Ulos Batak
Generasi Batak sekarang ini dan tentu untuk selanjutnya harus bangga dan apresiasi terhadap nenek moyangnya, bahwa banyak kreasi dan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh generasi pendahulu demi mendukung kehidupan dan kemanusiaan. 3 hal penting dalam hidup sehari-hari manusia, generasi pendahulu kita sudah menemukannya sesuai dengan kemampuan kepercayaan, kemampuan berpikir dan keadaan jaman pada masa itu. Ketiga hal itu adalah : Sandang, Pangan, dan Papan. Atau Papan, Pangan dan Sandang. Pengadaan semua ini tetap berpatokan kepada kepercayaan 3 dewata. Kita punya rumah Batak yang dinamai ruma dan sopo. Rumah dibangun dengan 3 tingkat, sawah diolah pada bulan ke – 3 dan bergantung kepada peredaran bintang dan bulan, kain dijadikan dengan 3 unsur warna, dll.
Ulos Batak terbuat dari 3 warna karena warna yang bermakna ilahi hanya ada 3 yaitu : Putih, Merah dan Hitam.. Ketiga warna ini mengandung makna religi. Putih melambangkan dewa, Merah melambangkan manusia dan kehidupan, Hitam melambangkan kematian. Warna inilah yang dibuat mewarnai rumah (gorga) dan mewarnai ulos. Entah di generasi ke berapa ulos ini diciptakan, tetapi penemuan itu sudah merupakan kemajuan besar bagi masyarakat Batak kala itu. Kita bandingkan, bahwa masih banyak suku bangsa di dunia ini di jaman sekarang ini yang belum dapat menemukan tradisi pakai baju. Sebelum ulos ditemukan, masyarakat Batak memakai sandang yang terbuat dari kulit kayu (sebatas bagi orang dewasa). Bagi kaum lelaki hany dibutuhkan untuk menutupi sekitar aurat, dan bagi kaum perempuan menutupi sekitar aurat dan dada.
Di jaman penemuan penutup badan ini, tentu etika dan peradaban masyarakat Batak semakin meningkat. Mereka sudah meninggalkan jaman “jahiliah” di mana manusia masih berperilaku seperti binatang. Mereka mulai memahami arti kemanusiaan dan arti gender yaitu laki-laki dan perempuan sama punya martabat dan hak yang harus dilindungi.
Sebelum ulos ditemukan, masyarakat Batak sudah mampu mengenyam daun atau pelepah untuk dijadikan penutup badan menggantikan kulit kayu yang tadi. Perkembangan selanjutnya, serat-serat daun, serat pelepah dan kemudian serat sisal dapat diolah dengan sangat sederhana untuk menjadi sandang. Kemudian ditemukan alat sangat sederhana untuk bertenun, dan kemudian ditemukan benang, dst.
Setelah benang dan alat tenun sederhana ditemukan (entah kapan), maka hasil tenunan inilah yang dinamai Ulos. Setelah penemuan ulos, maka sesuai tradisi dan religi Batak pada waktu itu, keberadaan ulos pun harus diatur secara religi, maka warna ulos hanya terdiri dari 3 warna tadi. Inilah Ulos Batak yang dipandangi oleh masyarakat pada jaman itu mengandung nilai-nilai keagamaan. Ulos Batak yang asli itu, dominan nuansa merah atau nuansa hitam. Lihatlah ulos ragi idup yang nuansa hitam, pinunsaan yang gabungan hitam dan putih atau merah dan putih.
Tidak ada ulos Batak pada awalnya itu bernuansa putih, sebab putih itu milik dewa. Hanya penutup kepala (takki-takki) yang dibuat warna putih. Inilah ulos Batak.
Makna Ulos Batak
Setelah ulos ditemukan, maka satu syarat mutlak untuk melaksanakan per adat an adalah ulos. Semua peserta peradatan harus memakai ulos. Itu berarti yang datang ke peradatan harus yang sudah dewasa. Demikian seterusnya besarnya peranan ulos dalam kehidupan dan adat Batak. Adat dilaksanakan sebagai perwujudan hubungan social yang diatur oleh dalihan na 3. Ketika anak perempuan menikah, bukan sawah atau kerbau yang diberikan oleh orangtuanya untuk memberangkatkan ke rumah mertuanya, tetapi ulos. Itu menandakan, pertama: putrinya sudah dewasa dengan memasuki pernikahan. Kedua, putrinya diberangkatkan dengan etika, harkat, martabat dan hak kemanusiaan penuh. Putrinya tidak dilepas dengan telanjang, tetapi bermartabat dan martabatnya harus dipertahankan dalam rumah tangga yang baru. Ketiga, dengan menerima ulos dari orangtuanya, serta merta dia sudah dapat mengikuti semua perhelatan ada di masyarakat Batak. Perkembangan selanjutnyalah baru ada ulos passamot.
Pandangan Gereja HKI Terhadap Ulos
Memahami sejarah Batak Kuno dan hingga penemuan ulos Batak, maka ulos Batak yang kita namai sekarang ini bukan lagi Ulos Batak sebagaimana awalnya yang selalu dihubungkan dengan dewata dan kepercayaan Batak Kuno. Secara iman Kristen di HKI, Ulos Batak tidak ada lagi, yang ada adalah Ulos bermotiv Batak. Sadum Angkola, Sadum Tarutung, Ragi Hotang Toba, dengan warna warni meriah, apalagi dengan benang-benang emasnya, itu jauh dari pemahaman aslinya Ulos Batak. Tetapi semua ulos dengan semua jenis yang ada sekarang ini, perlu dipertahankan dan dikembangkan tetap membawakan nama Batak. Masyarakat Batak harus melestarikan semua penemuan dahulu meskipun harus menghapus hal-hal yang mistik ritual, karena Ulos hari ini menjadi ciri khas ke Batakan. Hanya ulos dan Bahasa Batak yang dapat kita tunjukkan sebagai identitas dan ciri khas Batak di jaman ini, yang lainnya sudah terassimilasi.
Ulos Batak perlu dikembangkan dan dimasyarakatkan sampai tingkat internasional dengan mengangkat makna ulos sebagai lambang perilaku etis, harkat, martabat, kedewasaan, dan menjunjung tinggi hak gender. Sekali lagi, tidak ada lagi ulos Batak yang mistikis dan bermakna ilahi/dewa. Yang ada adalah ulos yang membawakan nama Batak. Karena itu ulos sekarang boleh saja didesai dengan latarbelakang Salib, Gereja, Danau Toba, gambar pengantin berdua, dll. Ulos perlu dikembangkan memerhatikan nilai adat, nilai ekonomi, nilai sosial kemasyarakatan dan nilai-nilai bermakna lainnya.
Sekarang perlu dipikirkan, dari kain apa ulos Batak ini yang pas, sehingga tetap mempunyai nilai ulos sebagai identitas dan ciri khas, tetapi dapat dipakai sebagai pakaian seharihari seperti batik, dan tentu dapat dicuci.
Demikian yang dapat disajikan. Terimakasih
No comments yet.