Mempersiapkan Pembangunan Warga Jemaat Dalam Rangka Memasuki Era Ekonomi ASEAN

Kesepakatan negara-negara di ASEAN untuk membangun sebuah pasar bersama akan berdampak secara langsung bagi kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Perubahan yang terjadi dapat memberikan dampak postif dan juga sebaliknya. Karena kesepakatan membangun pasar bersama tersebut akan memudahkan masuknya pengaruh luar kedalam negeri. Makakesiapan masyarakat menghadapi perubahan tersebut menjadi kunci utama dalam memasuki era pasar bebas di ASEAN. Dalam konteks Sumatera Utara kebijakan pemerintah pusat untuk mengembangkan Danau Toba menjadi kawasan pariwisata utama di Indonesia menjadi peluang sekaligus ancaman bagi masyarakat setempat. Untuk itulah diperlukan peran serta berbagai elemen dan lembaga untuk mempersiapkan masyarakat termasuk gereja.

Berangkat dari hal tersebut Komite Nasional Lutheran World Federation (KN-LWF) mengadakan diskusi dengan pelayan-pelayan gereja mengenai topik tersebut. Diskusi ini diadakan pada tanggal 19 April 2016 di Hotel Grand Palm, Pematang Siantar. Sekitar 30-an pelayan-pelayan gereja di bawah naungan KN-LWF hadir dalam diskusi tersebut. Empat orang panelis hadir sebagai nara sumber dalam diskusi tersebut yaitu Bapak Pdt. Dr. Batara Sihombing (Sekjen HKI), Ibu Asimayanti Siahaan, Ph. D (Pengajar di USU), Bapak Prof. Dr. Janianton Damanik (Pengajar di UGM) dan Bapak Dr. R.E. Nainggolan (Tokoh masyarakat sekaligus pegiat Geopark Danau Toba) dan bertindak sebagai moderator Bapak Janri Damanik S. Sos (Kordinator Desk Diakonia KN-LWF). Diawali dengan Ibadah Pembuka yang dipimpin Ibu Pdt. Basa hutabarat selaku Sekretaris eksekutif KN-LWF, diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari Pdt. Dr Batara Sihombing mengenai Prinsip-prinsip keluarga Kristen. Pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip keluarga Kristen akan membantu Jemaat untuk mempertahankan identitas diri dalam perubahan jaman yang semakin plural.

Selain memperkuat institusi keluarga gereja juga di dorong memperkuat ekonomi lokal melalui pemberdayaan potensi-potensi lokal yang dimiliki jemaat. Demikian disampaikan Ibu Asimayanti Siahaan dalam paparannya. Beliau menambahkan bahwa gereja harus mampu menjadi fasilitator untuk pemberdayaan masyarakat mulai dari indvidu hinggga kolektif dan itu memerlukan waktu. Hal senanda juga disampaikan oleh Prof. Dr. Janianton Damanik. Dalam paparannya peran gereja sangat penting agar masyarakat setempat tidak terpinggirkan dan hanya menjadi penonton dalam arus perubahan yang terjadi. Gereja diharapkan mampu memertahankan tanah-tanah yang dimiliki warga dan dikelola bersama untuk kesejahteraan bersama. Selain hal tersebut beliau juga menekankan pentingnya gereja mengkonservasi budaya lokal melalui acara-acara di gereja baik dalam bentuk pakaian, alat musik, makanan dan lain-lain. Karena hal tersbutlah yang dapat menjadi keunggulan masyarakat setempat di banding pihak lain. Maka mempertahankan warisan budaya tersebut memberikan manfaat baik secara moral maupun ekonomis.

Sebagai pembicara terakhir Bapak R.E. Nainggolan menyampaikan perlunya penetapan status Danau Toba sebagai salah satu Geopark yang diakui oleh dunia. Hal ini akan membantu dalam pelestarian alam di danau toba. Beliau menyampaikan bahwa pelestarian danau toba adalah tanggung jawab kita semua baik pemerintah, masyarakat, pengusaha juga gereja. Dengan lingkungan yang lestari tentu masyarakat dapat hidup dengan sejahtera. Untuk itu perlu ada perubahan pola pikir di masyarakat agar mau bersama-sama menjaga lingkungan untuk masa depan yang lebih baik. Setelah pemaparan keempat narasumber, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya kepada para narasumber. Hasil diskusi ini diharapkan ada tindak lanjut dan langkah-langakh konkrit yang dapat diambil, sehingga diskusi yang dilakukan tidak menjadi sia-sia. Setelah sesi tanya jawab acara kemudian ditutup oleh bapak Ephorus GKPS Pdt. Rumanja Purba, M. Si sekaligus ketua KN-LWF.(mn/kn-lwf)

Bagikan Postingan ini: