Tak Perlu Minta Maaf

Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya. –Lukas 7:38

Baca: Lukas 7:36-44

“Maafkan aku,” ucap Karen karena terus menangis. Setelah kematian suaminya, ia sangat sibuk mengurus anak-anaknya yang berusia remaja. Ketika sejumlah jemaat mengadakan perkemahan akhir pekan untuk menghibur mereka sekaligus memberikan kesempatan bagi Karen untuk beristirahat, ia menangis penuh haru dan syukur, sambil berkali-kali memohon maaf atas air matanya.

Mengapa banyak dari kita memohon maaf dan merasa malu karena menangis? Simon, seorang Farisi, pernah mengundang Yesus makan di rumahnya. Di tengah acara makan, ketika Yesus duduk, seorang perempuan yang hidup dalam dosa membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu” (Luk. 7:38). Tanpa malu, perempuan itu mengungkapkan kasihnya dengan leluasa dan kemudian mengurai rambutnya untuk menyeka kaki Yesus. Dengan hati penuh rasa syukur dan kasih kepada Yesus, ia menciumi dan meminyaki kaki-Nya—tindakan yang bertolak belakang dengan sambutan dari tuan rumah yang berhati dingin.

Apa tanggapan Yesus? Dia memuji ungkapan kasih yang meluap-luap dari perempuan itu dan menyatakan bahwa dosanya telah “diampuni” (ay. 44-48).

Kita mungkin pernah menahan air mata kita mengalir ketika kita bersyukur kepada-Nya. Namun, Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki perasaan, dan kita boleh menggunakan perasaan kita untuk menghormati Dia. Seperti perempuan dalam Injil Lukas di atas, janganlah malu menyatakan kasih kita kepada Allah kita yang baik, yang telah memenuhi segala kebutuhan kita, dan yang menerima ucapan syukur kita dengan gembira.

Oleh: Elisa Morgan

Renungkan dan Doakan
Bagaimana Anda mengungkapkan ucapan syukur kepada Allah dengan perasaan Anda hari ini? Bagaimana Anda dapat menolong orang lain merasa nyaman mengungkapkan perasaan mereka?

Allah Mahakasih, aku bersyukur karena anugerah-Mu mencukupkanku! Terimalah rasa syukur yang kunaikkan dengan sepenuh hatiku hari ini.
Amin….
Selamat pagi selamat beraktifitas tetap semangat, Gbu

WAWASAN
Pada abad pertama di Galilea, para guru sering diundang ke dalam perjamuan makan dan masyarakat umum diundang untuk datang dan mendengarkan mereka. Dalam Lukas 7, penonton dikejutkan ketika seorang wanita yang memiliki reputasi buruk berani berinteraksi langsung dengan Yesus dan mengungkapkan rasa kasih serta syukurnya dengan mengurapi kaki-Nya. Kisah ini adalah salah satu contoh tema yang menonjol dalam Injil Lukas: orang-orang yang terpinggirkan secara sosial—yang dipandang rendah oleh kalangan religius—menjadi orang-orang yang memberikan kesaksian paling kuat mengenai kebenaran Injil. –Monica La Rose

Mari memberikan dampak yang lebih berarti bagi sesama dan lingkungan

BIRO INFOKOM HKI

Bagikan Postingan ini: