Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
Pendeta HKI Resort Hutabayu
MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS
JOHANNES 9: 1 – 11
PENGANTAR
Kitab Injil Yohanes ditulis sekitar akhir abad pertama (±90–100 M) oleh murid
yang dikasihi Yesus, yaitu Rasul Yohanes. Pada masa itu, komunitas Kristen awal
sedang menghadapi tekanan dari dua sisi yakni: Dari luar, yaitu penindasan politik
oleh Kekaisaran Romawi. Dari dalam, yaitu konflik dengan komunitas Yahudi,
terutama setelah orang Kristen dikeluarkan dari sinagoge (Yoh. 9:22). Karena itu,
Injil Yohanes sering menampilkan kisah konfrontasi antara Yesus dengan orang
Farisi atau pemimpin Yahudi. Narasi penyembuhan orang buta sejak lahir dalam
Yohanes 9 bukan hanya kisah mujizat, tetapi juga mencerminkan konflik historis
antara komunitas Kristen dengan komunitas Yahudi pada akhir abad pertama.
Berbeda dengan Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Injil Yohanes memiliki
gaya penulisan teologis yang lebih dalam dari pada injil sinoptik. Yohanes tidak
sekadar menceritakan peristiwa, tetapi juga menekankan makna rohani dari setiap
perbuatan Yesus. Secara khusus Yohanes pasal 9 ayat 1–11, menceritakan mujizat
Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Peristiwa ini sangat penting,
sebab pada zaman itu orang Yahudi percaya bahwa penyakit atau cacat lahir adalah
akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau dosa orang tuanya. Peristiwa inilah
yang dimaksudkan konfrontasi antara Yesus dengan orang Farisi atau pemimpin
Yahudi.
Sejarah sosial di balik teks ini menunjukkan bahwa orang buta pada zaman itu
mengalami diskriminasi sosial dan religius. Mereka dianggap tidak layak, hidup
dalam stigma, bahkan bergantung pada belas kasihan orang lain. Pandangan ini
berakar dari tafsiran terhadap hukum Taurat (Kel. 20:5) tentang dosa orang tua yang
berlanjut kepada anak-anak. Karena itu, orang buta mengalami stigma sosial dan
sering hidup sebagai pengemis di pinggir jalan (bdk. Mrk. 10:46). Dalam pasal 9
selanjutnya (ay. 13–34), orang Farisi mempertanyakan penyembuhan itu dan bahkan
mengusir orang buta yang disembuhkan. Secara historis, bagian ini mencerminkan
pengalaman komunitas Yohanes sendiri yang mengalami pengusiran dari sinagoge
karena iman kepada Kristus. Artinya, Yohanes 9 bukan hanya kisah individu, tetapi
juga cermin pergumulan historis komunitas Kristen yang berusaha menegaskan
imannya di tengah penolakan.
Dengan menyembuhkan orang buta sejak lahir, Yesus bukan hanya memulihkan
fisiknya, tetapi juga mengangkat martabat kemanusiaannya dan menyingkapkan
identitas Yesus “Sebagai Terang Dunia”. Ketika murid-murid bertanya mengenai
asal usul penderitaan orang buta itu, Yesus menjawab bahwa kebutaannya bukan
karena dosa, tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam hidupnya. Ia ingin
menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang membawa terang bagi
dunia. Di mata dunia, orang buta hanyalah “Beban Sosial”. Namun di mata Yesus,
dia adalah pribadi yang sangat berharga, tempat karya Allah dinyatakan. Injil
Yohanes ditulis memiliki tujuan agar setiap orang yang membacanya percaya bahwa
Yesus adalah sang Mesias Anak Allah dan dengan iman memperoleh hidup dalam
nama-Nya (Yoh. 20:31). Dalam Perdebatan Yesus dengan orang Yahudi mengenai
siapa diri-Nya (Yoh. 8) Yohanes mengutarakan mujizat yang dilakukan oleh Yesus
ketika itu seperti: menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Yohanes ingin
menunjukkan bahwa tanpa Yesus, manusia ada dalam kegelapan rohani sama seperti
orang buta yang tidak dapat melihat. Mujizat ini bukanlah sekadar pemulihan fisik,
tetapi tanda rohani iman bahwa Yesus datang memberi penglihatan iman kepada
mereka yang mau percaya. Dengan kata lain, kisah orang buta sejak lahir adalah
sebuah gambaran kondisi manusia tanpa Kristus; hidup dalam kegelapan, tidak
mampu melihat kebenaran, tetapi dapat ditolong ketika matanya terarah kepada
Yesus sang terang itu sendiri.
ISI
Ada beberapa poin yang harus kita pahami dalam memaknai kitab Yohanes
pasal yang 9 ini, yakni:
- Kebutaan bukan sebagai dasar kondisi manusia berdosa atau sebagai
kutukan, melainkan ruang karya Allah.
Dalam PL sering sekali memandang penderitaan sebagai akibat dosa (Ayub 4
5). Kebutaan fisik adalah suatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka yang
mengalaminya. Yohanes 9:1-2 menampilkan seorang yang buta sejak lahir. Manusia
yang tidak mengenal Allah adalah sama dengan orang yang buta dan perlu baginya
untuk diselamatkan. Orang Yahudi memahaminya bahwa kebutaan yang dialami
orang itu adalah akibat dari dosa (Im. 26; Ul. 28). Yesus menentang pemahaman
orang Yahudi dan Ia membalikkan perspektif: “penderitaan bukan sekadar hukuman,
tetapi sarana bagi Allah menyatakan karya-Nya” karena “jalan Allah berbeda dari
jalan manusia (Yes. 55:8-9). Dunia boleh melihat penderitaan sebagai kutuk,
tetapi iman melihatnya sebagai berkat.
