Kepercayaan Masyarakat Batak Kuno
Di negeri asal India Timur laut, komunitas ini menganut agama alam, yaitu yang percaya kekuatan alam dan roh-roh alam. Iman kepercayaan menyatu dengan ilmu mereka yaitu dari alam, sehingga mereka berpatokan ke peredaran bulan dan bintang, dan ilmu mereka berasal dari kekuatan alam. Sebelum ilmu Pengetahuan yang sekarang ditemukan, maka masyarakat Batak Kuno sudah tahu menulis dengan aksara Batak, dan ilmu mereka adalah ilmu kedukunan.
Hidup manusia menyatu dengan alam. Di dalam semua kuasa menyatu. Kuasa di dalam alam dipengaruhi oleh roh manusia yang sudah meninggal. Karena hidup manusia menyatu dengan alam dan dengan kuasa yang ada di dalamnya, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan alam dan dengan kuasa yang ada di dalamnya, maka segala sesuatu yang berhubungan hidup manusia berpatokan kepada kuasa roh dan peyembahan kepada roh-roh. Demikian masyarakat Batak Kuno melakukan setiap kegiatan, baik adat/budaya, hubungan antar sesama, membangun kampong, mendirikan rumah, dll semua diatur atas kepercayaan kepada kuasa roh yang ada di dalam alam.
Kehidupan Masyarakat Batak Kuno
Masyarakat Batak Kuno (sekitar 3000 tahun yang lalu) yang membangun perkampungan di lereng gunung Pusuk Buhit dapat dikatakan adalah masyarakat agraris yang sejahtera. Mereka berdiam di wilayah yang sangat mendukung dengan air Danau Toba untuk mengairi persawahan dan menjadi sumber ikan, lereng-lereng bukit untuk berkebun, lingkungan hutan yang banyak pohon, hawa yang sejuk, hujan dan sinar matahari yang melimpah. Mereka hidup sejahtera dan berkembang biak dengan cepat. Kondisi itu mendorong mereka berkreasi sesuai dengan jamannya. Mereka merumuskan pusat kepercayaan mereka kepada allah. Allah itu merupakan komunitas khayangan yang dinamai dewa-Ta. Dewa tertinggi adalah Mulajadi Nabolon. Selanjutnya merumuskan doktrin-doktrin berhubungan dengan dewa tertinggi itu. Manusia hidup atau mati ada dan diatur oleh dewa tertinggi itu dan manusia harus tunduk dan menyembah kepadanya. Sebagai imam dari Mulajadi Nabolon di tengah masyarakat, diyakini bahwa para datulah yang dipilih olehnya menjadi imam-imamnya. Karena itu, hadatuon merupakan ilmu satu-satunya yang ada, yang berhubungan dengan manusia yang hidup, manusia yang mati malahan dengan para dewa.
Masyarakat Batak Kuno itu meyakini bahwa semua yang ada ini diadakan dan diatur oleh 3 dewa (Kita bandingkan dengan Trimurti oleh Hindu, dan Trinitas oleh Kristen). Dengan demikian, segala sesuatu diatur dengan 3 unsur. Angka 3 menjadi angka ilahi atau keramat. Ada 3 benua, ada 3 dalihan, ada 3 keturunan, dst.
No comments yet.