KHOTBAH SYUKURAN TAHUN BARU DAN PENCANANGAN TAHUN KELUARGA HKI 2016

Nilai-nilai kasih, persaudaraan, kekompakan, kehangatan adalah ciri gereja sepanjang zaman. Keluarga mengisyaratkan identitas, kedekatan, kebersamaan, hak dan tanggungjawab. Sejalan dengan itu maka setiap orang yang hidup bersama Allah sudah memiliki identitas yang jelas, jalan hidup yang terang dan warisan hidup yang besar. Modal utama untuk melangkah bukan harta dan kemampuan tetapi memastikan bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan sebagai  keluarga Allah.

Sejarah telah mencatat bahwa manusia sejak semula ingin otonom, ingin memisahkan diri dari Allah yang berdampak juga pada sifat dan tindakan yang cenderung liar, kejam dan berantakan. Makin sulit menemukan orang yang sepenuh hati mengasihi kecuali untuk menguasai. Hampir semua lini kehidupan dihinggapi virus perusak kebersamaan. Anehnya, orang lebih banyak terpikat oleh sigodang hata sian halak na burju roha. Paulus menasihatkan Timoteus bahwa pelayan-pelayan gereja harus menampakkan hidup teladan dalam rumahtangganya.

Gereja harus hadir mempraktekkan persekutuan yang penuh cinta kasih melalui keluarga. Keluarga sebagai ecclesia domestika (gereja rumahtangga), terutama karena 3 hal: pertama, keluarga merupakan pusat iman yang hidup, tempat pertama iman akan Kristus diwartakan dan sekolah petama tentang doa dan cinta kasih Kristen; gereja adalah sekolah cinta kasih sepanjang hayat. kedua, keluarga sebagai representasi dan pelaksanaan persekutuan iman, harapan dan kasih; keluarga menjadi gambaran yang hidup terhadap penampilan historis dan misteri gereja. Ketiga, keluarga adalah persekutuan pribadi, suatu tanda dan citra persekutuan Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus untuk saling menampakkan harmoni dengan penampakan yang berbeda. Dalam keluarga, perbedaan itu adalah harmoni yang harus diakui dan dihormati. Dalil mayoritas dan minoritas dalam pengambilan keputusan adalah sikap melenceng dari pengakuan hidup sebagai keluarga.

Bagikan Postingan ini: