PEMATANGSIANTAR — Keluarga besar Kantor Pusat Huria Kristen Indonesia (HKI) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia (RI) dengan penuh sukacita, Senin (17/8/2026). Perayaan yang dilaksanakan di Kantor Pusat HKI, Jalan Melanthon Siregar No. 111 Pematangsiantar, tersebut diikuti oleh Pucuk Pimpinan HKI (Ephorus dan Sekretaris Jenderal), para Kepala Departemen, Kepala Biro serta pegawai dan staf Kantor Pusat HKI bersama keluarga (suami atau istri dan anak-anak). Rangkaian kegiatan diisi dengan upacara bendera, berbagai perlombaan, makan bersama, aksi berbagi kasih, serta acara perpisahan dengan Justa Charles, South-South Volunteer United Evangelical Mission (UEM) yang telah melayani bersama HKI selama satu tahun.
Perayaan HUT RI ke-81 ini dengan semangat “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, tidak hanya kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam perjalanan Indonesia, sekaligus mempererat kebersamaan keluarga besar Kantor Pusat HKI.
UPACARA BENDERA BERLANGSUNG KHIDMAT
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara pengibaran Bendera Merah Putih. Meskipun dilaksanakan di bawah terik matahari, seluruh peserta mengikuti upacara dengan penuh khidmat dan tertib. Upacara dipimpin oleh Pdt. Boy F. Tampubolon, sementara Ephorus HKI, Pdt. Dr. Tony L. Hutagalung, MSc bertindak sebagai pembina upacara.
Petugas pengibar bendera terdiri dari C. Pdt. Elista Simanjuntak, C. Pdt. Efri Simorangkir, dan Tri Fandi Simanjuntak sebagai pembawa bendera. C. Pdt. Barita Silaban bertugas membawa naskah Proklamasi dan naskah Pancasila sekaligus menyampaikan naskah arahan pembina upacara. Pembacaan UUD 1945 dilakukan oleh Pdt. Dormen Pasaribu, M.Th., Sekretaris Jenderal HKI. Sementara itu, Biv. Merlin Sihombing bertugas sebagai kondak, doa upacara dipimpin oleh Pdt. Mangaliup Simanjuntak, dan jalannya upacara dipandu oleh C. Pdt. Ayu Hutasoit sebagai protokol.
EPHORUS: MENGISI KEMERDEKAAN DENGAN KEUGAHARIAN
Dalam arahannya, Ephorus HKI, Pdt. Dr. Tony L. Hutagalung, MSc mengajak seluruh keluarga besar HKI untuk memaknai kemerdekaan sebagai anugerah Tuhan yang harus disyukuri dan diisi melalui perjuangan untuk menghadirkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Ephorus menekankan bahwa perjuangan mengisi kemerdekaan merupakan tanggung jawab generasi saat ini. Jika para pejuang bangsa dahulu bersatu tanpa membedakan agama, suku, daerah, dan bahasa untuk memperjuangkan kemerdekaan, maka generasi sekarang dipanggil untuk melanjutkan perjuangan tersebut melalui pembangunan rohani, pendidikan, dan pembentukan karakter anak bangsa. Menurutnya, kemerdekaan harus dapat dirasakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kemerdekaan dalam beribadah, memperoleh pendidikan yang baik, menyuarakan kebenaran, serta membangun kehidupan yang menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan.
Dalam konteks mengisi kemerdekaan, Ephorus secara khusus mengajak warga HKI untuk belajar menjalani spiritualitas ugahari atau keugaharian, yakni pola hidup sederhana, bersahaja, wajar, dan mampu mencukupkan diri dalam berbagai keadaan. Keugaharian, menurutnya, merupakan bentuk syukur atas berkat Tuhan sekaligus sikap untuk mengendalikan diri dari keserakahan dan gaya hidup materialistis. Ia mengajak warga HKI untuk menerapkan keugaharian dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dengan berbelanja berdasarkan kebutuhan dan fungsi, mengambil makanan dan minuman secukupnya, mengelola keuangan dengan bijaksana, menabung, serta berani berkata cukup terhadap keinginan memiliki barang mewah serta menahan diri agar tidak mengikuti tren yang tidak diperlukan.
