Berita Terbaru
Categories
  • ARTIKEL
  • BAHAN KHOTBAH
  • BERITA
  • BIRO
  • Daerah III Toba Samosir
  • Daerah XI Sumatera Timur III
  • DATA PEGAWAI
  • FOTO
  • GALLERY
  • HKI Daerah XII Jawa Lampung
  • KHOTBAH
  • KHOTBAH MINGGU
  • OIKUMENE
  • PROFIL
  • RENUNGAN HARIAN
  • SERMON
  • SINODE
  • VIDEO
  • Bahan Khotbah Epistel, 27 September 2026: Mataku Tetap Terarah Kepada TUHAN

    Sep 18 20261 Dilihat

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
    Pendeta HKI Resort Hutabayu

    MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS

    JOHANNES 9: 1 – 11

    PENGANTAR

    Kitab Injil Yohanes ditulis sekitar akhir abad pertama (±90–100 M) oleh murid
    yang dikasihi Yesus, yaitu Rasul Yohanes. Pada masa itu, komunitas Kristen awal
    sedang menghadapi tekanan dari dua sisi yakni: Dari luar, yaitu penindasan politik
    oleh Kekaisaran Romawi. Dari dalam, yaitu konflik dengan komunitas Yahudi,
    terutama setelah orang Kristen dikeluarkan dari sinagoge (Yoh. 9:22). Karena itu,
    Injil Yohanes sering menampilkan kisah konfrontasi antara Yesus dengan orang
    Farisi atau pemimpin Yahudi. Narasi penyembuhan orang buta sejak lahir dalam
    Yohanes 9 bukan hanya kisah mujizat, tetapi juga mencerminkan konflik historis
    antara komunitas Kristen dengan komunitas Yahudi pada akhir abad pertama.
    Berbeda dengan Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Injil Yohanes memiliki
    gaya penulisan teologis yang lebih dalam dari pada injil sinoptik. Yohanes tidak
    sekadar menceritakan peristiwa, tetapi juga menekankan makna rohani dari setiap
    perbuatan Yesus. Secara khusus Yohanes pasal 9 ayat 1–11, menceritakan mujizat
    Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Peristiwa ini sangat penting,
    sebab pada zaman itu orang Yahudi percaya bahwa penyakit atau cacat lahir adalah
    akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau dosa orang tuanya. Peristiwa inilah
    yang dimaksudkan konfrontasi antara Yesus dengan orang Farisi atau pemimpin
    Yahudi.


    Sejarah sosial di balik teks ini menunjukkan bahwa orang buta pada zaman itu
    mengalami diskriminasi sosial dan religius. Mereka dianggap tidak layak, hidup
    dalam stigma, bahkan bergantung pada belas kasihan orang lain. Pandangan ini
    berakar dari tafsiran terhadap hukum Taurat (Kel. 20:5) tentang dosa orang tua yang
    berlanjut kepada anak-anak. Karena itu, orang buta mengalami stigma sosial dan
    sering hidup sebagai pengemis di pinggir jalan (bdk. Mrk. 10:46). Dalam pasal 9
    selanjutnya (ay. 13–34), orang Farisi mempertanyakan penyembuhan itu dan bahkan
    mengusir orang buta yang disembuhkan. Secara historis, bagian ini mencerminkan
    pengalaman komunitas Yohanes sendiri yang mengalami pengusiran dari sinagoge
    karena iman kepada Kristus. Artinya, Yohanes 9 bukan hanya kisah individu, tetapi
    juga cermin pergumulan historis komunitas Kristen yang berusaha menegaskan
    imannya di tengah penolakan.


    Dengan menyembuhkan orang buta sejak lahir, Yesus bukan hanya memulihkan
    fisiknya, tetapi juga mengangkat martabat kemanusiaannya dan menyingkapkan
    identitas Yesus “Sebagai Terang Dunia”. Ketika murid-murid bertanya mengenai
    asal usul penderitaan orang buta itu, Yesus menjawab bahwa kebutaannya bukan
    karena dosa, tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam hidupnya. Ia ingin
    menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang membawa terang bagi
    dunia. Di mata dunia, orang buta hanyalah “Beban Sosial”. Namun di mata Yesus,
    dia adalah pribadi yang sangat berharga, tempat karya Allah dinyatakan. Injil
    Yohanes ditulis memiliki tujuan agar setiap orang yang membacanya percaya bahwa
    Yesus adalah sang Mesias Anak Allah dan dengan iman memperoleh hidup dalam
    nama-Nya (Yoh. 20:31). Dalam Perdebatan Yesus dengan orang Yahudi mengenai
    siapa diri-Nya (Yoh. 8) Yohanes mengutarakan mujizat yang dilakukan oleh Yesus
    ketika itu seperti: menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Yohanes ingin
    menunjukkan bahwa tanpa Yesus, manusia ada dalam kegelapan rohani sama seperti
    orang buta yang tidak dapat melihat. Mujizat ini bukanlah sekadar pemulihan fisik,
    tetapi tanda rohani iman bahwa Yesus datang memberi penglihatan iman kepada
    mereka yang mau percaya. Dengan kata lain, kisah orang buta sejak lahir adalah
    sebuah gambaran kondisi manusia tanpa Kristus; hidup dalam kegelapan, tidak
    mampu melihat kebenaran, tetapi dapat ditolong ketika matanya terarah kepada
    Yesus sang terang itu sendiri.

