Renungan Pagi, Senin 18 Mei 2020

Ayat Bacaan  : Kejadian 9:8-17

Ayat Renungan         : Kejadian 9:11

“Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak aka nada lagi air bah untuk memusnahkan bumi”.

“Janji Yang Manis”

Kita sering mendengar orang mengucapkan janji. Pada waktu pemberkatan nikah kedua pengantin saling mengucapkan janji setia sampai mati. Demikian juga pejabat yang dilantik mengucapkan sumpah janji untuk melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan peraturan dan ketetapan yang ada. Namun bagaimana realitanya? Masing-masing kita yang memberi jawab. Yang pasti ada banyak suami istri bercerai. Demikian juga ada sejumlah pejabat yang korupsi, dan mengingkari janjinya. Benar seperti ada lagu: Engkau yang berjanji, engkau yang mengingkari”. Namun tidak demikian dengan janji Tuhan. Janji Tuhan “Ya” dan “Amin”. Tuhan berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Karena janji Tuhan manis.

Nuh dan keluarganya telah melewati suatu peristiwa yang paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia. Bumi yang semula dipenuhi makhluk berdosa telah musnah oleh murka Allah. Namun dibalik murka Allah itu ada celah pengampunan sebab Allah tidak hanya bermaksud menghukum Bumi tetapi juga membaharuinya. Nuh, keluarganya dan segala binatang yang ada dalam bahtera terpilih untuk memulai kehidupan yang baru itu. Mereka akan menjalani rangkaian sejarah keselamatan yang telah dirancang Allah. Maka secara sepihak Allah membuat perjanjian dengan Nuh, keluarganya dan seluruh maklhuk lainnya bersama mereka. Bahwa Allah tidak akan memusnahkan bumi ini lagi dengan air bah. Untuk meyakinkan mereka, sampai berkali-kali Allah mengucapkan janji-Nya (Kej. 8:21-22; 9:11; 15) bahkan membuat tanda untuk menguatkan janji itu (Ay. 13-14).

Saudaraku, dalam praktek kehidupan sehari-hari, betapa sering kita melupakan dan mengabaikan perjanjian keselamatan Allah yang telah dianugerahkan dalam kehidupan kita. Itu sebabnya perjalanan hidup tidak lagi kita hayati sebagai suatu ziarah iman, tetapi sebagai serangkaian dosa. Secara khusus di tengah Pandemi Covid 19 ini, Tuhan Allah telah berjanji akan menyelamatkan setiap manusia percaya kepada-Nya dalam situasi tersulit sekalipun, dan kita sebagai ciptaan-Nya harus tetap percaya dan berjanji melakukan setiap perkataan-Nya dengan sukacita. Amin.

Penulis:

Vic. Pdt. Ferdianto Tumanggor, S.Th