Ephorus juga mengingatkan bahwa berkat Tuhan yang diterima secara berlimpah hendaknya mendorong seseorang untuk peduli kepada mereka yang mengalami kesulitan dan penderitaan. Pesan tersebut dikaitkan dengan Lukas 3:10-14, ketika Yohanes Pembaptis mengajarkan orang banyak untuk hidup saling berbagi dan memiliki kepedulian terhadap mereka yang berkekurangan. “Sebagai warga gereja HKI dan sebagai pelayan di Kantor Pusat HKI, marilah kita menjadi teladan. Teladan dalam perilaku, teladan dalam membangun karakter dan teladan dalam mempergunakan waktu kita,” ujar Ephorus.
Di akhir arahannya, Ephorus mengajak seluruh keluarga besar HKI untuk terus mengisi kemerdekaan dengan membangun karakter manusia Indonesia melalui kehidupan yang bertanggung jawab dan ugahari. Ia juga menyampaikan ucapan selamat menyongsong Yubileum 100 Tahun HKI.
“HKI FOR INDONESIA”: SIMBOL KESATUAN DAN NASIONALISME
Semangat kebersamaan dan nasionalisme juga terlihat dari pakaian yang dikenakan seluruh pegawai dan staf Kantor Pusat HKI. Para pegawai mengenakan kaos berkerah bertuliskan “HKI for Indonesia”. Desain kaos tersebut menggunakan warna merah pada bagian atas dan putih pada bagian bawah secara diagonal. Selain menjadi identitas bersama, kaos tersebut menjadi simbol kesatuan dan semangat nasionalisme keluarga besar HKI sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Peserta yang hadir bukan hanya pegawai dan staf, tetapi juga keluarga mereka. Suami atau istri serta anak-anak turut hadir dan mengambil bagian dalam berbagai rangkaian kegiatan. Kehadiran keluarga tersebut membuat perayaan HUT RI ke-81 di Kantor Pusat HKI terasa semakin hangat. Perayaan kemerdekaan menjadi ruang bagi keluarga besar Kantor Pusat HKI untuk berkumpul, bersukacita, dan menikmati kebersamaan di luar rutinitas pekerjaan dan pelayanan.
BERBAGAI PERLOMBAAN MEMERIAHKAN PERAYAAN
Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan berbagai perlombaan yang menghadirkan suasana meriah dan tawa. Perlombaan yang dilaksanakan antara lain lari goni, menjepit cup plastik menggunakan karet gelang yang diikatkan kepada beberapa tali, tari balon yang diperuntukkan bagi pasangan suami istri, serta lomba cerdas cermat tentang Indonesia dan HKI.
Anak-anak yang hadir juga turut menikmati suasana kemerdekaan melalui lomba makan kerupuk. Berbagai perlombaan tersebut menjadi kesempatan bagi pegawai dan staf Kantor Pusat HKI untuk membangun kebersamaan dalam suasana yang santai. Semangat kompetisi tetap hadir, namun suasana persaudaraan dan kegembiraan menjadi warna utama sepanjang perlombaan.
Setelah perlombaan, seluruh peserta menikmati makan siang bersama. Anak-anak yang hadir juga mendapatkan bingkisan sebagai bagian dari sukacita perayaan.
BERBAGI KASIH KEPADA ANAK-ANAK PA ZARFAT HKI
Perayaan HUT RI ke-81 Kantor Pusat HKI ini juga dirangkai dengan aksi berbagi kasih kepada anak-anak Panti Asuhan Zarfat HKI. Kegiatan berbagi kasih tersebut menjadi bentuk kepedulian dan ungkapan syukur dalam merayakan kemerdekaan. Sukacita kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui kebersamaan internal Kantor Pusat HKI, tetapi juga diwujudkan dengan berbagi kepada sesama. Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dan berkat yang diterima merupakan panggilan untuk menghadirkan kasih dan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.
