Mengambil Risiko untuk Mengasihi

Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Yohanes 14:15

Baca: Yohanes 21:15-19

Setelah seorang sahabat mengakhiri persahabatan kami yang sudah terjalin selama sepuluh tahun tanpa penjelasan apa-apa, saya kembali kepada kebiasaan lama dan menjaga jarak dengan orang lain. Dalam proses menyembuhkan luka hati itu, saya membaca buku The Four Loves (Empat Jenis Kasih) karya C.S. Lewis. Menurut Lewis, kasih membutuhkan kerentanan. Ia berkata, “tidak ada jaminan yang aman” ketika seseorang mengambil risiko untuk mengasihi. Ia berpendapat, mengasihi “apa pun [akan membuat] hati tersayat dan mungkin saja hancur.” Kata-kata itu mengubah cara pandang saya terhadap peristiwa ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 21:1-14), yang terjadi setelah Petrus menyangkal Dia bukan hanya satu kali, tetapi sampai tiga kali ( 18:15-27).

Yesus berkata, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (21:15). Setelah mengalami pedihnya pengkhianatan dan penolakan, Yesus berbicara kepada Petrus dengan keberanian dan bukan rasa takut, dengan kekuatan dan bukan kelemahan, dengan tidak mementingkan diri sendiri dan bukan karena putus asa. Dengan menegaskan kerelaan-Nya untuk mengasihi, Yesus menunjukkan belas kasihan dan bukan kemarahan.

Kitab Suci menyingkapkan: “Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’” (ay. 17). Namun, ketika Yesus meminta Petrus untuk membuktikan kasihnya dengan cara mengasihi orang lain (ay. 15-17) dan mengikut Dia (ay. 19), Dia mengundang semua murid-Nya untuk mengambil risiko dengan mengasihi tanpa syarat. Setiap dari kita harus memberi jawaban ketika Yesus bertanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jawaban kita akan mempengaruhi cara kita mengasihi orang lain.

Oleh: Xochitl Dixon

Renungkan dan Doakan
Mengapa Allah Mahakasih meminta anak-anak-Nya mengambil risiko dilukai, demi mengasihi orang lain, seperti yang Yesus lakukan? Bagaimana hubungan yang dekat dengan Allah menolong Anda merasa aman mengambil risiko untuk mengasihi?

Allah Mahakasih, runtuhkanlah setiap halangan yang membuatku takut terluka, supaya aku dapat mengasihi-Mu dan sesamaku dengan keberanian, belas kasihan, dan konsistensi yang dikaruniakan Roh-Mu.
Amin….
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu…

WAWASAN
Dalam Perjanjian Baru berbahasa Yunani, dua kata kerja yang diterjemahkan “kasih” adalah phileō (“menjadi kawan dari” [orang atau objek] atau “mempunyai perasaan sayang terhadap”) dan agapaō (“kasih yang didasari kekaguman, pemujaan, penghargaan”).

Kedua kata itu dipakai dalam Yohanes 21:15-16. Yesus memakai agapaō, sedangkan Petrus menggunakan phileō. Namun, di ayat 17, Yesus dan Petrus sama-sama menggunakan phileō. Sebagian ahli Alkitab menganggap penting pemakaian dua kata yang berbeda tersebut di dalam Yohanes 21, sedangkan yang lain tidak. Penafsir Craig Keener menyatakan: “Kedua kata Yunani untuk ‘kasih’ di sini dipakai bergantian sepanjang kitab Yohanes.”

Petrus pernah menyangkali Kristus tiga kali (lihat Yohanes 18:15-18, 25-27). Betapa besar kemurahan hati Yesus yang memberi kesempatan bagi Petrus untuk menegaskan kembali kasihnya sebanyak tiga kali. Apakah kasih Petrus benar-benar tulus? Ya, ketulusan Petrus sampai membawanya rela menjalani kehidupan dan kematian yang memuliakan Allah (lihat 21:18-19). –Arthur Jackson

Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti

BIRO INFOKOM HKI

Bagikan Postingan ini: