huriakristenindonesia.com | Siborongborong – HKI terus menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat di wilayah pelayanan, salah satunya melalui kunjungan langsung ke Nagasaribu Onan Harbangan, Desa Pohan Jae, Kecamatan Siborongborong, pada Senin (24/8/2026).
Kunjungan ini dilakukan oleh Ephorus HKI, Pdt. Dr. Tony Liston Hutagalung, MSc., Sekretaris Jenderal, Pdt. Dormen Pasaribu, M.Th didampingi Kepala Departemen Diakonia HKI, Pdt. Hugo De Groot Nababan, M.Th. Rombongan berkesempatan melihat langsung kondisi kehidupan masyarakat sekaligus mendengarkan berbagai pergumulan yang mereka hadapi dalam keseharian.
Potensi Alam yang Belum Tergarap Optimal
Secara geografis, Nagasaribu Onan Harbangan berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan bentang alam dataran tinggi yang sebagian besar masih didominasi hutan kemenyan. Potensi alam serta kekayaan masyarakat adat di wilayah ini dinilai sangat besar untuk dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan warga.
Namun, di tengah potensi tersebut, masyarakat masih menghadapi kendala serius berupa keterbatasan jaringan dan sinyal komunikasi. Persoalan ini mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi dampaknya cukup luas: terbatasnya akses terhadap informasi, pendidikan, komunikasi, pelayanan publik, peluang ekonomi, hingga perkembangan teknologi.
Sinergi Gereja dan Lembaga untuk Pemberdayaan Masyarakat
Menyadari bahwa kesejahteraan masyarakat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga bagian dari tugas panggilan gereja, warga Nagasaribu yang terdiri dari jemaat HKI, HKBP, dan GPI mengikuti kegiatan Pelatihan Media Digital dengan dukungan United Evangelical Mission (UEM).
Kegiatan ini melanjutkan pendampingan yang sebelumnya telah dilakukan oleh Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) terhadap masyarakat Nagasaribu, dengan tujuan membekali warga agar terus bertumbuh dan berkembang.
Tiga Pokok Penting dalam Pelatihan
Sejumlah pesan utama disampaikan dalam pelatihan tersebut:
Pertama, media digital harus menjadi sarana edukasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Teknologi tidak boleh hanya digunakan sebagai alat hiburan, melainkan harus menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan, membuka peluang ekonomi, memperkenalkan potensi desa, serta membangun komunikasi yang lebih luas dengan dunia luar.
Kedua, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi. Di tengah derasnya arus informasi digital, tidak semua yang diterima merupakan kebenaran. Masyarakat diharapkan mampu membedakan informasi yang membangun dan tidak membangun, serta menjauhkan diri dari hoaks, konten negatif, judi online, dan berbagai bentuk pinjaman online ilegal yang berpotensi menjerumuskan mereka ke dalam persoalan ekonomi dan sosial yang lebih berat.
Ketiga, kearifan lokal masyarakat setempat memegang peran penting dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh elemen masyarakat.
Harapan untuk Perhatian Pemerintah
Di luar isu keterbatasan jaringan, masyarakat Nagasaribu juga menghadapi pergumulan yang lebih besar, yakni bagaimana mengembangkan dan mengolah tanah serta potensi ekonomi yang mereka miliki, terutama pascapencabutan izin PT Toba Pulp Lestari (TPL). Pada prinsipnya, potensi tanah, hutan, pertanian, dan kekayaan alam masyarakat perlu dikelola secara bijaksana dan berkelanjutan agar benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
HKI berharap Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat memberikan perhatian lebih untuk mendorong pemberdayaan masyarakat adat Nagasaribu, sejalan dengan potensi alam dan kekayaan budaya yang mereka miliki.
Sumber: FB Pdt. Dormen Pasaribu, M.Th (Sekjend HKI) https://www.facebook.com/dormen.pasaribu?locale=id_ID
No comments yet.