    ISI

    Ada beberapa poin yang harus kita pahami dalam memaknai kitab Yohanes
    pasal yang 9 ini, yakni:

    1. Kebutaan bukan sebagai dasar kondisi manusia berdosa atau sebagai
      kutukan, melainkan ruang karya Allah.
      Dalam PL sering sekali memandang penderitaan sebagai akibat dosa (Ayub 4
      5). Kebutaan fisik adalah suatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka yang
      mengalaminya. Yohanes 9:1-2 menampilkan seorang yang buta sejak lahir. Manusia
      yang tidak mengenal Allah adalah sama dengan orang yang buta dan perlu baginya
      untuk diselamatkan. Orang Yahudi memahaminya bahwa kebutaan yang dialami
      orang itu adalah akibat dari dosa (Im. 26; Ul. 28). Yesus menentang pemahaman
      orang Yahudi dan Ia membalikkan perspektif: “penderitaan bukan sekadar hukuman,
      tetapi sarana bagi Allah menyatakan karya-Nya” karena “jalan Allah berbeda dari
      jalan manusia (Yes. 55:8-9). Dunia boleh melihat penderitaan sebagai kutuk,
      tetapi iman melihatnya sebagai berkat.
    2. Penderitaan bukan semata hukuman dosa (ay. 3-5)
      Secara historis, Yesus menentang pandangan Deterministik zaman itu. Yesus
      menegaskan bahwa kebutaan itu dapat terjadi agar karya pekerjaan Allah dinyatakan
      di dalam dia. Artinya, penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah. Yeses
      menegaskan pula misi-Nya melakukan pekerjaan Bapa selagi siang, karena Dialah
      “Terang Dunia” tanpa Yesus manusia akan tetap berada dalam kegelapan. Terang
      menghadirkan keadilan, solidaritas, dan hidup bermartabat yang memanusiakan
      manusia. Dunia bisa menyalahkan, menuduh, atau merendahkan, tetapi matai man
      harus tetap terarah kepada Tuhan karena dari Dia dating pemulihan.
    3. Penyembuhan dilakukan menggunakan cara yang begitu luar biasa
      dengan meludah dan membuat lumpur lalu mengoleskannya (ay. 6-7)
      Perbuatan Yesus ini bukan semata-mata kebetulan saja (Yes. 42:6-7), akan tetapi
      Yesus ingin mengingatkan bahwa manusia berasal dari debu tanah (Kej. 2:7). Yesus
      memerintahkan orang buta itu untuk membasuh diri di kolam Siloam (artinya: “yang
      diutus”) merujuk pada Yesus sendiri sebagai yang diutus Bapa. Penyembuhan adalah
      karya penciptaan baru dan kesembuhan itu terjadi setelah si buta taat kepada
      perintah Yesus. Dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17) saat kita
      percaya Tuhan akan membentuk kembali hidup kita.
    4. Yesus tidak memandang rupa (ay. 8-9)
      Mengasihi orang lain adalah hukum kedua dan terutama (Mat. 22:39) dan inilah
      yang dilakukan oleh Yesus ketika itu. Kita sering kali menutup mata terhadap
      lingkungan di sekitar kita. Kita sering kali mengabaikan orang lemah seperti: Janda
      dan Yatim Piatu, Tunawisma, dll. Yesus berpihak kepada orang yang menderita.
      Orang yang buta sejak lahir justru didatangi Yesus dan ini menandakan bahwa Yesus
      berada di pihak mereka yang lemah.
    5. Kisah ini menekankan perjalanan iman seseorang karena orang buta
      semula hanya mengenal Yesus begitu saja (ay. 10-11) dan kemudian
      mengenalnya sebagai Tuhan (ay. 38).
      Kesaksian orang yang dicelikkan matanya itu sangatlah sederhana kepada
      mereka yang bertanya bagaimana cara Yesus menyembuhkannya (ay. 11). Akan
      tetapi, yang perlu kita ketahui adalah apakah perbuatan/tindakan itu didasarkan pada
      iman? Karena iman itulah yang menyembuhkannya. Yesus tidak hanya memulihkan
      mata orang buta itu, tetapi juga mengembalikan dia ke tengah masyarakat. Injil
      bukan hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga memulihkan keadaan kita. Kesaksian
      iman tidak perlu rumit, sekecil apapun patut kita saksikan kepada semua orang.
      Karena percuma saja seorang mengatakan bahwa dia adalah seorang pencipta lagu
      jika dia tidak dapat menunjukkan satu dari antara lagu yang diciptakannnya ke ruang
      publik untuk di lihat orang banyak.