- Penderitaan bukan semata hukuman dosa (ay. 3-5)
Secara historis, Yesus menentang pandangan Deterministik zaman itu. Yesus
menegaskan bahwa kebutaan itu dapat terjadi agar karya pekerjaan Allah dinyatakan
di dalam dia. Artinya, penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah. Yeses
menegaskan pula misi-Nya melakukan pekerjaan Bapa selagi siang, karena Dialah
“Terang Dunia” tanpa Yesus manusia akan tetap berada dalam kegelapan. Terang
menghadirkan keadilan, solidaritas, dan hidup bermartabat yang memanusiakan
manusia. Dunia bisa menyalahkan, menuduh, atau merendahkan, tetapi matai man
harus tetap terarah kepada Tuhan karena dari Dia dating pemulihan.
- Penyembuhan dilakukan menggunakan cara yang begitu luar biasa
dengan meludah dan membuat lumpur lalu mengoleskannya (ay. 6-7)
Perbuatan Yesus ini bukan semata-mata kebetulan saja (Yes. 42:6-7), akan tetapi
Yesus ingin mengingatkan bahwa manusia berasal dari debu tanah (Kej. 2:7). Yesus
memerintahkan orang buta itu untuk membasuh diri di kolam Siloam (artinya: “yang
diutus”) merujuk pada Yesus sendiri sebagai yang diutus Bapa. Penyembuhan adalah
karya penciptaan baru dan kesembuhan itu terjadi setelah si buta taat kepada
perintah Yesus. Dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17) saat kita
percaya Tuhan akan membentuk kembali hidup kita.
- Yesus tidak memandang rupa (ay. 8-9)
Mengasihi orang lain adalah hukum kedua dan terutama (Mat. 22:39) dan inilah
yang dilakukan oleh Yesus ketika itu. Kita sering kali menutup mata terhadap
lingkungan di sekitar kita. Kita sering kali mengabaikan orang lemah seperti: Janda
dan Yatim Piatu, Tunawisma, dll. Yesus berpihak kepada orang yang menderita.
Orang yang buta sejak lahir justru didatangi Yesus dan ini menandakan bahwa Yesus
berada di pihak mereka yang lemah.
- Kisah ini menekankan perjalanan iman seseorang karena orang buta
semula hanya mengenal Yesus begitu saja (ay. 10-11) dan kemudian
mengenalnya sebagai Tuhan (ay. 38).
Kesaksian orang yang dicelikkan matanya itu sangatlah sederhana kepada
mereka yang bertanya bagaimana cara Yesus menyembuhkannya (ay. 11). Akan
tetapi, yang perlu kita ketahui adalah apakah perbuatan/tindakan itu didasarkan pada
iman? Karena iman itulah yang menyembuhkannya. Yesus tidak hanya memulihkan
mata orang buta itu, tetapi juga mengembalikan dia ke tengah masyarakat. Injil
bukan hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga memulihkan keadaan kita. Kesaksian
iman tidak perlu rumit, sekecil apapun patut kita saksikan kepada semua orang.
Karena percuma saja seorang mengatakan bahwa dia adalah seorang pencipta lagu
jika dia tidak dapat menunjukkan satu dari antara lagu yang diciptakannnya ke ruang
publik untuk di lihat orang banyak.
REFLEKSI
Hidup bukan ditentukan oleh dosa masa lalu, tetapi oleh karya Allah di dalam
Kristus jangan terus terikat oleh rasa bersalah, tetapi pandanglah pada kasih Kristus
yang setia. Oleh karena itu, untuk merenungkan firman Tuhan, berikut ini beberapa
refleksi dan implikasi yang dapat kita gumuli dan lakukan dalam kehidupan kita
sepanjang hari.
- Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam penderitaan. Jangan kita
bertanya mengapa aku begini, akan tetapi pahamilah dan percayalah, Yesus
mengajarkan kita bahwa penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah.
Kita dipanggil untuk tetap menatap kepada Tuhan bukan merasa bersalah
dalam keadaan karena Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi
kemampuan kita (Fil. 4:13).
- Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam ketaatan. Mereka yang taat
seperti orang buta itu akan sembuh dalam pengharapan. Meskipun dia
masih buta, akan tetapi dia taat kepada Yesus dan berjalan menapaki kolam
Siloam untuk mendapatkan kesembuhannya.
- Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam kesaksian hidup. Setelah
sembuh orang buta itu tidak berkata banyak, tetapi hanya memberikan
kesaksian sederhana “Aku buta, sekarang aku melihat” karena kesaksian
kita adalah karya Allah yang kita sampaikan dalam kemuliaan-Nya.
- Mataku tetap terarah kepada Tuhan, Sang Terang Ilahi (Yoh. 1:4-5).
Dunia ini penuh dengan kegelapan, kebingungan, dosa, dan penderitaan.
Tetapi, mata iman kita harus senantiasa memandang Yesus. Ketika mata kita
terarah kepada-Nya, kita akan melihat terang sekalipun dunia gelap. Mari
saksikan dan kabarkan kepada dunia karya dan perbuatan Allah tidak akan
berkesudahan bagi orang yang percaya dan taat dalam iman kepada-Nya.
- Gereja dipanggil untuk hadir Bersama orang sakit, miskin, lemah,
tertindas, bukan menghakimi melainkan menolong. Gereja saat ini lupa
akan tugas panggilannya. Dan ini menjadi tugas kita bersama untuk
mewujudkan panggilan itu.
No comments yet.