Berita Terbaru
Categories
  • ARTIKEL
  • BAHAN KHOTBAH
  • BERITA
  • BIRO
  • Daerah III Toba Samosir
  • Daerah XI Sumatera Timur III
  • DATA PEGAWAI
  • FOTO
  • GALLERY
  • HKI Daerah XII Jawa Lampung
  • KHOTBAH
  • KHOTBAH MINGGU
  • OIKUMENE
  • PROFIL
  • RENUNGAN HARIAN
  • SERMON
  • SINODE
  • VIDEO
  • Bahan Khotbah Evangelium, 27 September 2026: Mataku Tetap Terarah Kepada TUHAN

    Sep 18 20265 Dilihat

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.
    Pendeta HKI Resort Hutabayu

    MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS

    MAZMUR 25: 15 – 22

    PENGANTAR

    Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih setia Allah Bapa dan
    persekutuan Roh kudus menyertai kita sekalian, amin.
    Pernahkah kita merasa rasa sakit yang begitu menyakitkan? Atau memiliki
    pergumulan dan penderitaan yang sangat berat sehingga kita butuh teriak, menangis,
    meratap atau kita butuh berbuat sesuatu untuk melampiaskan rasa sakit, ingin lepas
    dari pergumulan atau penderitaan yang sangat berat tersebut. Mungkin kita butuh
    teman yang siap sedia mendengarkan kita ketika kita ingin cerita (curhat). Akan
    tetapi, dalam kehidupan ini tidak semua teman yang mau atau bersedia untuk
    mendengarkan keluhan, jeritan, curahan hati kita dan ada pula sebahagian yang mau
    mendengarkan kita namun itu dijadikan alat untuk menilai pribadi kita, atau kita
    justru menjadi disudutkan. Tidak menjadi pemberi solusi (jalan keluar) melainkan
    untuk menjatuhkan.
    Dalam Nas khotbah ini merupakan suatu syair/ nyanyian dari seorang
    pemazmur yang mencurahkan isi hatinya, keluhannya atau bahkan jeritannya tidak
    kepada manusia melainkan kepada TUHAN, Allahnya. Agar kita dapat mengerti
    jelas apa yang ingin disampaikan oleh Daud melalui Mazmurnya ini, marilah kita
    masuk kepada penjelasan nas.

    PENJELASAN NAS

    Dari segi kepengarangannya atau penulisnya, kitab Mazmur 25 ini
    merupakan mazmur yang dituliskan oleh Daud, seorang raja Israel. Allah memilih
    dan menetapkan Daud menjadi seorang raja atas Irsrael melalui pengurapan yang
    dilakukan oleh Samuel ketika raja Saul menjabat menjadi raja atas Israel. Ketika
    Daud berhasil mengalahkan Filistin melalui kekalahan Goliat, banyak umat Israel
    menyerukan agar Daud menjadi raja dan membandingkan kekuatan Daud dengan
    Saul. Hal ini tentunya membuat Saul cemburu dan memiliki rencana untuk
    membunuh Daud. Daud memiliki seorang sahabat yang bernama Jonathan dan istri
    yang bernama Milkha, putri Saul.


    Situasi hati saul pun sudah semakin panas ketika semakin banyak orang
    Israel yang simpatik padanya dan mengeluelukan agar Daud menjadi raja
    menggantikan Saul. Situasi ini membuat Saul ingin sekali membunuh Daud, yang
    walaupun Daud adalah menantunya dan sahabat dari anaknya. Daud harus melarikan
    diri dan meninggalkan keluarganya, sahabatnya. Ia berada dalam kondisi pengejaran
    dan ancaman kematian. Bagi Saul kematian Daud adalah upaya mempertahankan
    posisi kerajaannya.


    Pada saat itulah Daud meratapi kondisi hidupnya di bawah tekanan,
    ancaman dan pengejaran yang dilakukan oleh Saul. Sahabat dan istri yang ia kasihi
    pun tidak mampu meredamkan kemarahan dan kecemburuan Saul. Ia tidak tahu
    kepada siapa harus menangis dan meratap. Ia tidak tahu siapakah manusia yang mau
    mendengarkan tangisan, cerita hatinya. Ia pun harus bersembunyi di daerah Ziklag
    daerah kekuasaan Filisitin. Kita tahu bahwa Filistin dan Israel merupakan dua
    bangsa yang bermusuhan. Ketika bangsa Filistin mengetahui Daud bersembunyi di
    sana, Filistin pun ingin menangkap dan membunuhnya. Situasi demikian semakin
    membuat Daud kesakitan dan ketakutan.


    Kita mengetahui Daud memiliki kedekatan yang erat dengan TUHAN
    Allah. Dalam kondisi yang begitu sedih itulah, ia memberanikan diri menyatakan
    seberapa dekat dia kepada TUHAN Allahnya. Daud memandang kepada TUHAN
    dengan harapan bahwa TUHAN memperhatikan pergumulannya, TUHAN
    memperhatikan dan mendengarkan jeritan kesakitannya dan tekanan yang ia hadapi.
    Pergumulan dan penderitaan yang ia alami juga turut mengganggu secara kejiwaan
    dan batinnya. Dengan mata yang senantiasa memandang kepada Allah, maka Daud
    dapat berjalan dengan penuh kekuatan yang berasal daripada Allah. Jaring dalam hal
    ini dapat berarti sebuah perangkap atau rencana jahat yang bertujuan untuk
    menghancurkan kehidupan Daud. Demikian Daud mempersaksikan bahwa Allah
    yang menolong dan membebaskan dia dari ancaman yang menjeratnya. Ungkapan
    iman bahwa Allah yang menolong Daud menjadi dasar dari permohonan yang
    hendak ia sampaikan kepada Allah. Pada menunjukkan sebuah pergulatan batin yang
    besar daripada Daud. Dalam kesesakannya Daud merasa seperti ditinggalkan dan
    tidak lagi dipandang oleh Allah. Mulanya Daud mengarahkan pandangannya kepada
    Allah dan kemudian ia merasa bahwa Allah tidak membalas pandangannya. Daud
    memohonkan agar Allah berpaling kepada Daud dan mengasihani dia karena
    penderitaannya. Oleh karena beratnya kesusahan Daud maka ia mengekspresikannya
    dengan perasaan sepi (sebatang kara) yang seperti diisolasi oleh keadaan dan
    perasaan tertindas yang disebabkan oleh kesulitan hidup yang menekan dirinya.


    Ayat ke-17 menyatakan permohonan Daud agar ia dibebaskan dari perasaan
    yang pergumulan, rasa sakit dan ketakutan yang ia alami. Semuanya itu dapat
    dipahami terjadi pada dua sisi hidup Daud, yaitu dalam sisi eksternal yang
    mengancam hidupnya dan sisi internal yang membuat dirinya merasa sesak oleh
    karena ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. Hal ini menggambarkan situasi
    psikosomatik – tekanan batin yang mempengaruhi kesehatan atau fisik. Akan tetapi
    permohonan yang jujur atas apa yang dirasakan Daud menunjukkan iman Daud
    yang dekat dan mengenal Allah yang mendengarkan jeritan hatinya.
    Penderitaan yang dialami oleh Daud sering membawa pada perenungan
    yang mendalam tentang peran dan keberadaan Allah yang terasa sulit untuk
    dirasakan. Daud merasakan kehampaan dan kegelisahan yang besar di tengah
    ancaman dari para musuhnya.

    Ay. 18 menunjukkan bagaimana Daud sangat
    memohon agar Tuhan melihat dan menatap sengsara dan kesukaran Daud.
    Permohonan ini memperlihatkan bahwa Daud meyakini bahwa Allah mengenal
    umat-Nya dan segala penderitaan yang dirasakannya. Keyakinan tersebut berlanjut
    pada penyerahan diri.

    Selanjutnya pada ayat ke-19 Daud kembali kepada keadaan
    nyata bahwa situasinya sedang dalam ancaman dari musuhnya.

    Dalam menanggapi hal ini Daud pada ayat ke-20 memohon perlindungan
    dari Allah. Perlindungan yang Daud minta bukan hanya perlindungan dari ancaman
    musuh secara fisik, tetapi juga perlindungan akan batinnya yang sedang bergejolak
    yang diungkapkan dengan “jiwaku”. Daud juga mengatakan agar ia jangan
    mendapat malu. Malu dalam hal ini bukan sebuah perasaan canggung, melainkan
    sebuah perasaan akan kegagalan total dan kekalahan yang memalukan di mata
    musuh. Kepercayaan Daud akan penyertaan Tuhan menjadi sebuah benteng spiritual
    terhadap rasa malu tersebut.
    Pengalaman diri dan kesaksian akan pertolongan Tuhan membuat Daud
    menyadari bahwa Tuhan lebih besar daripada segala pergumulannya.

    Demikian pada ayat ke-21 Daud menyatakan agar ketulusan hati dan kejujuran melingkupi dia di
    dalam penantiannya akan pertolongan Tuhan. Ketulusan dan kejujuran hati
    merupakan simbol dari integritas iman Daud terhadap Allah. Ketulusan mendorong
    Daud agar ia tidak memiliki niat yang jahat dan berpaling daripada Tuhan. Dalam
    kondisi pergumlan, penderitaan dan kesakitan yang ia alami tidak membuat dia
    mundur untuk meyakini dan menantikan pertolongan dari TUHAN.
    Kejujuran mendorong Daud agar ia tetap hidup benar di hadapan Allah
    tanpa berusaha menutupi kesalahan atau dosa yang telah ia lakukan. Kedua hal ini
    dimohonkan oleh Daud agar ia jangan jatuh ke dalam pencobaan yang membuatnya
    jauh daripada Tuhan. Dengan demikian penantian Daud akan pertolongan Tuhan
    tidak menjadi sia-sia. Permohonan yang disampaikan Daud bukan hanya untuk
    dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa yang ia pimpin, yaitu bangsa Israel.

    Pada ayat ke-22 Daud mengubah fokus permohonan doanya bukan hanya kepada
    dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa Israel. Ini merupakan sebuah
    lompatan iman yang menandakan bahwa pergumulan batin Daud secara pribadi juga
    mewakili pergumulan batin bangsa Israel. Daud menunjukkan kepemimpinan yang
    bertanggung jawab di hadapan Allah. Dengan demikian doa permohonan Daud
    melampaui kepentingan pribadi dan mencakup visi pembebasan yang lebih besar.

    REFLEKSI
    Setelah kita membaca dan memahami nas khotbah ini kita diarahkan
    dengan syair sebuah lagu: “Kupandang wajahmu dan berseru pertolonganku datang
    dari-Mu. Peganglah tanganku jangan lepaskan Kaulah harapan dalam hidupku.”
    Lagu ini menyiratkan kita mengenai bagaimana seseorang (pencipta/ pengarang
    lagu) menyatakan bahwa TUHAN-lah harapan baginya dalam menghadapi
    pergumulan dan penderitaan yang begitu berat. Mungkin kita hampir menyerah,
    putus asa mengapa aku harus menghadapi pergumulan yang begitu berat, apakah
    TUHAN tidak memandang kita menghadapi penderitaan dan tekanan hidup yang
    semakin mencekam?


    Nas khotbah ini mengajarkan kita agar kita tidak mengandalkan kekuatan
    atau mengandalkan apa yang ada pada kita untuk menghadapi pergumulan atau
    penderitaan sebab semuanya terbatas. Pandanglah kepada TUHAN melalui doa,
    memohon kekuatan bagi kita. Kalaupun kita sudah tidak mampu bangkit, segeralah
    berlutut di hadapan TUHAN; ketika kepala kita tidak mampu lagi tegak, segeralah
    menunduk menyembah kepada Allah. Pandanglah Allah dalam doamu, berserulah.
    Ingat Allah tidak jauh dari kita. Dia mendengarkan dan akan memulihkan kita dan
    mengangkat kita pada kemuliaan-Nya, amin.

    Share to

    Related News

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Bahan Khotbah Epistel, 27 September 2026...

    by Sep 18 2026

    Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th.Pendeta HKI Resort Hutabayu MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS JOHANNES 9...

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Bahan Jamita Epistel, 20 September 2026:...

    by Sep 18 2026

    Ginurithon:Pdt. Tahan Master Simaremare, M.Th.LMPraeses HKI Daerah XIV Tebseba MINGGU XVI DUNG TRINI...

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Bahan Jamita Evangelium, 20 September 20...

    by Sep 18 2026

    Ginurithon:Pdt. Tahan Master Simaremare, M.Th.LMPraeses HKI Daerah XIV Tebseba MINGGU XVI DUNG TRINI...

    Bahan-Jamita-Epistel-Minggu-27-September-2026

    Bahan Jamita Epistel, Minggu 30 Agustus ...

    by Agu 28 2026

    MINGGU XIII DUNG TRINITATIS 2 TIMOTEUS 4: 6 – 8 PATUJOLO 1 Timoteus, 2 Timoteus dohot Titus, digoa...

    Bahan-Jamita-Evangelium-27-September-2026

    Bahan Jamita Evangelium, 30 Agustus 2026...

    by Agu 28 2026

    MINGGU XIII DUNG TRINITATIS, MINGGU, 30 AGUSTUS 2026 JEREMIA 15: 15 – 21 Patujolo Panurirang Jerem...

    BAHAN JAMITA EVANGELIUM MINGGU III DUNG TRINITATIS MINGGU, 21 JUNI 2026

    BAHAN JAMITA EVANGELIUM MINGGU III DUNG ...

    by Jun 19 2026

    PANGARAMOTION NI DEBATA TU SALUHUT – 1 MUSA 21: 8 – 21 Patujolo Mangihuthon lomo ni roha ni ...

    No comments yet.

    Sorry, the comment form is disabled for this page/article.

    ujian penerimaan vicar tahun 2023

    back to top