Pekerjaan yang Baik

Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. –Filipi 1:6

Baca: Mazmur 139:13-24

Saat remaja, Charles Spurgeon pernah bergumul dengan Allah. Ia rajin ke gereja, tetapi merasa apa yang dikhotbahkan hambar dan tidak berarti. Ia sulit untuk percaya kepada Allah, dan menurut Spurgeon, dirinya “membangkang dan memberontak”. Pada suatu malam yang dilanda badai salju, Spurgeon yang berusia enam belas tahun terpaksa berlindung di sebuah gereja Methodis kecil. Ia pun mendengar khotbah pendeta di sana dan merasa pesannya ditujukan khusus untuk dirinya. Di saat itulah, Allah menaklukkan keraguan Spurgeon, dan ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus.

Spurgeon kemudian menulis, “Jauh sebelum saya memulai dengan Kristus, Dia telah lebih dahulu memulainya dengan saya.” Sesungguhnya, kehidupan kita bersama Allah tidak dimulai ketika kita diselamatkan. Pemazmur berkata bahwa Allah “membentuk buah pinggang [kita], menenun [kita] dalam kandungan ibu [kita]” (Mzm. 139:13). Rasul Paulus menulis, “Tetapi karena kebaikan hati Allah, Ia memilih saya sebelum saya lahir dan memanggil saya untuk melayani Dia” (Gal. 1:15 BIS). Allah juga tidak berhenti bekerja di dalam kita ketika kita sudah diselamatkan: “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya” (Flp. 1:6).

Kita semua adalah karya yang masih terus digarap oleh tangan Allah yang Mahakasih. Dia memimpin kita melewati pergumulan pemberontakan kita dan menyambut kita ke dalam pelukan-Nya yang hangat. Namun, penggenapan rancangan-Nya bagi kita baru dimulai. “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:13). Tenanglah, karena Allah masih melakukan pekerjaan yang baik dalam diri kita, berapa pun usia kita, bagaimanapun keadaan hidup kita.

Oleh: Kenneth Petersen

Renungkan dan Doakan
Bagaimana cara Allah bekerja dalam hidup Anda saat ini? Apa yang dikerjakan-Nya untuk menggenapi rancangan-Nya?

Allah Mahakasih, aku takjub merenungkan kasih pemeliharaan-Mu sejak aku lahir. Terima kasih. Tolonglah aku menanggapi karya-Mu yang masih terus berlangsung dalam hidupku.
Amin….
Selamat menjalani hari ini dengan semangat dan Kekuatan dari Tuhan, Gbu.

WAWASAN
Mazmur 139 mempunyai komposisi lirik yang sangat indah. Pemazmur merayakan kemahatahuan Allah (pengetahuan Allah tentang segala sesuatu; ay. 1-6), kemahahadiran-Nya (kehadiran-Nya di mana-mana; ay. 7-12), dan keintiman Daud dengan Allah yang Mahakuasa (ay. 13-18). Mazmur ini ditutup (ay. 23-24) dengan cara yang sama dengan pembukanya (ay. 1-2). Perhatikan pengulangan kata-kata selidik dan kenal.

Sekilas, ayat 19-22 tampak tidak cocok berada dalam mazmur ini karena nada dan isinya yang berbeda dengan bagian lainnya. Meski Daud menulis sebagai kawan karib Allah, ada orang-orang yang menjalani hidup dengan melawan Allah. Mereka disebut “orang fasik” (ay. 19), “melawan [Allah]” (ay. 20), dan “orang-orang yang bangkit melawan Engkau” (ay. 21). Namun demikian, pemazmur yang menyadari Allah tidak termasuk di antara mereka, dan terang-terangan membedakan dirinya dari mereka. Kesamaan ayat 19-22 dengan apa yang menyusul kemudian di Mazmur 140 memberikan gambaran bagaimana kedua mazmur tersebut seharusnya dibaca bersama-sama. –Arthur Jackson

Anda bisa memberikan dampak yang lebih berarti

BIRO INFOKOM HKI

Bagikan Postingan ini: