Jesaya :9-2-7, JAMITA PESTA NATAL BODARINA 24 DESEMBER 2016

JAMITA PESTA NATAL BODARINA, 24 DESEMBER 2016

NATS : Jesaya :9-2-7

 

Seorang Anak Telah Lahir Untuk Kita

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus Yesus…

Nats ini berisikan nubuat tentang kelahiran Yesus. Ia berbicara tentang kelahiran itu seakan-akan itu telah terjadi, sekalipun dari sudut pandangnya itu masih akan terjadi di masa yang akan datang. Sebab nats ini ditulis dalam kitab Perjanjian Lama, jauh sebelum Yesus lahir ke dunia ini.

Mengapa kelahirannya ditulis dalam bentuk lampau ? Sekalipun ini adalah nubuat, tetapi digunakan bentuk lampau, seakan-akan hal itu sudah terjadi. Hal ini untuk menunjukkan kepastian terjadinya nubuat itu. Penglihatan yang bersifat nubuat, pada waktu peristiwa-peristiwa dari masa yang akan datang lewat di depan pikirannya, ia melihat anak yang dijanjikan itu, dan matanya diarahkan dengan sungguh-sungguh kepadanya.

Jadi, Yesaya menuliskannya dalam bentuk lampau, karena ia sudah melihat Anak itu dalam penglihatan yang diberikan kepadanya. “Seorang putera telah diberikan untuk kita”. Mesias sebagai pemberian Allah yang adalah kasih. Manusia tidak mempunyai hak atasNya, dan Allah dengan sukarela memberikan AnakNya untuk menjadi korban untuk dosa-dosa dunia. Bnd. Yoh 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, tetapi beroleh hidup yang kekal”.

Yesaya juga mengatakan, “namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Artinya, Kristus layak mendapatkan sebutan-sebutan / nama-nama ini karena ini memang menunjukkan diri dan karak-terNya.

 

Penasihat Ajaib:

Dalam Yes 28:29 itu hal itu ditujukan kepada YAHWEH. Dengan demikian pada waktu dalam ay 5b ini nama ini diberikan kepada Kristus, ini menunjukkan keilahian Kristus. Mesias memang ajaib dalam keberadaanNya sebagai Allah dan manusia dalam 1 pribadi, dalam ajaranNya yang mengherankan banyak orang (bdk. Mat 7:28), dalam tindakanNya, dalam kelahiranNya dari perawan, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga, dll. Juga kasih karunia Allah yang menebus dosa kita dan menyelamatkan kita melalui kedatangan dan penebusan Kristus, lebih ajaib dari mujijat apapun.

Ada yang membandingkan nama ini dengan Hak 13:18 dimana Malaikat TUHAN menjawab Manoah (ayah Simson) yang menanyakan namaNya dengan jawaban: ‘Mengapa engkau juga menanyakan namaKu? Bukankah nama itu ajaib ?’. Jawaban ini jelas menunjukkan keilahian dari Malaikat TUHAN itu. Jadi dalam Yes 9:5 ini nama itu juga menunjukkan keilahian Kristus.

“Penasihat” : bnd. Yes 11:2 yang menubuatkan bahwa pada Kristus ada ‘roh hikmat’. Kristus memang memberi kita hikmat sehingga kita menjadi bijaksana (bnd. Amsal 8:12-30 1Kor 1:24,30). Ia menasehati kita dari dalam melalui Roh Kudus, dan Ia juga menasehati kita dari luar melalui hamba-hambaNya / para pemberita Firman Tuhan.

Bila kita melihat pada penciptaan, Setan menyembunyikan dirinya dalam ular, dan menasehati si perempuan dengan kelicikan yang hebat, sehingga ia mengambil bagi dirinya buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, dengan harapan bahwa dengan itu ia akan menjadi seperti Allah? Ini adalah nasehat jahat yang menyebabkan manusia memberontak terhadap Penciptanya. Tidakkah itu sebagai akibat dosa membawa kematian ke dalam dunia ini dengan semua rentetan kesengsaraan / kutuk. Sehingga, Yesus menjadi penasihat untuk memulihkan-nya. Adalah karena suatu nasehat jahat dunia ini jatuh, dan pastilah tanpa nasehat dunia ini tak bisa dibangkitkan.

 

Allah yang perkasa:

Dalam Yes 10:21 istilah yang persis sama (EL GIBOR) digunakan untuk Allah. Jadi bahwa di sini istilah / nama ini diberikan kepada Kristus, menunjukkan bahwa Ia adalah Allah. Kalau kata ELOHIM dalam Perjanjian Lama kadang-kadang bisa digunakan terhadap makhluk yang lebih rendah dari Allah, tidak demikian halnya dengan EL. Nama ini disediakan untuk Allah yang benar dan hanya untuk Dia saja.

