Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
Pendeta HKI Resort Hutabayu
MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS
MAZMUR 25: 15 – 22
PENGANTAR
Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih setia Allah Bapa dan
persekutuan Roh kudus menyertai kita sekalian, amin.
Pernahkah kita merasa rasa sakit yang begitu menyakitkan? Atau memiliki
pergumulan dan penderitaan yang sangat berat sehingga kita butuh teriak, menangis,
meratap atau kita butuh berbuat sesuatu untuk melampiaskan rasa sakit, ingin lepas
dari pergumulan atau penderitaan yang sangat berat tersebut. Mungkin kita butuh
teman yang siap sedia mendengarkan kita ketika kita ingin cerita (curhat). Akan
tetapi, dalam kehidupan ini tidak semua teman yang mau atau bersedia untuk
mendengarkan keluhan, jeritan, curahan hati kita dan ada pula sebahagian yang mau
mendengarkan kita namun itu dijadikan alat untuk menilai pribadi kita, atau kita
justru menjadi disudutkan. Tidak menjadi pemberi solusi (jalan keluar) melainkan
untuk menjatuhkan.
Dalam Nas khotbah ini merupakan suatu syair/ nyanyian dari seorang
pemazmur yang mencurahkan isi hatinya, keluhannya atau bahkan jeritannya tidak
kepada manusia melainkan kepada TUHAN, Allahnya. Agar kita dapat mengerti
jelas apa yang ingin disampaikan oleh Daud melalui Mazmurnya ini, marilah kita
masuk kepada penjelasan nas.
PENJELASAN NAS
Dari segi kepengarangannya atau penulisnya, kitab Mazmur 25 ini
merupakan mazmur yang dituliskan oleh Daud, seorang raja Israel. Allah memilih
dan menetapkan Daud menjadi seorang raja atas Irsrael melalui pengurapan yang
dilakukan oleh Samuel ketika raja Saul menjabat menjadi raja atas Israel. Ketika
Daud berhasil mengalahkan Filistin melalui kekalahan Goliat, banyak umat Israel
menyerukan agar Daud menjadi raja dan membandingkan kekuatan Daud dengan
Saul. Hal ini tentunya membuat Saul cemburu dan memiliki rencana untuk
membunuh Daud. Daud memiliki seorang sahabat yang bernama Jonathan dan istri
yang bernama Milkha, putri Saul.
Situasi hati saul pun sudah semakin panas ketika semakin banyak orang
Israel yang simpatik padanya dan mengeluelukan agar Daud menjadi raja
menggantikan Saul. Situasi ini membuat Saul ingin sekali membunuh Daud, yang
walaupun Daud adalah menantunya dan sahabat dari anaknya. Daud harus melarikan
diri dan meninggalkan keluarganya, sahabatnya. Ia berada dalam kondisi pengejaran
dan ancaman kematian. Bagi Saul kematian Daud adalah upaya mempertahankan
posisi kerajaannya.
Pada saat itulah Daud meratapi kondisi hidupnya di bawah tekanan,
ancaman dan pengejaran yang dilakukan oleh Saul. Sahabat dan istri yang ia kasihi
pun tidak mampu meredamkan kemarahan dan kecemburuan Saul. Ia tidak tahu
kepada siapa harus menangis dan meratap. Ia tidak tahu siapakah manusia yang mau
mendengarkan tangisan, cerita hatinya. Ia pun harus bersembunyi di daerah Ziklag
daerah kekuasaan Filisitin. Kita tahu bahwa Filistin dan Israel merupakan dua
bangsa yang bermusuhan. Ketika bangsa Filistin mengetahui Daud bersembunyi di
sana, Filistin pun ingin menangkap dan membunuhnya. Situasi demikian semakin
membuat Daud kesakitan dan ketakutan.
Kita mengetahui Daud memiliki kedekatan yang erat dengan TUHAN
Allah. Dalam kondisi yang begitu sedih itulah, ia memberanikan diri menyatakan
seberapa dekat dia kepada TUHAN Allahnya. Daud memandang kepada TUHAN
dengan harapan bahwa TUHAN memperhatikan pergumulannya, TUHAN
memperhatikan dan mendengarkan jeritan kesakitannya dan tekanan yang ia hadapi.
Pergumulan dan penderitaan yang ia alami juga turut mengganggu secara kejiwaan
dan batinnya. Dengan mata yang senantiasa memandang kepada Allah, maka Daud
dapat berjalan dengan penuh kekuatan yang berasal daripada Allah. Jaring dalam hal
ini dapat berarti sebuah perangkap atau rencana jahat yang bertujuan untuk
menghancurkan kehidupan Daud. Demikian Daud mempersaksikan bahwa Allah
yang menolong dan membebaskan dia dari ancaman yang menjeratnya. Ungkapan
iman bahwa Allah yang menolong Daud menjadi dasar dari permohonan yang
hendak ia sampaikan kepada Allah. Pada menunjukkan sebuah pergulatan batin yang
besar daripada Daud. Dalam kesesakannya Daud merasa seperti ditinggalkan dan
tidak lagi dipandang oleh Allah. Mulanya Daud mengarahkan pandangannya kepada
Allah dan kemudian ia merasa bahwa Allah tidak membalas pandangannya. Daud
memohonkan agar Allah berpaling kepada Daud dan mengasihani dia karena
penderitaannya. Oleh karena beratnya kesusahan Daud maka ia mengekspresikannya
dengan perasaan sepi (sebatang kara) yang seperti diisolasi oleh keadaan dan
perasaan tertindas yang disebabkan oleh kesulitan hidup yang menekan dirinya.