    REFLEKSI

    Hidup bukan ditentukan oleh dosa masa lalu, tetapi oleh karya Allah di dalam
    Kristus jangan terus terikat oleh rasa bersalah, tetapi pandanglah pada kasih Kristus
    yang setia. Oleh karena itu, untuk merenungkan firman Tuhan, berikut ini beberapa
    refleksi dan implikasi yang dapat kita gumuli dan lakukan dalam kehidupan kita
    sepanjang hari.

    1. Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam penderitaan. Jangan kita
      bertanya mengapa aku begini, akan tetapi pahamilah dan percayalah, Yesus
      mengajarkan kita bahwa penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah.
      Kita dipanggil untuk tetap menatap kepada Tuhan bukan merasa bersalah
      dalam keadaan karena Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi
      kemampuan kita (Fil. 4:13).
    2. Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam ketaatan. Mereka yang taat
      seperti orang buta itu akan sembuh dalam pengharapan. Meskipun dia
      masih buta, akan tetapi dia taat kepada Yesus dan berjalan menapaki kolam
      Siloam untuk mendapatkan kesembuhannya.
    3. Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam kesaksian hidup. Setelah
      sembuh orang buta itu tidak berkata banyak, tetapi hanya memberikan
      kesaksian sederhana “Aku buta, sekarang aku melihat” karena kesaksian
      kita adalah karya Allah yang kita sampaikan dalam kemuliaan-Nya.
    4. Mataku tetap terarah kepada Tuhan, Sang Terang Ilahi (Yoh. 1:4-5).
      Dunia ini penuh dengan kegelapan, kebingungan, dosa, dan penderitaan.
      Tetapi, mata iman kita harus senantiasa memandang Yesus. Ketika mata kita
      terarah kepada-Nya, kita akan melihat terang sekalipun dunia gelap. Mari
      saksikan dan kabarkan kepada dunia karya dan perbuatan Allah tidak akan
      berkesudahan bagi orang yang percaya dan taat dalam iman kepada-Nya.
    5. Gereja dipanggil untuk hadir Bersama orang sakit, miskin, lemah,
      tertindas, bukan menghakimi melainkan menolong. Gereja saat ini lupa
      akan tugas panggilannya. Dan ini menjadi tugas kita bersama untuk
      mewujudkan panggilan itu.
    Share to

    Related News

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Bahan Khotbah Evangelium, 27 September 2...

    by Sep 18 2026

    Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.Pendeta HKI Resort Hutabayu MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS MAZMUR 25:...

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Bahan Jamita Epistel, 20 September 2026:...

    by Sep 18 2026

    Ginurithon:Pdt. Tahan Master Simaremare, M.Th.LMPraeses HKI Daerah XIV Tebseba MINGGU XVI DUNG TRINI...

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Bahan Jamita Evangelium, 20 September 20...

    by Sep 18 2026

    Ginurithon:Pdt. Tahan Master Simaremare, M.Th.LMPraeses HKI Daerah XIV Tebseba MINGGU XVI DUNG TRINI...

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Bahan Jamita Epistel, Minggu 30 Agustus ...

    by Agu 28 2026

    MINGGU XIII DUNG TRINITATIS 2 TIMOTEUS 4: 6 – 8 PATUJOLO 1 Timoteus, 2 Timoteus dohot Titus, digoa...

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Bahan Jamita Evangelium, 30 Agustus 2026...

    by Agu 28 2026

    MINGGU XIII DUNG TRINITATIS, MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 JEREMIA 15: 15 – 21 Patujolo Panurirang Jerem...

    BAHAN JAMITA EVANGELIUM MINGGU III DUNG TRINITATIS MINGGU, 21 JUNI 2026

    BAHAN JAMITA EVANGELIUM MINGGU III DUNG ...

    by Jun 19 2026

    PANGARAMOTION NI DEBATA TU SALUHUT – 1 MUSA 21: 8 – 21 Patujolo Mangihuthon lomo ni roha ni ...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.

    ujian penerimaan vicar tahun 2023

    back to top