Mengasihi Orang-orang Terkasih

Terimalah dia, apabila dia datang kepadamu.

Baca: Kolose 4:7-10

Amos seorang yang sangat ekstrover, sedangkan Danny penyendiri yang tidak percaya diri. Entah bagaimana, kedua orang genius dengan kepribadian bertolak belakang ini menjadi sahabat karib. Mereka tertawa dan belajar bersama selama satu dekade penuh. Hasil kolaborasi mereka kelak akan dianugerahi Hadiah Nobel. Namun, suatu waktu Danny menyatakan kepada Amos bahwa ia tidak lagi mau berteman dengan Amos karena tidak tahan dengan gaya hidupnya yang egois.

Tiga hari kemudian, Amos mengabari Danny sebuah kabar buruk. Dokter menemukan kanker dalam tubuh Amos dan memperkirakan masa hidupnya tinggal enam bulan. Hati Danny hancur. “Kita bersahabat,” katanya, “apa pun pendapatmu tentang kita.”

Paulus seorang visioner yang keras kepala dan Barnabas seorang pemberi semangat berhati lembut. Roh Kudus menempatkan mereka bersama-sama dan mengutus mereka dalam suatu perjalanan misi (Kis. 13:2-3). Mereka mewartakan Injil dan merintis gereja, sampai akhirnya mereka berselisih paham tentang pembelotan Markus. Barnabas ingin memberi Markus kesempatan kedua, tetapi Paulus menganggap Markus tak lagi dapat dipercaya. Akhirnya mereka berpisah (15:36-41).

Pada akhirnya Paulus memaafkan Markus. Ia menutup tiga suratnya dengan salam dari Markus atau pujian tentang dirinya (Kol. 4:10; 2 Tim. 4:11, Flm. 1:24). Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Barnabas. Apakah ia hidup cukup lama untuk berdamai kembali dengan Paulus? Mudah-mudahan.

Apa pun situasi Anda hari ini, cobalah untuk merangkul kembali mereka yang pernah bersengketa dengan Anda. Sekaranglah waktunya untuk menunjukkan dan memberi tahu mereka betapa Anda mengasihi mereka.

Oleh: Mike Wittmer

Renungkan dan Doakan
Dengan siapa Anda perlu berdamai? Bagaimana Anda menghadapi kepedihan hati Anda, jikalau orang itu ternyata sudah tiada?

Bapa, tolong aku untuk melihat bahwa salah satu tujuan utama dari hidup ini adalah menunjukkan kasih kepada orang-orang di sekitarku.
Amin….
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu.

WAWASAN
Kisah Para Rasul 15:36-41 menggambarkan Paulus sebagai pemimpin pelayanan yang tegas, kurang berempati, dan tidak dapat menerima kegagalan. Namun, itu bukan gambaran sepenuhnya dari diri Paulus. Kitab Suci juga menggambarkannya sebagai seorang dengan hati pastoral. Paulus menunjukkan penghargaannya terhadap orang-orang yang bekerja bersamanya, dengan menyebut secara khusus nama-nama mereka di dalam surat-suratnya. Delapan puluh sampai sembilan puluh orang disebutnya sebagai “teman sekerja” (Roma 16:3,9,21; Kolose 4:11; 1 Tesalonika 3:2; Filemon 1:1,24). Beberapa di antaranya sesama misionaris, sementara yang lainnya adalah murid atau bawahannya, rekan sepelayanan, teman seperjalanan, sesama tahanan, dan para pendukung. Kolose 4:7-18 memberikan kepada kita secuplik hati pastoral Paulus ketika ia menyebut secara khusus sepuluh rekan sekerjanya dari gereja di Kolose. Rasul Paulus bukan saja pemimpin yang bervisi besar; ia juga seorang mentor yang hebat, gembala yang penuh kasih, dan sahabat yang rela memperhatikan sesama dan pelayanan mereka. –K.T. Sim

BIRO INFOKOM HKI

Bagikan Postingan ini: