana baptisan dilakukan bukan di sungai. Juga tidak diceritakan adanya kolam yang memungkinkan baptisan selam (Kis 2:41  Kis 9:13  Kis 10:47-48  Kis 16:33). Kis 16:33 adalah contoh yang paling kuat untuk menunjukkan bahwa baptisan tidak dilakukan dengan penyela­man, karena hal itu terjadi di dalam penjara!

Pada peristiwa baptisan Yesus ini, Roh Kudus ‘turun’ (ay 16). Ingat, bahwa Roh Kudus adalah Allah yang maha ada. Jadi kata-kata tersebut di atas adalah bahasa Anthro­pomorphic (= bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia). Roh Kudus turun ke atas Yesus dan tinggal atasNya / padaNya (Yoh 1:32-33). Roh Kudus terus menjaga Yesus sejak dari pembuahan dalam kandungan supaya Ia bebas dari dosa (Maz 45:8  Yes 11:2,3  Yes 61:1  Yoh 3:34).

Jadi, kalau pada saat baptisan dikatakan bahwa Roh Kudus turun ke atas Yesus, tujuanNya adalah untuk melengkapi Yesus untuk tugas pelayananNya (Yes 42:1  Yes 61:1). Roh Kudus bisa dilihat oleh Yohanes karena Ia menampakkan diri dalam bentuk burung merpati. Mengapa Roh Kudus tidak menampakkan diri dalam bentuk api seperti pada Pentakosta (Kis 2:1-11)? Karena Perjanjian Lama menggambarkan Yesus lemah lembut (bdk. Yes 42:2-3), sehingga merpati lebih cocok.

Dalam peristiwa baptisan ini, Bapa, Anak, dan Roh Kudus muncul pada saat yang bersamaan. Kita percaya bahwa Allah Tritunggal, sekalipun hanya punya 1 hakekat / es­sence. Ayat 16 dan 17 merupakan bagian yang menjelaskan tentang kemuliaan yang Yesus terima dari Allah Bapa sebelum Ia memulai pelayanan-Nya. Dimulai dengan turunnya Pribadi Ketiga (Roh Kudus) dari Allah Tritunggal untuk memberikan kuasa kepada Yesus. Turunnya Roh Kudus merupakan suatu penglihatan yang luar biasa, karena penglihatan tersebut membawa Yohanes sampai pada inti dari suatu pengenalan yang benar tentang Yesus sesuai dengan yang difirmankan sebelumnya oleh Allah (Yoh. 1:32-33). Lebih luas lagi, tujuan Roh Kudus turun ke atas Yesus untuk memperlengkapi-Nya dengan kuasa untuk melaksanakan karya penebusan-Nya bagi dunia yang berdosa.

Kemudian Allah menyatakan perkenan-Nya atas Yesus dengan suara yang terdengar dari sorga (ayat 17). Pernyataan Bapa mengenai identitas Yesus menegaskan bahwa Dia bukan manusia biasa yang menerima baptisan dengan makna yang sama seperti yang lain. Dialah inti berita yang disampaikan para nabi. Penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah menyatakan betapa pentingnya Yesus bagi Allah. Itu berarti orang yang menerima Yesus diperkenan Allah, sebaliknya orang yang menolak Yesus tidak menyenangkan hati Allah. Kiranya melalui pernyataan Bapa tersebut keyakinan kita akan ke-Ilahi-an Yesus makin kokoh sehingga tiap aspek hidup kita hanya berpusat kepada Dia.

 

KESIMPULAN

  1. Ketaatan menuntut adanya semangat untuk melakukan kehendak Allah. Siapa pun kita dan apapun status kita, ketaatan harus menjadi bagian dari hidup kita. kita harus memiliki hasrat untuk taat melakukan kehendak Tuhan. sebab untuk tujuan itulah kita di panggil menjadi hamba Tuhan.
  2. Ketaatan menuntut kita untuk merendahkan diri. Kehendak kita harus tunduk di bawah kehendak Allah.
  3. Akhirnya, tujuan dari semua itu agar melalui semua itu, kita dimuliakan dan melalui kita kemuliaan Tuhan terpancar bagi orang-orang di sekitar. Amin (MBW)
Bagikan Postingan ini: