Pematangsiantar, Senin (26/05/25) — Kantor Pusat Huria Kristen Indonesia (HKI) menerima kunjungan 10 orang perwakilan dari Evangelical Lutheran Church in America (ELCA), mitra HKI yang telah bekerja sama sejak tahun 1970. Rombongan ini turut didampingi oleh tim dari Komite Nasional Lutheran World Federation (KN LWF). Kehadiran mereka disambut hangat oleh seluruh jajaran Kantor Pusat HKI. Pertemuan ini diawali dengan ibadah pembukaan, dilanjutkan dengan sesi perkenalan, pemaparan program HKI, dan diskusi bersama.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. Daniel Bonardo Pane, M.Th, Kepala Departemen Marturia HKI. Dalam renungannya yang diambil dari Kitab Ratapan 3:22–24, ia mengingatkan bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah gagal. Sekalipun umat Israel dibuang karena kesalahan dan dosanya, Tuhan tetap menyertai mereka. Dalam konteks saat ini, baik bangsa Indonesia, Amerika, maupun dunia sedang menghadapi tantangan seperti pemanasan global dan yang lainnya. Namun, dalam setiap pergumulan, Tuhan tetap hadir dan memberi harapan. Kasih setia-Nya tidak hanya hadir di masa lalu, tetapi juga kini dan selamanya.
Setelah ibadah, diskusi dimulai dengan pengantar dari Departemen Koinonia yang disampaikan oleh Kepala Departemen, Pdt. Salome Nainggolan, S.Th, MM. Beliau menjelaskan bahwa HKI aktif membina kaum muda dan kategorial lainnya melalui penerbitan buku pembinaan dan penyediaan ruang bagi aktivitas generasi muda.
Kemudian, rombongan ELCA memperkenalkan diri. Sebelum itu, Franklin Ishida, ELCA Program Director for Asia and the Pacific, menyampaikan pengantar bahwa kunjungan ini menjadi momen penting untuk berbagi pandangan dan harapan. Ia menegaskan bahwa HKI dan ELCA adalah rekan sepelayanan dalam Kristus, dan penting untuk saling berbagi pengalaman dalam menghadapi tantangan, khususnya dalam pelayanan kepada generasi muda. Ia juga mengucapkan terima kasih atas ibadah dan renungan yang inspiratif dari Pdt. Daniel Bonardo Pane.
Kunjungan ELCA ke Kantor Pusat HKI disambut baik oleh Ephorus HKI, Pdt. Firman Sibarani, M.Th, dan beliau memperkenalkan lebih jauh HKI melalui pemutaran video profil gereja. Ia kemudian memaparkan program strategis “Juma na Rumata” atau HKI Green Strategic Program, yang menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Ia menyoroti konflik lahan yang saat ini ramai diperbincangkan di Tanah Batak, mendorong agar jemaat tidak menjual tanah kepada perusahaan perusak lingkungan seperti PT. TPL, yang dinilai aktif melakukan deforestasi.
Diskusi dilanjutkan dengan tanggapan dari pihak ELCA. Franklin Ishida menangkap dua hal penting dari pemaparan HKI, yaitu tantangan membina iman anak-anak dan kaum muda, serta isu ekologi yang semakin mendesak. Ia menyebut gereja sedang menghadapi krisis kepercayaan dari masyarakat, serupa dengan krisis terhadap institusi lain seperti pemerintah dan perusahaan. Gereja harus menjawab tantangan ini dengan tetap melayani dan bertahan.
Beberapa perwakilan ELCA juga menekankan pentingnya tindakan nyata dalam menghadapi krisis ekologi. Salah satunya menyebutkan bahwa pemerintah Amerika saat ini tengah mendorong gerakan penanaman pohon melalui program “One Tree One Dollar”, yang bisa menjadi contoh untuk diterapkan di gereja-gereja.
Salah seorang tamu dari ELCA, Pdt. Daniel, menyoroti tantangan teologis yang dihadapi HKI dalam sejarahnya, dan menyampaikan apresiasinya atas komitmen HKI yang tidak hanya melayani umat manusia, tetapi juga peduli terhadap bumi. Ia bertanya bagaimana HKI menjaga keseimbangan ini agar mendapat dukungan penuh dari jemaat, karena banyak gereja yang hanya fokus pada pemberitaan firman dan mengabaikan aspek lainnya.
Sebelum pertanyaan ini dijawab, Maeda dari KN LWF menjelaskan bahwa ELCA mendukung sikap gereja-gereja di Tanah Batak terhadap TPL. Meskipun ELCA tidak dapat secara langsung menyerukan penutupan TPL, namun jika terbukti TPL terafiliasi dengan korporasi internasional, ELCA siap menyuarakan isu ini ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ephorus HKI kemudian menanggapi bahwa saat ini HKI menghadapi tantangan besar. Banyak jemaat, khususnya di daerah Toba, yang terancam kehilangan lahan mereka akibat diakuisisi oleh perusahaan perusak lingkungan. HKI tetap melaksanakan zending ke luar Tanah Batak, namun tetap fokus memperjuangkan hak tanah jemaat agar tidak tercerabut dari asal mereka.
Pdt. Daniel Bonardo Pane menambahkan bahwa HKI juga aktif dalam peningkatan perekonomian jemaat. Gereja tidak cukup hanya berkata “sabar” kepada warga jemaat, tapi juga harus membantu menguatkan iman dan ekonomi jemaat. Dalam hal ini, HKI melibatkan para pelatih dari luar, ahli ekonomi, dan koperasi Omni Bonum yang terbukti sangat membantu. HKI juga serius dalam pelayanan ekologi, mendorong jemaat menanam pohon, bunga, dan menjaga lingkungan, serta bekerja sama dengan pemerintah dalam mendukung dan melaksanakan program-program HKI.
Dalam pelayanan kepada generasi muda, HKI menyesuaikan liturgi agar lebih relevan, seperti menggunakan musik band dalam ibadah. Tujuannya agar generasi muda semakin semangat dalam beribadah dan berkontribusi di gereja.
Kunjungi juga kanal YouTube HKI untuk mengetahui informasi terbaru seputar pelayanan HKI.
Menanggapi semua pemaparan tersebut, delegasi ELCA menyampaikan terima kasih atas tanggapan yang sangat jelas dan menyeluruh dari HKI. Ishida kembali menegaskan bahwa gereja saat ini menghadapi tantangan spiritual, ekologis, dan ekonomi. Karena itu, gereja harus mampu menyeimbangkan pelayanan spiritual dan jasmani. Ke depan, ELCA dan HKI akan terus mempererat kerja sama, berbagi dokumen sinode, teologi, dan hasil studi untuk memperkaya pelayanan bersama. Ishida juga menyampaikan harapan agar suatu saat HKI dapat berkunjung ke ELCA.
Sebagai tanda kasih, HKI memberikan cenderamata berupa Ulos Batak yang di dalamnya tertulis Doa Bapa Kami dalam Bahasa Batak dan aksara Batak. Dari pertemuan ini, salah satu hal yang menjadi sorotan utama adalah pentingnya program ekologi, termasuk mendorong jemaat untuk aktif menanam pohon. Semoga pertemuan ini membawa dampak positif bagi pelayanan gereja ke depan. (tps)
No comments yet.