Apa yang harus dilakukan oleh Mesias, tidak bisa dilakukan oleh siapapun yang lebih rendah dari Allah. Ia harus menebus umat manusia; Ia harus mengalahkan kematian dan dosa; Ia harus menang atas Setan; Ia harus menjadi Korban yang bermanfaat. ‘Allah bersama / dengan kita’ telah dinyatakan sebagai salah satu dari nama-namaNya (pasal 7:14). Sekarang Ia diumumkan sebagai ‘Allah yang perkasa’.

 

Bapa yang kekal:

Kata ‘Bapa’ oleh Pulpit Commentary diartikan ‘Protector’ (= pelindung), seperti dalam Ayub 29:16 Ayub disebut sebagai ‘bapa bagi orang miskin’, dan dalam Yes 22:21 Elyakim disebut sebagai ‘bapa bagi penduduk Yerusalem’. Juga bisa ditambahkan arti ‘Creator’ (= Pencipta) dan ‘Preserver’ (= Pemelihara).

Calvin mengartikan istilah ini sebagai ‘Bapa dari kekekalan’, dimana ‘Bapa’ diartikan ‘author / pencipta atau sumber’. Istilah ‘Bapa’ di sini harus diartikan sesuai dengan kebiasaan orang di sana pada jaman itu. Sebab kebiasaan orang Timur untuk menyebut seseorang sebagai bapa dari kwalitet yang luar biasa/lain dari yang lain dalam dirinya. Sampai saat ini, di antara orang Arab, seorang yang bijaksana disebut ‘bapa dari hikmat’; seorang yang sangat bodoh disebut ‘bapa dari kebodohan’. Kwalitet yang utama/menonjol dianggap berasal dari dia seakan-akan itu adalah anaknya, dan ia adalah bapa dari kwalitet itu. Sekarang, Mesias di sini disebut dalam bahasa Ibrani ‘bapa dari kekekalan’ dengan mana dimaksudkan bahwa ia adalah pemilik dari kekekalan sebagai suatu sifat. Sama seperti ungkapan ‘bapa dari hikmat’ menunjukkan bahwa orang itu bijaksana, demikian pula istilah ‘Bapa dari kekekalan’ menunjukkan bahwa Yesus itu kekal; sehingga di atas semua yang lain, kekekalan dianggap berasal dari dia. … bukan hanya kekekalan dianggap berasal dari Kristus, tetapi di sini ia dinyatakan sebagai orang tua dari kekekalan. Yesus begitu kekal secara pasti dan hakiki, sehingga di sini ia digambarkan sebagai sumber dan Bapa dari kekekalan. Yesus bukanlah anak dari kekekalan, tetapi Bapa dari kekekalan. Kekekalan tidak melahir-kannya, tetapi ia melahirkan kekekalan.

 

Raja Damai:

Kita tahu dari Yoh 5:18 dan Yoh 10:30-33 bahwa istilah ‘Anak Allah’ sebetulnya menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. ay 5b menunjukkan Yesus sebagai Raja, ‘dan lambang pemerintahan ada di atas bahunya’. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Raja atau Kristus memegang pemerintahan.

Daud diberi janji bahwa kerajaannya akan kekal (2Sam 7:12-dst), dan ini digenapi dalam diri Kristus (bnd. Amos 9:11 – pondok Daud yang roboh dibangunkan kembali oleh Allah “dalam diri Kristus”.

 

Saudara-saudara yang terkasih

Apakah Yesus adalah Raja dalam hidup saudara ? Menjadikan Yesus sebagai Raja atau sebagai Tuhan dalam hidup kita ? Hal ini bisa dibandingkan dengan Luk 2:11 – “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”. Pemberitaan Injil oleh malaikat pada Natal yang pertama ini menggabungkan 2 gelar bagi Yesus, yaitu ‘Juruselamat’ dan ‘Tuhan’.

Orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat, juga harus menerimaNya sebagai Tuhan. Orang yang menolak Dia sebagai Tuhan, sebetulnya juga tidak pernah menerimaNya sebagai Juruselamat. Yesus disebut Raja : Ia mendamaikan manusia (yang mau percaya kepadaNya) dengan Allah (Ro 5:1 Ef 2:16-18 2Kor 5:18-21). Siapapun saudara dan bagaimanapun jahatnya saudara, kalau saudara mau percaya kepada Yesus, maka saudara akan diperdamaikan dengan Allah. Sebaliknya, betapapun baiknya/salehnya saudara, saudara tetap mempunyai dosa yang menjadikan saudara musuh Allah. Jadi saudarapun harus percaya kepada Yesus supaya bisa diperdamaikan dengan Allah.