SETAHUN BERSAMA HKI, JUSTA CHARLES BERBAGI PENGALAMAN
Salah satu rangkaian yang turut memberikan warna khusus dalam kegiatan tersebut adalah acara perpisahan dengan Justa Charles. Justa merupakan peserta South-South Volunteering Program 2025/2026 dari Evangelical Lutheran Church in Tanzania – North-Western Diocese (ELCT-NWD) yang ditempatkan untuk melayani bersama HKI. Justa telah bergabung dengan HKI sejak Agustus 2025 dan selama kurang lebih satu tahun melayani sebagai guru Bahasa Inggris di TK dan Sekolah Dasar HKI di Pematangsiantar. Melalui program UEM tersebut, Justa hadir di HKI dalam sebuah pengalaman yang menjadi ruang untuk belajar, dan berbagi lintas budaya.
Justa menyampaikan bahwa menjadi volunteer baginya bukan sekadar mengajar, tetapi juga tentang belajar, bertumbuh, dan membangun hubungan bermakna lintas budaya. Pengalaman tersebut juga mengajarkannya pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, sehingga setiap anak merasa percaya diri, dihargai, dan didukung. Menurutnya, perjalanan selama menjadi volunteer telah memperkuat keterampilannya, memperluas perspektifnya, dan mengingatkannya bahwa setiap tindakan pelayanan meninggalkan dampak, baik bagi mereka yang dilayani maupun bagi dirinya sendiri.
“Aku Tahu Kita Bersaudara”
Dalam acara perpisahan, Justa mengungkapkan rasa syukur karena selama berada di Indonesia ia mendapatkan banyak keluarga baru.
“Ini adalah suatu pengalaman besar bagiku karena sejak aku lahir, aku belum pernah mendapatkan pengalaman sebagai guru. Ini kali pertamanya dan itu sangat besar bagiku.”
Menurut Justa, pengalaman selama mengajar, melakukan perjalanan, dan bersama jemaat telah membuatnya memiliki banyak keluarga.
“Aku sangat bersyukur karena dengan pengalaman ini aku memiliki banyak keluarga, baik dalam mengajar sebagai guru, dalam perjalanan kami, maupun di jemaat. Itu yang membuat saya seperti tidak rindu pulang kampung, merasa home. Jadi itu adalah sebuah pengalaman besar.”
Secara khusus, Justa menyampaikan terima kasih kepada teman-teman di Kantor Pusat HKI, terutama kepada C. Pdt. Epifania Simanjuntak, yang tinggal bersamanya selama masa pelayanan. Ia mengaku sangat terharu karena Epifania memperlakukannya seperti saudara perempuan.
“Saya sungguh terharu. Sebagaimana dia berlaku sama saya, dia berlaku kepada saya sebagai saudara perempuan, sebagai sister. Saya tidak bisa berkata-kata.”
Kunjungi juga kanal YouTube HKI untuk mengetahui informasi terbaru seputar pelayanan HKI.
Justa juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar HKI dan mengungkapkan kerinduannya kepada teman-teman di TK, sekolah, dan mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan pelayanannya. Ia berharap HKI terus membuka kesempatan bagi para volunteer untuk datang dan belajar serta berbagi pengalaman.
Dalam sebuah kalimat sederhana yang disampaikannya dalam bahasa Indonesia, Justa berkata: “Aku tahu kita bersaudara.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu momen yang kuat dalam acara perpisahan tersebut, menggambarkan hubungan persaudaraan yang telah terbentuk selama satu tahun kebersamaan. Justa juga berharap suatu saat ada keluarga HKI yang dapat berkunjung ke Tanzania atau Vukovar dan ia berjanji akan menerima mereka sebagai saudara dan keluarga.
“Saya rindu ada di antara kita yang akan berangkat ke Tanzania, ke Vukovar, dan saya berjanji saya akan menerimanya seperti saudara, seperti keluarga ketika bertemu di Tanzania. God bless you. Sampai ketemu.”
SELENDANG GORGA BATAK UNTUK KENANGAN
Sebagai tanda kasih dan kenang-kenangan, keluarga besar HKI memberikan cenderamata kepada Justa berupa selendang bermotif gorga Batak. Selendang tersebut kemudian dilingkarkan ke leher Justa oleh Ibu Sekretaris Jenderal HKI.
Pemberian cenderamata dilanjutkan dengan foto bersama Justa dan Pucuk Pimpinan HKI. Momen tersebut menjadi simbol bahwa meskipun masa pelayanan Justa bersama HKI telah berakhir, pengalaman dan persaudaraan yang telah terbentuk diharapkan tetap menjadi kenangan yang dibawa dalam perjalanan selanjutnya. Suasana perpisahan semakin mengharukan ketika Justa menyanyikan lagu “Dalam Yesus Kita Bersaudara.”
Justa telah begitu fasih menyanyikan lagu tersebut, sehingga lagu itu menjadi penutup yang sangat sesuai dengan suasana perpisahan. Pesannya sederhana: perbedaan negara, budaya, dan bahasa tidak menghilangkan persaudaraan di dalam Kristus.
EPHORUS: “TELL THE GOODNESS AND THE HAPPINESS”
Merespon kata-kata perpisahannya, Ephorus HKI menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada Justa karena telah hadir dan berbagi pengetahuan bersama HKI.
“Kami sangat bangga, rupanya ada yang dikirim dari luar negeri untuk bersama HKI. Thank you very much for coming to HKI.”
Ephorus juga menyampaikan apresiasi atas kesediaan Justa tinggal bersama keluarga besar HKI dan berbagi pengetahuan serta pengalaman sebagai guru.
“On behalf of HKI, we would like to say thank you very much for staying with us and sharing the knowledge to practice as a teacher. And we are very happy because we have a teacher from abroad.”
Dengan penuh keakraban, Ephorus kemudian menitipkan pesan kepada Justa agar membawa cerita-cerita baik tentang pengalamannya selama berada di HKI.
“Please tell the goodness and the happiness, don’t tell our weaknesses.”
Sebagai tanda kasih, HKI memberikan cenderamata kepada Justa dengan harapan dapat menjadi kenangan yang mengingatkannya kepada HKI.
“Hopefully, this is memorable for you. If you see this small gift, you will remember HKI. God bless you.”
PANITIA: HUT RI TERLAKSANA KARENA GOTONG ROYONG
Ketua Panitia HUT RI ke-81 Kantor Pusat HKI, Pdt. Herwin Harianja, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam mempersiapkan dan menyukseskan kegiatan. Ia mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik dari awal hingga akhir.
Menurut Pdt. Herwin, keberhasilan kegiatan tersebut tidak terlepas dari semangat gotong royong seluruh pegawai dan staf Kantor Pusat HKI. Persiapan telah dilakukan sejak beberapa minggu sebelumnya mulai dari mempersiapkan konsumsi, kebutuhan upacara, perlengkapan perlombaan, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Bahkan khusus dalam mempersiapkan konsumsi, sejak subuh, semua terlibat, saling membantu.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, termasuk dukungan materi, sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Semangat gotong royong tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perayaan HUT RI ke-81 di Kantor Pusat HKI. Seluruh pihak bersama-sama ambil bagian sesuai dengan tugas masing-masing sehingga kegiatan dapat berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan.
MERAYAKAN KEMERDEKAAN, MERAWAT PERSAUDARAAN
Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Kantor Pusat HKI akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan hari nasional. Upacara bendera menjadi ruang untuk mengingat perjuangan dan mensyukuri kemerdekaan. Perlombaan menghadirkan sukacita dan kebersamaan. Kehadiran keluarga menjadikan Kantor Pusat HKI sebagai ruang perjumpaan keluarga besar. Aksi berbagi kasih menjadi wujud kepedulian kepada sesama. Sementara perpisahan dengan Justa Charles menjadi pengingat bahwa pelayanan dapat mempertemukan orang-orang dari berbagai bangsa dalam satu persaudaraan.
Di tengah semangat “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”, keluarga besar Kantor Pusat HKI diajak untuk terus mengisi kemerdekaan dengan karya, pelayanan, kepedulian, dan kehidupan yang bertanggung jawab. Pesan Ephorus tentang keugaharian juga menjadi refleksi penting: kemerdekaan tidak semestinya diisi dengan keserakahan dan kehidupan yang berlebihan, melainkan dengan rasa syukur, pengendalian diri, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan berbagi berkat Tuhan. Perayaan tersebut ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Pdt. Hugo de Groot Nababan.
No comments yet.