Ayat ke-17 menyatakan permohonan Daud agar ia dibebaskan dari perasaan
yang pergumulan, rasa sakit dan ketakutan yang ia alami. Semuanya itu dapat
dipahami terjadi pada dua sisi hidup Daud, yaitu dalam sisi eksternal yang
mengancam hidupnya dan sisi internal yang membuat dirinya merasa sesak oleh
karena ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. Hal ini menggambarkan situasi
psikosomatik – tekanan batin yang mempengaruhi kesehatan atau fisik. Akan tetapi
permohonan yang jujur atas apa yang dirasakan Daud menunjukkan iman Daud
yang dekat dan mengenal Allah yang mendengarkan jeritan hatinya.
Penderitaan yang dialami oleh Daud sering membawa pada perenungan
yang mendalam tentang peran dan keberadaan Allah yang terasa sulit untuk
dirasakan. Daud merasakan kehampaan dan kegelisahan yang besar di tengah
ancaman dari para musuhnya.
Ay. 18 menunjukkan bagaimana Daud sangat
memohon agar Tuhan melihat dan menatap sengsara dan kesukaran Daud.
Permohonan ini memperlihatkan bahwa Daud meyakini bahwa Allah mengenal
umat-Nya dan segala penderitaan yang dirasakannya. Keyakinan tersebut berlanjut
pada penyerahan diri.
Selanjutnya pada ayat ke-19 Daud kembali kepada keadaan
nyata bahwa situasinya sedang dalam ancaman dari musuhnya.
Dalam menanggapi hal ini Daud pada ayat ke-20 memohon perlindungan
dari Allah. Perlindungan yang Daud minta bukan hanya perlindungan dari ancaman
musuh secara fisik, tetapi juga perlindungan akan batinnya yang sedang bergejolak
yang diungkapkan dengan “jiwaku”. Daud juga mengatakan agar ia jangan
mendapat malu. Malu dalam hal ini bukan sebuah perasaan canggung, melainkan
sebuah perasaan akan kegagalan total dan kekalahan yang memalukan di mata
musuh. Kepercayaan Daud akan penyertaan Tuhan menjadi sebuah benteng spiritual
terhadap rasa malu tersebut.
Pengalaman diri dan kesaksian akan pertolongan Tuhan membuat Daud
menyadari bahwa Tuhan lebih besar daripada segala pergumulannya.
Demikian pada ayat ke-21 Daud menyatakan agar ketulusan hati dan kejujuran melingkupi dia di
dalam penantiannya akan pertolongan Tuhan. Ketulusan dan kejujuran hati
merupakan simbol dari integritas iman Daud terhadap Allah. Ketulusan mendorong
Daud agar ia tidak memiliki niat yang jahat dan berpaling daripada Tuhan. Dalam
kondisi pergumlan, penderitaan dan kesakitan yang ia alami tidak membuat dia
mundur untuk meyakini dan menantikan pertolongan dari TUHAN.
Kejujuran mendorong Daud agar ia tetap hidup benar di hadapan Allah
tanpa berusaha menutupi kesalahan atau dosa yang telah ia lakukan. Kedua hal ini
dimohonkan oleh Daud agar ia jangan jatuh ke dalam pencobaan yang membuatnya
jauh daripada Tuhan. Dengan demikian penantian Daud akan pertolongan Tuhan
tidak menjadi sia-sia. Permohonan yang disampaikan Daud bukan hanya untuk
dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa yang ia pimpin, yaitu bangsa Israel.
Pada ayat ke-22 Daud mengubah fokus permohonan doanya bukan hanya kepada
dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa Israel. Ini merupakan sebuah
lompatan iman yang menandakan bahwa pergumulan batin Daud secara pribadi juga
mewakili pergumulan batin bangsa Israel. Daud menunjukkan kepemimpinan yang
bertanggung jawab di hadapan Allah. Dengan demikian doa permohonan Daud
melampaui kepentingan pribadi dan mencakup visi pembebasan yang lebih besar.
REFLEKSI
Setelah kita membaca dan memahami nas khotbah ini kita diarahkan
dengan syair sebuah lagu: “Kupandang wajahmu dan berseru pertolonganku datang
dari-Mu. Peganglah tanganku jangan lepaskan Kaulah harapan dalam hidupku.”
Lagu ini menyiratkan kita mengenai bagaimana seseorang (pencipta/ pengarang
lagu) menyatakan bahwa TUHAN-lah harapan baginya dalam menghadapi
pergumulan dan penderitaan yang begitu berat. Mungkin kita hampir menyerah,
putus asa mengapa aku harus menghadapi pergumulan yang begitu berat, apakah
TUHAN tidak memandang kita menghadapi penderitaan dan tekanan hidup yang
semakin mencekam?
Nas khotbah ini mengajarkan kita agar kita tidak mengandalkan kekuatan
atau mengandalkan apa yang ada pada kita untuk menghadapi pergumulan atau
penderitaan sebab semuanya terbatas. Pandanglah kepada TUHAN melalui doa,
memohon kekuatan bagi kita. Kalaupun kita sudah tidak mampu bangkit, segeralah
berlutut di hadapan TUHAN; ketika kepala kita tidak mampu lagi tegak, segeralah
menunduk menyembah kepada Allah. Pandanglah Allah dalam doamu, berserulah.
Ingat Allah tidak jauh dari kita. Dia mendengarkan dan akan memulihkan kita dan
mengangkat kita pada kemuliaan-Nya, amin.
No comments yet.