Ia memberikan damai dalam hati orang yang percaya kepadaNya (Yoh 14:27 Mat 11:28-30). Damai yang sejati datang kepada kita karena seorang Anak dilahirkan. Anak itu, dan hanya Dia saja, adalah Raja Damai. Jika kita menginginkan damai, kepada Dialah kita harus pergi. Ia mendamaikan orang dengan orang (Ef 2:14). Ini terwujud dalam persekutuan orang Kristen. Orang ini adalah seorang Raja, dan Ia mengusahakan kebesaran KerajaanNya dan DiriNya sendiri bukan dalam perang, seperti yang dilakukan penguasa-penguasa biasa, tetapi dalam damai.

Damai dan pemerintahan disebutkan bersama-sama. Ini menyolok, karena kebanyakan pemerintahan mendapatkan perluasan melalui perang. Tidak seperti kerajaan-kerajaan yang lain, yang ini akan bertumbuh melalui jalan damai, melalui pekerjaan kasih karunia dari Roh Allah dalam hati manusia dan melalui pemberitaan injil.

Kalau saudara mau Kerajaan ini bertumbuh, banyaklah memberitakan Injil. PemerintahanNya berbeda dengan pemerintahan seorang tiran / diktator. Ini terlihat dari kata-kata ‘dengan keadilan dan kebenaran’ dalam ay 6b. Kerajaan dari Raja Damai ini kekal, dan ini ditunjukkan oleh kata-kata ‘tidak akan berkesudahan’ dalam ay 6a, dan kata-kata ‘dari sekarang sampai selama-lamanya’ dalam ay 6c (bdk. Dan 2:44a Dan 7:27 Luk 1:32-33).

KerajaanNya ini bertumbuh terus. Ay 6a: ‘Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan’. PemerintahanNya bertumbuh, dan makin hari makin meluas, dan akan berlanjut sampai segala sesuatu diletakkan di bawah kakiNya. Bnd. 1Kor 15:25 – “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuhNya di bawah kakiNya”.

Sekalipun kerajaan Kristus ada dalam keadaan sedemikian rupa dimana kelihatannya kerajaan itu akan binasa setiap saat, tetapi Allah bukan hanya melindungi dan mempertahankannya, tetapi juga memperluas batasannya, dan lalu memeliharanya dan meneruskannya dalam kemajuan yang tak putus-putusnya sampai kekekalan.

Kita harus dengan teguh mempercayai hal ini, supaya goncangan-goncangan yang sering menimpa Gereja tidak melemahkan iman kita, pada waktu kita mempelajari / mendengar bahwa di tengah-tengah teriakan marah dan serangan bengis dari para musuh, kerajaan Kristus berdiri teguh melalui kuasa Allah yang tak terkalahkan, sehingga sekalipun seluruh dunia melawan dan menentang, kerajaan itu akan tetap ada sepanjang jaman.

Kita tidak boleh menilai kestabilan kerajaan itu berdasarkan kelihatannya pada saat ini, tetapi dari janji, yang meyakinkan kita tentang kelanjutannya dan tentang pertumbuhan / perluasannya yang konstan.

Sekarang, untuk menerapkan ini bagi pengajaran kita, kapanpun ada ketidak-percayaan yang muncul, dan semua jalan keluar diambil dari kita, singkatnya, kapanpun kelihatan bagi kita bahwa segala sesuatu ada dalam kondisi yang hancur, biarlah kita mengingat bahwa Kristus disebut Ajaib, karena Ia mempunyai metode-metode yang tak dapat dibayangkan / dipahami untuk menolong kita, dan karena kuasaNya jauh melebihi apa yang bisa kita bayangkan.

Pada waktu kita membutuhkan nasehat, biarlah kita mengingat bahwa Ia adalah Penasehat. Pada waktu kita membutuhkan kekuatan, biarlah kita mengingat bahwa Ia Perkasa dan Kuat. Pada waktu ketakutan yang baru mendadak muncul, dan pada waktu banyak kematian mengancam kita dari banyak sudut, biarlah kita bersandar pada kekekalan terhadap apa Ia dengan alasan yang benar disebut Bapa, dan oleh penghiburan yang sama biarlah kita belajar untuk menenangkan / menyejukkan semua kesukaran / kesusahan yang sementara.

Pada waktu kita diombang-ambingkan secara batin oleh bermacam-macam badai, dan pada waktu Setan mencoba mengganggu hati nurani kita, biarlah kita mengingat bahwa Kristus adalah Raja / Pangeran Damai, dan bahwa adalah mudah bagiNya untuk menenangkan secara cepat semua perasaan gelisah / tak tenang kita. Amin (MBW)

Bagikan Postingan ini: